
SUAKAONLINE.COM – Sebanyak 7.503 mahasiswa baru mengikuti Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) UIN SGD Bandung yang digelar di lima titik Kampus 1, yakni Aula Gedung Anwar Musaddad, Tugu Kujang, Aula Gedung Abjan Sulaiman dan tempat parkir sampingnya, serta Aula Gedung E pada Selasa (25/8/2026). Banyaknya peserta yang tersebar di sejumlah lokasi justru memunculkan keluhan. Pelaksanaan PBAK dinilai tidak terkondisikan, tidak kondusif, hingga tidak berjalan maksimal.
Hal tersebut disampaikan oleh mahasiswa baru jurusan Manajemen Haji & Umroh (MHU), Muhammad Uwais Al-Qarni. Dirinya mengatakan bahwa ia sangat tak menyangka jumlah mahasiswa yang hadir sangat banyak dari yang ia perkirakan. Selain itu, Uwais juga menilai situasi acara tidak efektif dan tidak kondusif bagi mahasiswa baru yang berada di luar Gedung Anwar, apalagi setelah siang.
“Tadi aja kirain kan PBAK ini acara formal. Ternyata habis dzuhur nya lumayan agak free. Saya kira kayak nanti ada hukuman tertentu atau ada apa gitu. Ternyata dzuhurnya bener-bener free banget. saya kira bakal emang seketat itu. Tapi ternyata dari pagi pun kan emang overload ya. Jadi banyak yang di luar, banyak yang di Indomaret juga. Banyak yang di Masjid,” ungkapnya saat diwawancarai Suaka pada Selasa (25/8/10).
Ia berharap panitia dapat lebih ketat dalam melaksanakan kegiatan PBAK. Menurutnya, meskipun jumlah peserta yang banyak, seharusnya ada regulasi yang dapat memaksimalkan kehadiran seluruh peserta dalam kegiatan tersebut. “Harapannya mungkin lebih diketatkan aja, ya. Biar meskipun overload, jadi kayak maksimal semuanya hadir. Nggak ada yang kayak tadi pagi, ada yang di Indomaret, di masjid, segala macam. Biar maksimal aja gitu semuanya ikut acara sampai habis,” harap Uwais.
Senada dengannya, mahasiswa baru dari jurusan Sastra Inggris, M. Habib Al Qahhar, mengatakan bahwa salah satu hal yang dikeluhkan ialah sarana dan prasarana kampus yang kurang memadai selama pelaksanaan PBAK. “Menurut saya juga kenapa bisa gak kondusif dan dibiarin aja tuh karena dari fasilitas kampusnya kurang. Terus juga rundown yang di share panitia tuh kurang jelas gitu, jadi banyak banget maba yang keliaran,” tutur Habib, Rabu (26/8/2026).
Sependapat dengan para mahasiswa baru, salah satu Panitia PBAK 2026, Fajar Ibrahim, mengonfirmasi bahwa memang masih terdapat kurangnya perhatian dari panitia maupun pengurus jurusan masing-masing sehingga mahasiswa tersebar kemana-mana. Ia mengatakan, masalah ini perlu dibenahi secara sistematis, salah satunya melalui koordinasi yang lebih maksimal dengan HMJ.
Pasalnya, stan yang diisi oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) maupun tradisi arak-arakan seharusnya baru diramaikan setelah acara utama selesai. Walaupun sebelumnya pihak panitia telah berkoordinasi dengan HMJ, masih saja ada pihak yang dinilai acuh tak acuh.
“Makanya, kita butuh pihak-pihak HMJ untuk membantu menertibkan mahasiswa-mahasiswanya. Karena saya lihat, di beberapa HMJ mereka kayak acuh tak acuh gitu, Kak. Kayak, ‘Yaudah, kamu di stan aja, ramein stan, kamu nggak usah ke sana.’ Dan juga ada beberapa jurusan yang, ‘Yaudah, kamu ramein PBAK-nya, nanti setelah PBAK baru ke stan,’ gitu. Jadi, kenapa bisa mencar? Karena ada setiap orang yang memiliki mindset yang berbeda,” ujarnya saat dimintai keterangan,
Fajar juga menjelaskan, selain faktor dari HMJ dan mahasiswa baru, panitia PBAK juga harus melakukan pembenahan secara struktural. “Panitia sudah terbentuk, ya cuma ada beberapa orang yang tidak kerja, mulai dari anggota-anggotanya kita cari anggota-anggota yang kompeten, anggota-anggota yang emang sekiranya cukup atau layak untuk menjadi panitia,” ungkap Fajar.
Tak hanya itu, ia pun mengatakan bahwa PBAK idealnya diadakan dalam satu titik lokasi. Menurutnya, acara ini akan lebih mudah diatur dan lebih kondusif dibandingkan jika dibagi ke banyak titik lokasi seperti saat ini. Pandangan tersebut turut dibenarkan oleh Presiden Mahasiswa UIN SGD Bandung, Muhammad Abdurrahman. Abdu juga mengatakan bahwa pelaksanaan PBAK di satu titik masih menjadi persoalan yang harus dibenahi dan masih menjadi pekerjaan rumah bagi kampus, mengingat UIN SGD Bandung hingga saat ini belum memiliki auditorium yang mampu menampung seluruh mahasiswa baru.
“Maka dari itu, ini sudah menjadi hal yang sepatutnya diatensikan oleh pihak birokrasi kampus. Kalau tidak ingin kejadian seperti ini terus berulang, kami dari Dema U akan bertindak tegas kepada birokrasi untuk membangun auditorium yang memang seharusnya bisa mewadahi seluruh mahasiswa baru agar berada di satu tempat,” tutupnya.
Reporter: Rifki Fadillah/Magang dan Meyliana Sofiyanti/Magang
Redaktur: Zahra Zakkiyah/Suaka

