Oleh Miko Alonso
di bawah perut langit
tetesan hujan menyertai laju
langkahmu yang tergegapgegap.
kain merumbai menemani pahamu
yang terbalut oleh denting klausaku:
yang belum sempat aku kirim pada
titik camar yang terbang.
di atas awan.
aku mainkan melodi percakapan
bersama beberapa isyarat manusia–
yang tak berhenti memungut
risau di setiap detik
panahpanah menyusup
nistaku. dan hujan memainkan matanya
setelah lama ia berteduh di seikat embun.
kapan kau tahu pee?
aku ingin mengairi ketergersangan ibamu.
bolehkah aku semakin meyakini
sebabsebab kenapa aku menitip
mantra ini pada malam yang jatuh?
aku ingin memburu sisa hujanmu
*Penulis adalah mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris

