- Advertisement -
Oleh Nirra Cahaya Pertama*
Waktu yang semakin mengkerucut dibahumu
Tak jua kau tepiskan untuk segera berlalu
Angin,
seolah menampar debu
menyibakkan perih
dan melengking saat menyentuh daun telinga
Kini,
seperti detik sebelumnya.
Kau masih bisu.
Berdiri tegap bersama keringat pilu dikeningmu.
*Penullis adalah Mahasiswi Ilmu Komunikasi Jurusan Humas Fakultas Dakwah dan Komunikasi Aktif di LPM Suaka

