Kebudayaan, Sebuah Hakikat dari Manusia

Date:

- Advertisement -

Oleh Hafidz Azhar*

Konon katanya, manusia adalah makhluk sosial. Melihat dari aspek kehidupan yang selalu dijalaninya. Hal ini merupakan anggapan dari aktivitas manusia itu sendiri. Karena mau tidak mau, manusia berhadapan dengan makhluk lainnya, dengan alam lainnya pula. Dengan demikian, manusia sebagai mahkluk sosial bisa kita kaitkan dengan ruang lingkup yang ada di sekitarnya. Adanya tempat tinggal, manusia bisa dipengaruhi dengan keadaan tempat tinggalnya sendiri. Adanya kendaraan, adanya pakaian, dan adanya alat-alat lainnya merupakan hasil dari proses budaya manusia itu sendiri.

Melihat hal itu, bahwa manusia memiliki budaya yang ditopang dengan fakta sosial. Dari situ kebiasaan-kebiasaan muncul ketika manusia berproses. Proses mengenai hal apapun itu. Karena budaya merupakan hasil dari kebiasaan-kebiasaan manusia. Dan dengan ini menurut orang lainnya bahwa kebiasaan itu sering kita sebut dengan budaya atau “kebudayaan”. Entahlah, seperti apa bentuknya kebudayaan itu. Seperti apa pula kebudayaan itu dibentuk. Yang jelas, seperti saya tulis di atas, bahwa setiap proses manusia ialah budaya. Setiap kebiasaan manusia bisa disebut budaya. Hal-hal transenden pada spiritualitas kita, itu juga merupakan budaya. Lantas, apa itu kebudayaan?

Menurut perkembangannya, kini kebudayaan dipandang sebagai sesuatu yang lebih dinamis. Bukan sesuatu yang kaku atau statis. Dulu, kata “KEBUDAYAAN’ diartikan sebagai sebuah kata benda, kini lebih sebagai sebuah kata kerja. Kebudayaan bukan lagi pertama-tama sebuah koleksi kebudayaan. Seperti misalnya karya-karya kesenian, buku-buku, alat-alat, apalagi jumlah museum, gedung-gedung universitas, ruang-runag konferensi, kantor-kantor pajak dan sebagainya. Bukan. Kini kebudayaan dihubungkan dengan kegiatan manusia membuat alat-alat dan senjata-senjata. Dengan tata upacara tari-tarian dan mantera-mantera yang menentramkan roh-roh jahat. Dengan cara anak-anak dididik dan anak-anak yang cacat mental diperlakukan, dengan aneka pola kelakuan yang bertautan dengan erotic, perburuan, siding-sidang parlemen, resepsi perkawinan dan sebagainya.

Memang dalam pengertian kebudayaan juga termasuk tradisi, dan “tradisi” dapat diterjemahkan dengan pewarisan atau penerusan norma-norma, adat-istiadat, kaidah-kaidah, harta-harta. Tetapi tradisi tersebut bukanlah sesuatu yang tak dapat diubah; tradisi justru diperpaduka dengan aneka ragam perbuatan manusia dan diangkat dalam keseluruhannya. Manusialah yang membuat sesuatu dengan tradisi itu: ia menerimanya, menolaknya atau mengubahnya. Itulah sebabnya mengapa kebudayaan merupakan cerita tentang perubahan-perubahan: riwayat manusia yang selalu memberi wujud baru kepada pola-pola kebudayaan yang sudah ada.

Dengan demikian memahami kebudayaan berarti memahami hakikat manusia. Karena pada kebudayaan terdapat banyak nilai-nilai pola-pola tingkah laku yang ada pada manusia itu sendiri. Seperti yang telah diterangkan di atas. Bahwa aspek-aspek kehidupan manusia meliputi hal-ihwal yang berkenaan dengan budaya. Fakta sosial, sebagai penopang kebudayaan. Oleh karena itu hakikat kebudayaan berarti hakikat manusia. Karena kebudayaan merupakan kebiasaan-kebiasaan yang diciptkan oleh manusia. Mudah-mudahan dengan tulisan yang sederhana ini kita bisa mendiskusikan piranti-piranti kebudayaan yang telah ada di depan mata. Sampai jumpa, selamat siang, selamat ,malam, selamat sore, selamat pagi. salam pencerahan, salam kegelapan, salam dangdut, dan salam leuleupeutan. Hulukuya, wa salamu alaikum warah matulahhi wabarakatuh.

[1] Disajikan dalam diskusi mingguan Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman.

[2] Mahasiswa yang tanpa dosa dan tanpa daksa

[3] Buku “Strategi Kebudayaan” prof. Van Verseun.

*Penulis adalah mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Arab UIN Sunan Gunung Djati Bandung, aktif di Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman (LPIK).

Share post:

Popular

Berita Terkait

Ketika Kritik Dibalas Umpatan, Menyoal Etika Komunikasi Presiden Prabowo

Oleh: Adhiim Hafiidh* SUAKAONLINE.COM – Lisan seorang kepala negara bukan...

Surat Pembaca: Ketika Atlet Dibutuhkan untuk Bertanding, Siapa yang Bertanggung Jawab Saat Mereka Cedera?

Oleh: Meyta Azhar Mariska* Prestasi olahraga sering menjadi kebanggaan sebuah...

Takut Bicara di Negeri Sendiri

“Dalam ketidakadilan, diam adalah bentuk persetujuan terhadap penindasan.” Sebuah...

Warisan Perilaku Pejabat Kampus pada Pejabat Mahasiswa

Oleh: Rafi Taufiqurrahman* SUAKAONLINE.COM- Sekelompok orang berdiri gagah di jalanan,...