
SUAKAONLINE.COM – Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum (DEMA-FSH) menggelar acara closing Law Festival 2025 di Gedung Abjan Soelaeman, Kampus 1 UIN SGD Bandung, Selasa (17/6/2025). Acara ini merupakan rangkaian penutup dari berbagai kegiatan yang sebelumnya telah berlangsung selama satu minggu.
Ketua Pelaksana, Miftah Sholehuddin mengatakan acara merupakan ajang tahunan Dema-FSH, meski tahun ini berganti nama, tapi tujuannya tetap sama yakni mewadahi potensi serta bakat mahasiswa terutama di bidang non-akademik serta untuk terjalinnya keakraban antar jurusan di FSH.
“Untuk mewadahi serta merangkul aspirasi dari segi pendidikan dan kreativitas mahasiswa FSH agar bisa berprogres dan meningkatkan skill di sana, di balik itu juga untuk mempererat solidaritas mahasiswa syarkum,” ujarnya.
Dengan tema “Generasi Emas, Kreasi Tanpa Batas”, menjadi upaya DEMA-FSH dalam mewadahi berbagai minat mahasiswa. Hal ini ditunjukan dengan diselenggarakannya talkshow politik-hukum dan talkshow bisnis-kewirausahaan, serta diselenggarakan berbagai kompetisi seperti badminton, mini soccer, Mobile Legends, voli, debat, kaligrafi, musabaqoh qiroatul kutub, dan tari tradisional.
Salah satu talkshow bertema “Gen-Z, Waktunya Cerdas dalam Menyikapi Isu Hukum & Politik di Era Provokasi Media” yang diisi oleh tiga narasumber terkait, diantaranya ialah Agung Baskoro selaku Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis, Ija Suntana selaku Guru Besar Hukum Tata Negara (HTN) UIN SGD Bandung, serta Content Creator, Hambasahaya selaku pegiat isu sosial-politik.
Salah satu narasumber talkshow isu hukum dan politik, Agung Baskoro, menyoroti pentingnya memahami isu hukum dan politik salah satunya ialah dapat membantu masyarakat agar senantiasa dapat mengawal serta mengkritisi kebijakan pemerintah yang dianggap tidak mencerminkan nilai-nilai demokrasi.
“Setelah acara ini teman-teman bisa lebih aktif dalam menyuarakan isu hukum dan politik tapi tetap humanis serta fleksibel karena kebijakan peraturan dapat mempengaruhi aspek kehidupan, dan harus meng-crosscheck kembali isu viral di media sosial agar tidak terjadi disinformasi dan jangan langsung menyebarkan isu tanpa tahu asal sumbernya,” ucapnya.
Sejalan dengan Agung, Ija Suntana juga menyoroti fenomena black book society, yakni dimana seseorang mudah terpengaruh isu oleh algoritma media sosial. “Hukum lambat berjalan tapi teknologi semakin cepat berjalan,” katanya. Berdasarkan hasil riset, ketika seseorang mendapatkan isu provokasi maka 36 persen orang akan segera membagikan isu tersebut dengan meyakini itu benar tanpa melalui verifikasi.
Untuk itu ia mengajak kepada peserta talkshow agar senantiasa kritis saat menerima berbagai informasi khususnya informasi mengenai hukum dan politik di media sosial, hal ini bisa diterapkan dengan senantiasa memastikan kebenaran informasi yang beredar sebelum dibagikan ke ranah yang lebih luas.
Salah satu peserta talkshow, Alma mengungkapkan output yang ia dapatkan adalah ilmu yang sangat bermanfaat dan bisa diterapkan oleh mahasiswa, baik ilmu bisnis atau ilmu politik dan hukum “Saya jadi lebih sadar dan peduli terhadap isu politik dan hukum karena kebijakan apapun yang diambil pemerintah bisa berpengaruh terhadap kehidupan kita dan untuk talkshow kewirausahaan sangat membantu mahasiswa yang ingin memulai bisnis dari sekarang,” ungkapnya.
Reporter: Nurul Hikmah Azzahro/Magang
Redaktur: Mujahidah Aqilah/Suaka

