" > 2 mnt membaca"> Satwa Indonesia yang Terancam Punah - Suaka Online
Infografik

Satwa Indonesia yang Terancam Punah2 mnt membaca

SUAKAONLINE.COM, Infografis — Tahun 1998 menjadi tahun bersejarah bagi dunia konservasi di Indonesia, pasalnya tahun tersebut World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia resmi menjadi lembaga nasional berbadan hukum Yayasan. Menjalankan perannya sebagai lembaga konservasi yang independen, WWF Indonesia pertamakli berdiri pada 1962.

Dalam melaksanakan tugasnya, WWF Indoneisa memfokuskan upaya konservasi terhadap dua jenis yakni spesies kunci dan spesies yang terancam akibat eksploitasi berlebihan. Species kunci termasuk di dalamnya ialah satwa-satwa yang mampu menggalang dukungan dan kesadaran pentingnya upaya konservasi dalam skala luas misalnya, harimau, gajah, badak, orangutan, dll. Sementara spesies yang kedua misalnya ialah hiu dan tuna.

Misi utama WWF ialah untuk melestarikan, merestorasi serta mengelola ekosistem dan keanekaragaman hayati Indonesia secara berkeadilan. Namun, justru tak sedikit yang berseberangan dengan misi WWF tersebut. Terlihat dari masih banyaknya kasus-kasus pelanggaran terhadap satwa khususnya satwa yang dilindungi.

Sebagaimana rilisan berita oleh Voa Indonesia (22/04/2016) sejumlah burung endemik Papua, seperti cendrawasih, kakaktua juga julang emas diselundupkan ke Surabaya untuk hendak diperjual belikan. Bahkan untuk melancarkan aksinya, pelaku menempatkan satwa-satwa tersebut dalam wadah kardus dan botol minum. Sehingga saat behasil ditangkap, beberapa dari satwa tersebut didapati telah mati.

Vice.com juga menerbitkan tulisannya terkait hasil penelitian kondisi penyu yang ada di tiga samudra (12/12/2018). Penelitian dilakukan oleh Plymouth Marine Laboratory terhadap 100 penyu yang diambil dari tujuh spesies, hasilnya ialah semua spesies telah tekontaminasi mikroplastik. Bahkan bukan hanya penyu, hampir semua spesies hewan laut pun ikut terdampak mikroplastik.

Kondisi penyu yang memprihatikan akibat sampah juga pernah dirilis dalam kanal video The Washington Post, yang memperlihatkan proses pengeluaran sampah yang terlihat seperti sedotan dari hidung seekor penyu. Beberapa video lainnya yang serupa juga banyak ditemui di Instagram ataupun Youtube. Sampah-sampah yang dibuang ke laut kemudian sangat berdampak terhadap kehidupan laut, bukan hanya bagi terumbu karang tetapi juga bagi hewan laut yang juga menempatinya.

Beberapa kasus pelanggaran terhadap satwa pun terus bergulir. Salah satu yang juga miris ialah kasus Pony, orangutan di Kalimantan yang dieksploitasi menjadi Pekerja Seks Komersial (PSK) oleh pemiliknya. Pony dilatih layaknya menjadi seorang PSK dan yang makin menyedihkan ialah ini berlangsung dalam waktu yang panjang. Sehingga perlu waktu lama bagi Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) untuk melakukan pemulihan bagi Pony.

Pelanggaran terhadap satwa yang dilindungi diatur dalam UU No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Larangan tersebut termasuk ialah menangkap, membunuh, menyimpan, memiliki, hingga memperniagakannya. Bagi pelanggarnya akan dijerat hukuman pidana penjara selama paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000 (seratus juta rupiah).

 

Peneliti  : Abdul Azis Said/ Litbang Suaka

Sumber : wwf.co.id

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas