
Dema antara ada dan tiada
Salah satu mahasiswa jurusan Tafsir Hadis, Muhamad Bambang mengatakan bahwa keberadaan Dema sangatlah penting untuk menyalurkan potensi-potensi mahasiswa di bidang kemahasiswaan. “Penting untuk mengawal kampus, sebagai penyelenggara OPAK dan pesinergian kampus,” tambahnya.
Hal serupa dikatakan oleh Yosep Anwar Fauzan yang menginginkan Dema-U harus segera dibentuk. “Dema-U sangat penting bagi saya, karena alurnya jadi jelas untuk koordinasi gitu. Apalagi saya kan baru masuk UIN tidak mengenal sosok Dema-U,” ungkap mahasiswa Teknik Informatika semester II itu, Kamis (4/2)
Sedangkan Ikratul Akbar mengaku tidak pernah merasakan keberadaan Dema. Ketua HMJ Sosiologi itu tidak peduli dengan ada dan tidaknya Dema-U. Selama ia mengenyam pendidikan di UIN SGD Bandung keberadaan Dema-U tidak memberikan dampak yang pasti. “Dema sekarang mengalami kekosongan kepemimpinan kalau saya pribadi tidak peduli,” ujar mahasiswa semester 6 tersebut.
Selaras dengan pendapat Ikratul Akbar, Menurut Ketua Sema FDK Asep Kurniawan menilai kinerja Dema-U yang diibaratkan dan dibentuk hanya sebuah seremonial saja. Artinya tidak ada wujud serta kepemimpinan yang nyata. Asep belum merasakan betul sosok kepemimpinan Dema-U yang seharusnya merangkul aspirasi dari seluruh fakultas.
“Saya lihat kampus UIN SGD Bandung besar di UIN sendiri, yang saya inginkan seorang pemimpin utamanya di Dema-U itu harus bisa membuka link dengan universitas lain. sehingga UIN itu tidak di pandang sebelah mata karena yang saya rasakan ketika saya bergelut di kampus-kampus lain ternyata eksistensi UIN itu sangat di perhitungkan,” kata mahasiswa jurusan Manajemen Dakwah itu, Kamis (4/2).
Ketidakberadaan Dema-U pun berimbas pada sekretariat Dema-U di lantai satu Student Center yang kini digunakan oleh UKM Lembaga Seni Lukis dan Kaligrafi (LSLK). Suaka kemudian mencoba mengkonfirmasi Ketua Umum LSLK terkait penggunaan sekretariat tersebut.
Ketua LSLK, Hudri mendapat dorongan untuk menempati sekretariat Dema-U. Alasannya sekretariat tersebut tak pernah terisi selama kekosongan Dema-U, Hudri akan tetap mempertahankan sekretariat tersebut meski Dema-U kembali dibentuk.
“Sebelumnya dari awal tanpa ijin, tapi kalau disuruh ijin ya ijin aja. Kan dulunya kami di lantai atas (lantai dua, Red-) terus kami pindah kesini, yang diatas bekas LSLK dipakai oleh jurusan yang lain, kami butuh terang juga karena kerjaan kami harus dalam posisi terang,” jelasnya, Jumat (5/2).
Saat disinggung terkait tempat yang dipakai oleh LSLK adalah tempat Dema-U, Muhtar Solihin tampak tenang. Bagi dia itu semua menyoal teknis tempat saja, “Ya nanti kita coba lagi alokasikan, coba kita bereskan. Itukan soal teknis. Nanti kita selesaikan kalau perlu dicari lagi tempat untuk Dema-U,” ungkapnya dengan santai.
Mengenai Keberadaan Dema-U dan Kinerjanya ada yang sepenuhnya merasakan dan ada yang tidak. Muhtar pun menengahi semua pernyataan tersebut. Sebagai kemahasiswaan yang bertanggung jawab semua yang berkaitan dengan mahasiswa, pihaknya akan segera mengintruksikan pemilihan langsung Sema-U dan Dema-U setelah POKI 2013 selesai di SK-kan. “Saya tidak mau ada kengaretan lagi, panitia OPAK juga kan dibentuk Agustus, saya tegaskan gak mau molor lagi, pokoknya Maret harus selesai mau tidak mau,” tegasnya.
Menanggapi hal itu, Rektor UIN SGD Bandung Mahmud pun angkat bicara. Untuk saat ini, ia belum bisa mengesahkan POKI 2013 tersebut, dikarenakan masih dalam penggodogan oleh Warek III. “Kalau sudah beres dan sudah ada di meja kerja saya maka akan saya tandatangani, jangankan siang malam pun akan ditandatangani,” ungkapnya (4/2).
Mahmud menginginkan hasil yang bagus dan tidak terburu-buru agar Dema-U berdiri dalam keadaan aman tentram.“Jangan pakai pola mengantung lah, jadi lambat. Karena kita disini bukan menunda dibentuknya Dema-U namun kita memakai asas keberadilan, semuanya dilibatkan, Yuk mahasiswa ngomong biar kepentingan kita bersama juga bisa secepatnya di SK-kan,” pungkas Mahmud.
(Kru liput : Edi Prasetyo, Ridwan Alawi)
*Tulisan ini juga dimuat di rubrik Laporan Utama Tabloid Suaka edisi Februari-Maret 2016

