Bocah itu berumur sekitar sebelas tahun. Tubuhnya pendek dengan kulit dekil dan legam dibakar terik matahari tiap hari. Ia berlari-lari kecil menuju kawasan belakang pasar Ciroyom, melewati genangan air, tanah becek serta tumpukan sampah busuk lengkap dengan aroma khas yang menusuk. Kaki mungilnya kotor berlumpur. Tapi ia tak peduli, ia telah terbiasa.
Namanya Yudha tapi teman-temannya biasa memanggilnya Kesper. Ia merupakan bagian dari sekitar lima puluh anak lain di kawasan Ciroyom yang menjalani hidup di jalanan. Gerimis sore itu menemani langkahnya. Ternyata teman-temannya telah sampai lebih dulu di Rumah Belajar (Rubel) Ciroyom. Di sanalah biasanya anak-anak jalanan berkumpul, setelah seharian mengamen dan meminta-minta.
Setelah sampai, Kesper mencari tempat berteduh di teras bangunan yang berderet memanjang. Duduk manis di pojokan memisahkan diri dari yang lainnya. Perlahan, dua bola matanya mulai memerah. Sambil memandangi gerimis yang tak kunjung reda, tangan kirinya bersembunyi di balik kaus coklat kumal yang telah ia pakai berhari-hari.
Sekilas tak ada yang aneh. Yudha mungkin kelelahan setelah seharian mengamen di terminal dan stasiun. Tapi jika diperhatikan lebih dekat, akan tercium aroma lem merek aibon – lem yang lazim dipakai untuk perekat sepatu– bersaing dengan aroma khas pasar Ciroyom yang menggelitik hidung. Ternyata Kesper menyembunyikan sekaleng kecil lem digenggaman tangan dibalik kausnya.
Ngelem. Begitulah mereka menyebut kebiasaan menghirup aroma racun lem tiap hari. Sejak anak-anak itu hidup di jalanan, terbawa situasi lingkungan, sejak itu pula mereka mulai kebiasaan ngelem ini. Dengan uang dua ribu rupiah saja mereka bisa mendapatkan sekaleng kecil lem. Alasan mereka rata-rata sama.
“Enak,” kata Nur, salah satu anak jalanan yang saat ini menginjak umur tujuh belas tahun. Bahkan ada yang sudah terbiasa memakannya sampai habis. Mereka memang kerap diingatkan oleh orang-orang sekitar yang peduli atau oleh para relawan Rubel. Mereka tahu itu, tapi karena sudah terlanjur ketagihan, anak-anak itu tetap melakukannya.
Enung, pemilik warung kecil yang kerap digunakan oleh anak jalanan bermalam, turut mengungkapkan kekhawatirannya. “Emang nggak wajar, Neng. Tapi mau bagaimana lagi, barudak teh susah dilarang. Pernah ibu nggak nyediain lem di warung, maksudnya biar anak-anak gak beli dan ngelem. Eh, mereka malah nyari di warung lain,”
Kebiasaan buruk anak-anak jalanan ini sangat berbahaya. Fenol yang terkandung dalam lem tersebut termasuk zat psikotropika. Ia berasal dari benzana, yaitu cairan pelarut dan perekat lem yang digunakan dalam pembuatan sepatu. Zat ini mengakibatkan efek ketergantungan pada orang yang aktif menghirupnya sengaja atau tidak. Fenol terserap ke dalam tubuh salah satunya melalui hidung. Zat ini kemudian masuk ke dalam inti sel dan mengubah struktur sel itu, yang mengakibatkan timbulnya kanker darah atau leukemia. Dalam rentang lebih pendek, menurut fenol mengakibatkan sakit kepala, infeksi saluran pernapasan atas, asma, mual, dan kegembiraan yang berlebihan atau euforia. (sumber: Majalah TEMPO edisi khusus hari pahlawan, 17 November 2002).
Masih Ada Yang Peduli
Rumah belajar atau disingkat Rubel Ciroyom, berdiri sejak tahun 2006. Berbentuk komunitas yang kegiatannya mengondisikan anak-anak jalanan di wilayah tersebut agar mendapatkan pendidikan dan keterampilan. Saat ini komunitas tersebut memiliki sekitar 15 relawan yang terdiri dari mahasiswa dan karyawan.
“Panggilan hati,” dengan mantap Ramdan Firdaus selaku kepala sekolah Rubel menjawab alasan kenapa ia mau bergabung menjadi relawan. Mahasiswa Unpad ini awalnya mengikuti organisasi Konservasi Alam Nusantara tahun 2009. Salah satu agenda organisasi tersebut adalah mengadakan acara buka bareng dengan anak jalanan Ciroyom. Dari sanalah kemudian jiwanya terpanggil untuk ikut mendukung kegiatan-kegiatan Rubel tersebut. “Kami mengajari calistung (baca, tulis, ngitung) pada anak jalanan dan mengajarkan keterampilan juga seperti nari, lukis dan bernyanyi.”
Namun, perjuangan para relawan tidaklah mudah. Ramdan sadar bahwa pasar Ciroyom adalah daerah yang hidup. Selama 24 jam, keadaan selalu tidak tetap. Ini adalah tempat yang riskan bagi anak-anak dimana di dalamnya ada pasar, terminal dan stasiun kereta. Faktor ini pula yang membuat ramdan dan relawan lainnya sulit mendata anak-anak itu. Jika hari ini mereka sekolah, besoknya mereka hilang entah kemana. Butuh banyak kerja keras untuk menarik perhatian anak-anak.
“Kami pakai cara pendekatan personal. Bisa kami sendiri turun ke jalan mencari anak yang mau belajar, atau menyuruh anak yang lebih besar untuk mengajak yang kecil-kecil,” kata Ramdan yang saat ditemui tengah memakai jaket abu-abu kesayangannya.
Rubel menggunakan konsep kebersamaan, dimana anak-anak berbarengan diajari oleh relawan yang datang. Saat itulah kesabaran para relawan diuji, mereka harus pintar menarik perhatian anak-anak agar esok hari datang lagi untuk belajar.
“Selama belajar nggak boleh ngelem,” Ramdan menyebutkan peraturan utama di Rubel. Hal inilah yang membuat nyali anak-anak ciut. Lem bagi mereka adalah hal yang sangat penting. Maka dari itu pihak rubel menyiasatinya dengan cara bagi-bagi makanan dan pemberian hadiah bagi anak-anak yang menurut dan berprestasi.
Saat mencoba mendata, didapat jumlah 30-40 anak. Tapi pada praktiknya, setiap jadwal belajar yang dimulai dari jam 4 sore sampai magrib ini, hanya belasan anak saja yang mau belajar. Itu pun tak menjamin orang-orangnya sama dengan yang kemarin. Keadaan seperti ini membuatnya agak kesulitan membuat target untuk anak-anak jalanan tersebut. Karena pada kenyataannya Kesper dan kawan-kawannya menikmati keseharian mereka di jalan. “Senang. Di sini bebas, banyak teman dan tiap hari dapat uang,” kata salah satu anak.
Tapi Ramdan dan relawan lainnya tetap bertahan demi kemanusiaan. “Setidaknya mereka bisa mengurang atau berhenti ngelem, dan juga bisa bicara sopan,” tutur Ramdan. Hal serupa diungkapkan Siti Patimah. Mahasiswa Jurusan Jurnalistik UIN Bandung ini telah sekitar dua bulan menjadi relawan.
“Walau mereka hidup nggak seperti anak anak normal lainnya, mereka harus belajar dan punya keterampilan agar nggak dianggap sebelah mata oleh masyarakat,” tuturnya dengan berkaca-kaca.
Gadis yang akrab disapa Sipat ini juga mengungkapkan kekhawatirannya tentang kebiasaan ngelem anak-anak dan ketergantungan mereka. “Satu satunya cara, jika mereka sudah sulit berhenti, setidaknya yang kecil-kecil yang belum pernah ngelem jangan sampai terpengaruhi oleh kakak-kakak mereka.”
Begitulah keadaannya. Komunitas Rumah Belajar Ciroyom merupakan setitik harapan menuju suatu perbaikan. Karena sejatinya, anak-anak jalanan adalah hanya anak-anak yang butuh kasih sayang dan pendidikan. Mau tidak mau mereka adalah bagian dari generasi penerus bangsa. Jika hanya menuntut pemerintah dan pihak yang berwenang, kenapa tak mulai dari diri kita sendiri untuk melakukan perbaikan layaknya para relawan-relawan tersebut?
Sore itu, gerimis di belakang pasar Ciroyom belum juga berhenti. Kesper masih belum juga beranjak. Tatapannya kosong, mulutnya komat-kamit tak karuan. Sesekali tersenyum-senyum sendiri. Rupanya efek ngelem telah bereaksi, membebaskan dirinya sesaat dari kerasnya kehidupan jalanan yang ia rasakan di usia belia. []Sonia Fitri/Suaka

