" > 2 mnt membaca"> Memahami Skizofrenia Lewat Pertunjukan Tari - Suaka Online
Lingkungan dan Kesehatan

Memahami Skizofrenia Lewat Pertunjukan Tari2 mnt membaca

Seorang penari tengah melakukan pertunjukan tari tentang penyakit skizorenia dalam Dance Theatre Skizofrenia yang digelar di Gedung Indonesia Menggugat Kota Bandung, Sabtu (30/7/2016). Berbeda dengan pertunjukan pada umumnya, pertunjukan ini tidak ada batasan antara penari dan penonton. Gerak dan musik yang dihadirkan pun dikonsep untuk memunculkan tekanan bagi setiap orang yang ada di dalam ruang pertunjukan. (SUAKA / Nuru Fitry)

Para penari tengah melakukan pertunjukan tari tentang penyakit skizorenia dalam Dance Theatre Skizofrenia yang digelar di Gedung Indonesia Menggugat Kota Bandung, Sabtu (30/7/2016). Berbeda dengan pertunjukan pada umumnya, pertunjukan ini tidak ada batasan antara penari dan penonton. Gerak dan musik yang dihadirkan pun dikonsep untuk memunculkan tekanan bagi setiap orang yang ada di dalam ruang pertunjukan. (SUAKA / Nuru Fitry)

SUAKAONLINE.COM, Bandung – Skizofrenia merupakan gangguan mental yang ditandai dengan gangguan proses berpikir dan tanggapan emosi yang lemah. Biasanya orang menyebut penderita skizofrenia dengan sebutan orang gila.  Berangkat dari kegelisahannya, Peraih Program Hibah Seni Keliling Yayasan Kelola 2016, Santi Pratiwi mengubah skizorenia menjadi sebuah karya seni visualisasi sebuah gangguan mental di Gedung Indonesia Menggugat Kota Bandung, Sabtu (30/7/2016).

Dengan bekal hasil penelitian selama 2 tahun di Rumah Sakit Jiwa Menur, Surabaya, ia membuat karya “Dance Theatre Skizofrenia”. Dengan harapan orang-orang dapat memahami penderita skizofrenia dan mengubah cara pandang terhadap mereka.

Terinspirasi dari pamannya dan penderita skizofrenia di sekitarnya, Santi mencoba mengungkapkan sisi lain dari mereka. “Mereka tidak sebodoh yang kita lihat, tetapi mungkin kita yang tidak berusaha memahami mereka,” ujar Santi.

Dengan konsep pertunjukan 4 dimensi, ia mengemas pertunjukan ini dengan mengubah setting ruang menjadi black box. Penonton dapat bebas mengambil ruang geraknya. Berbeda dengan pertunjukan pada umumnya, pertunjukan ini tidak ada batasan antara penari dan penonton. Gerak dan musik yang dihadirkan pun dikonsep untuk memunculkan tekanan bagi setiap orang yang ada di dalam ruang pertunjukan.

Santi ingin membawa penonton merasakan perbedaan secara psikologis ketika berada di dalam dan luar ruang pertunjukan. Ia membuat penonton merasa tidak berada di dunianya.“Dengan konsep ini semoga penonton dapat merasakan underpreasure-nya menjadi seorang skizofrenia, semoga tercapai,” tambah wanita asal Surabaya tersebut. Jumlah penonton yang berada dalam ruangan pun ia batasi agar tetap ada ruang gerak bagi penari dan penonton namun tetap terasa tekanannya.

Baca juga:  UIN Bandung Laksanakan PBAK 2020 Daring

Sebelumnya, Santi dan 6 penarinya diberikan terapi musik dengan tekanan tertentu yang ternyata dapat memicu skizofrenia. Menurutnya, para penari juga merasakan tekanan ketika persiapan, bahkan saat  pertunjukan telah selesai. Ia mengatakan, pertunjukan ini memang perjalanan yang gila.  “Terkadang merasa linglung dan tertekan. Walau sudah selesai, ternyata saya yang belum selesai,” ujar Santi.

Koordinator Gedung Indonesia Menggugat, Nunung Nurhayati merasa takjub dengan pertunjukan ini. Ia berharap, dengan pertunjukan ini, penonton dapat mengubah pola pikir terhdap skizofrenia. “Ini pertunjukan dengan isu yang sangat terabaikan. Walau kita tidak menolong langsung, minimal kita tidak berpikiran negatif dan menyisihkan mereka lebih jauh. Karena mereka bagian dari kita,” ujar Nunung.

Reporter : Nuru Fitry

Redaktur : Edi Prasetyo

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas