Kang Hawe : Komunikasi Sebagai Jalan Kebudayaan

Date:

- Advertisement -
Wawan Setiawan (Kang Hawe) menjelaskan mengenai pergeseran komunikasi dilihat dari sudut pandang budaya, di Auditorium Institusi Francais Indonesia, Rabu, (7/9/2016). Dalam diskusinya, Hawe juga mengatakan bahwa menyikapi segala tindakan pada masa digital perlu adanya filter dalam setiap individu. (Ayu Pratiwi Ulfah / Kontributor)
Wawan Setiawan (Kang Hawe) menjelaskan mengenai pergeseran komunikasi dilihat dari sudut pandang budaya, di Auditorium Institusi Francais Indonesia, Rabu, (7/9/2016). Dalam diskusinya, Hawe juga mengatakan bahwa menyikapi segala tindakan pada masa digital perlu adanya filter dalam setiap individu. (Ayu Pratiwi Ulfah / Kontributor)

SUAKAONLINE.COM – Melihat berbagai fenomena yang terjadi disekeliling masyarakat saat ini, muncul berbagai gejala dari efek komunikasi. Wawan Setiawan atau yang akrab disapa kang Hawe, menekankan terdapat dua gejala yang cenderung mengubah pola pikir serta budaya seseorang, adalah gejala umum kemanusiaan yang timbul dari dalam diri seseorang dan gejala umum komunikasi dimana perkembangan digitalisasi yang pesat, hanya kembali bagaimana pemanfaatannya. “Komunikasi bisa dikatakan sebagai jalan kebudayaan” kata Hawe dalam Seminar Reposisi Budaya Komunikasi di Era Digital di Auditorium Institusi Francais Indonesia, Rabu, (7/9/2016).

Hawe menjelaskan, kehidupan manusia saat ini, terbagi ke dalam dua masa, yakni pra digital dan digital. Pada masa pra digital manusia cenderung nyaman dengan peradaban tertulis yang bergerak ingin menuruti logika rangkaian kata. Kenyataannya pada saat ini, manusia memasuki masa digital, dimana ponsel dan sinyal sudah menjadi kebutuhan pokok sehari-hari. Hal-hal yang berifat fundamental mengenai era digital tetap membutuhkan hal yang nyata. “Logikanya, kita lapar tentu makan, bukan melihat gambar makanan,” ujar Hawe.

Peradaban pra digital yang dirintis sejak tahu 50-an hingga kini, menandakan bahwa evolusi teknologi terus berlanjut. Tujuannya, para peneliti kedepannya ingin mengontrol kompleksitas dunia manusia, atau saat ini kita kenal dengan net-working/sharing, yang mana mayoritas manusia memanfaatkan untuk menentukan eksistensi. Sebenarnya, sistem digital ditentukan oleh dua hal, terhubung dan terkirim, apa yang seharusnya terhubung dan apa yang sepatutnya dikirim. Oleh karena itu, Hawe juga mengatakan bahwa semua orang saat ini bisa menjadi media, hanya saja tidak semua orang menyadari kekuatannya.

Hawe juga menambahkan, digitalisasi membuat adanya penumpukan, seperti halnya chatting. Tanpa disadari hal tersebut sama saja dengan pertukaran tulisan kedalam bahasa lisan, begitu pun sebaliknya. Munculah dari berbagai hal yang dapat dilakukan dengan pesan singkat, yang ada tumbuh masyarakat yang terburu-buru. Meskipun ada sebagian orang merindukan dalam satu waktu hidup tanpa gadget dan memang sulit kenyatannya, dari sudut pandang lain paling tidak perlunya digitalisasi menjadikan seseorang lebih mudah dalam menyampaikan informasi,

Tak hanya Wawan Setiawan, acara tersebut juga dihadiri oleh pakar semiotika dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yasraf Amir Piliang dan Peneliti Komunikasi Organisasi, Ayub Ilfiandy Imran. Seminar yang dihadiri oleh dosen dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.

Reporter : Awallina Ilmiakhanza

Redaktur : Edi Prasetyo

Share post:

Popular

Berita Terkait

Diskusi Impunitas Pelanggaran HAM dalam Merawat Ingatan September Hitam

SUAKAONLINE.COM – Pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan kekerasan...

Desak Evaluasi Program Prabowo-Gibran, Mahasiswa Gaungkan “Merebut Kemerdekaan”

SUAKAONLINE.COM – Serikat Mahasiswa Jawa Barat Bergerak (SMJBB) menggelar...

Sidang Kedua Tahanan Aksi May Day 2026, Saksi Tak Ketahui Pelaku Pembakaran Pos Polisi

SUAKAONLINE.COM — Sidang kedua sembilan tahanan aksi May Day...

Sidang Perdana Sepuluh Terdakwa Aksi May Day 2026 Digelar, JPU Uraikan Dakwaan dan Ancaman Pidana Tujuh Tahun

SUAKAONLINE.COM — Sidang perdana sepuluh tahanan aksi May Day...