" > 3 mnt membaca"> Kekosongan Sema-U Sebabkan Sulitnya Koordinasi dengan Birokrasi Kampus - Suaka Online
Kampusiana

Kekosongan Sema-U Sebabkan Sulitnya Koordinasi dengan Birokrasi Kampus3 mnt membaca

Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (Sema PTKIN) Nasional menggelar Rapat Koordinasi terkait Uang Kuliah Tunggal (UKT) via Zoom, Kamis, (11/6/2020).(Anisa Nurfauziah/Suaka)

SUAKAONLINE.COM- Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (Sema PTKIN) Nasional menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) terkait Uang Kuliah Tunggal (UKT) mahasiswa PTKIN via Zoom , Kamis, (11/6/2020). Rakor yang dihadiri oleh Ketua Sema PTKIN se-Indonesia ini bertujuan untuk merumuskan gerakan aksi yang akan kembali diadakan secara virtual, dan memilih koordinator aksi pusat guna memudahkan alur koordinasi. Namun, ketidakhadiran Sema-U UIN SGD Bandung membuat sulitnya koordinasi yang terhubung langsung ke Forum Sema PTKIN. Sehingga rapat tersebut hanya dihadiri oleh Sema-F Sains dan Teknologi dan Sema-F Dakwah dan Komunikasi.

Menurut Ketua Sema-F Dakwah dan Komunikasi, Umar Taufiq Ash Shiddiqi menyampaikan bahwa kekosongan jajaran Sema-U menyebabkan sulitnya menjalin koordinasi dan menjadi hambatan tersendiri, terlebih untuk berkoordinasi dengan jajaran birokrat kampus pun menjadi sulit.”Seperti kemarin, tuntutan yang dilayangkan oleh Dema-F di lingkup kampus mengenai isu UKT dan akademik kepada birokrat itu selalu mentok dan tidak ada orang yang menindaklanjuti secara langsung terkait tuntutan tersebut,” paparnya saat dihubungi via WhatsApp, Jumat, (12/6/2020).

Lebih lanjut, Umar menyampaikan komunikasi antara Sema-F dan Sema-U pada periode sekarang dirasa kurang maksimal. Terlebih pada saat pembentukan Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM) dan Badan Pengawas Pemilu Mahasiswa (BawasluM) serta perencanaan timeline Musyawarah Mahasiswa (Musma), Sema-U tidak berkoordinasi secara langsung kepada jajaran Sema-F. Jika melihat Konstitusi Keluarga Mahasiswa (KKM), yang berhak menjadi BawasluM tetap dari Sema-F yang didelegasikan oleh Dema-F. Hanya saja, pada periode sekarang sangat kurang koordinasi yang dijalin antara Sema-U dan Sema-F.

Senada dengan Umar, Ketua Sema-F Sains dan Teknologi, Fadhilah Rama menyampaikan absennya Sema-U saat ini tentunya memberikan efek dominan kepada mahasiswa. Terlebih pada saat ini banyaknya tuntutan yang ditujukan kepada kampus, dan hal tersebut menyebabkan kerugian pada mahasiswa dalam pengawalan aspirasi. “Tentu kesulitan, apalagi beberapa kabar di tingkat Nasional yang seharusnya menjadi jalur koordinasi untuk menyelaraskan gerakan dengan kampus-kampus yang lain,”ujarnya.

Baca juga:  Perkuat Solidaritas Antar Persma, FKPMB Gelar Pendidikan Jurnalistik 2020

Kemudian pada saat ini, Forum Sema-F sedang berupaya untuk mempersiapkan Musyawarah Tingkat Tinggi Universitas (Musti-U), karena pada Mei lalu SK Sema-U telah habis. Wakil Dekan III pun telah memberikan klausul kepada Sema-F untuk merancang pembentukannya. Rama pun berharap semoga institusi kampus dalam hal ini lebih bisa memperhatikan kondisi mahasiswa atau minimal rektor bersedia turun ke bawah untuk sekedar menyapa dan mendengarkan keluh kesah mahasiswanya.

Suaka pun mencoba mengubungi Ketua Sema-U, Umar Ali Muharom, namun hingga kini tidak mendapatkan jawaban. Suaka kembali menghubungi jajaran Sema-U bidang Humas dan Advokasi, Hendi Supriatna untuk menanyakan keberadaan Ketua Sema-U. “Menghilang tanpa kabar”, balasan pesan yang diterima Suaka via WhatsApp. Namun, Sekretaris Jendral Sema-U, Jamiludin menyampaikan menyoal masalah UKT, Sema-U jauh dari sebelum #GunungDjatiMenggugat sudah berkomunikasi dengan pihak birokrasi. Namun tanggapan dari birokrasi tidak menuai titik temu, karena menunggu regulasi dari Kemenag.

Sementara itu, pada saat diskusi berlangsung, Ketua Sema-U IAIN Samarinda, Rahmi menyampaikan bahwa dirinya mendapat informasi ketika Kemenag mengadakan Rakor melalui Zoom, yang mana aplikasi tersebut tidak dikunci. “Jadi pada saat Rakor, ada PLT Sekjen Kemenag yang bilang, jadi yang punya power itu rektor, karena KMA itu bisa saja diatur,”ujarnya. Kemudian Rahmi pun menyimpulkan bahwa rektor yang tidak mau terpotong kembali atas dampak COVID-19, sehingga dengan adanya hal tersebut mahasiswa PTKIN dapat mendesak rektor nya masing-masing.

Rahmi pun menanggapi terkait kekosongan Sema-U UIN SGD Bandung. Dengan adanya kekosongan tersebut maka dirasa perlu untuk menjaga komunikasi dan gencar mencari informasi. Koordinator Pusat Sema PTKIN, Aghisna Bidikrikal Hasan pun menyarankan kekosongan Sema-U maupun Dema-U yang ada di UIN SGD Bandung, untuk segera diselesaikan secara internal dengan membentuk aliansi dari Sema-F maupun Dema-F. Agar banyaknya keluhan dari asprasi mahasiswa kepada birokrat dapat tersampaikan.

Baca juga:  Panitia Ad Hoc Gelar Sosialisasi Jelang Pembentukan Ormawa-U

Reporter: Anisa Nurfauziah

Redaktur: Hasna Fajriah

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas