Persuasi Menyusut, Kebebasan Berpikir Dan Berpendapat Terhambat

Date:

- Advertisement -
(Dari kiri) Hawe Setiawan, Hanief Mochammad, dan Dede Mariana saat memberikan materi diskusi yang bertajuk “Kebebasan Berpikir Dan Berpendapat Dalam Kebudayaan Sunda” di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung, Jum’at (20/5/2016). Diskusi tersebut merupakan rangkaian acara dari Festival Indonesia Menggugat. (SUAKA / Elya Rhafsanzani)
(Dari kiri) Hawe Setiawan, Hanief Mochammad, dan Dede Mariana saat memberikan materi diskusi yang bertajuk “Kebebasan Berpikir Dan Berpendapat Dalam Kebudayaan Sunda” di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung, Jum’at (20/5/2016). Diskusi tersebut merupakan rangkaian acara dari Festival Indonesia Menggugat. (SUAKA / Elya Rhafsanzani)

SUAKAONLINE.COM,– Budayawan Sunda, Hawe Setiawan turut berbicara terkait dengan pembubaran pementasan Monolog Tan Manaka, penangkapan seniman pantonim, dan penyerbuan organisasi massa ke dalam lingkungan kampus Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI). Menurutnya, hal tersebut merupakan efek dari menurunnya persuasi di Jawa Barat. Ajakan masyarakat kepada masyarakat lainnya untuk bereksepresi dan berpendapat bebas mulai terkikis seiring pekembangan zaman.

Hal tersebut disampaikan Hawe saat menjadi pemateri dalam diskusi yang bertajuk “Kebebasan Berpikir Dan Berpendapat Dalam Kebudayaan Sunda” di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung, Jum’at (20/5/2016). Diskusi tersebut merupakan rangkaian acara dari Festival Indonesia Menggugat.

Daya Persuasi tidak bisa diabaikan dalam kebebasan berekspresi, karena persuasi merupakan strategi komunikasi yang penting dalam berinteraksi dengan orang lain. Dalam hal ini komunikasi dapat membantu setiap individu dalam berhubungan dengan orang lain serta dapat mempengaruhi dan meyakinkan orang lain. Sebagai contoh, Gugum Gumbira menggunakan daya persuasi saat membawa seni tari jaipong ke Bandung sehingga mampu membuat masyarakat Indonesia berpikir bahwa seni tari jaipong itu berasal dari Bandung, padahal Seni Tari jaipong merupakan seni tari asli dari Karawang.

“Gugum Gumbira dengan seni tarinya yaitu Jaipong, Sayudi dengan motif struktur cerita pantunnya yang menjadi cikal bakal terciptanya cerita pantun modern. Mereka merupakan dua dari sekian banyak ekspresi kebebasan berpikir dan berpendapat dalam kebudayaan sunda yang tercatat dalam sejarah,” ujar Hawe.

Hawe juga mengungkapkan, Gugum membawa seni tari Jaipong ke Bandung bertujuan untuk menghidupkan kembali seni pribumi Indonesia yang pada saat itu mulai kehilangan sinarnya karena terkikis oleh budaya kesenian dari Negara Barat.

Hal itu diamini oleh Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Padjajaran (Unpad), Dede Mariana. Menurutnya, selain menyusutnya Persuasi, ketakutan akan bayang-bayang diri sendiri atau  merupakan hal yang membuat kebebasan berpikir dan berpendapat menjadi tidak berfungsi sebagaimana mestinya. “Ketakutan akan bayang bayang dirinya sendiri merupakan blunder yang sangat fatal, hal seperti itu terjadi karena mereka merasa akan berpendapat yang tidak penting, kenapa merasa tidak penting? Karena tidak membaca,” tambah Dede.

Reporter : Elya Rhafsanzani

Redaktur : Edi Prasetyo

Share post:

Popular

Berita Terkait

Diskusi Impunitas Pelanggaran HAM dalam Merawat Ingatan September Hitam

SUAKAONLINE.COM – Pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan kekerasan...

Desak Evaluasi Program Prabowo-Gibran, Mahasiswa Gaungkan “Merebut Kemerdekaan”

SUAKAONLINE.COM – Serikat Mahasiswa Jawa Barat Bergerak (SMJBB) menggelar...

Sidang Kedua Tahanan Aksi May Day 2026, Saksi Tak Ketahui Pelaku Pembakaran Pos Polisi

SUAKAONLINE.COM — Sidang kedua sembilan tahanan aksi May Day...

Sidang Perdana Sepuluh Terdakwa Aksi May Day 2026 Digelar, JPU Uraikan Dakwaan dan Ancaman Pidana Tujuh Tahun

SUAKAONLINE.COM — Sidang perdana sepuluh tahanan aksi May Day...