[Suakaonline] – Penyaluran beasiswa pendidikan Bidik Misi bagi mahasiswa berprestasi tidak mampu terhambat hampir tiap semester. Hal itu terjadi akibat anggaran dana untuk Kementrian Agama (Kemenag) Republik Indonesia yang masih dibintang.
Habbudin, Kepala Biro A2K UIN SGD Bandung mengatakan, kendala penyaluran dana Bidik Misi karena anggaran masih dibintang. Yang berdampak keterlambatan pencairan.
“Sama halnya dengan tahun sebelumnya, karena anggran dibintang jadi dana baru bisa dicairkan September, padahal di bulan Juli harusnya sudah menerima beasiswa. Termasuk penerima Bidik Misi yangg on going kena dampaknya juga,” ucapnya saat ditemui Suaka , Selasa (18/2).
Hal senada dikatakan Asep Saepudin, Kabag Kemahasiswaan UIN SGD Bandung. Ia menuturkan bahwasannya anggaran dana beasiswa Bidik Misi sering dibintang.
“Anggaran semua dibintang kecuali honor dan gajih. Dana kegiatan semua belum bisa cair, kalaupun cair itu dari pinjaman,” ucapnya.
Maksud dibintang itu bukan hanya anggaran di UIN SGD Bandung saja, akan tetapi semua universitas yang ada di bawah naungan Kemenag juga dibintang. Anggaran belum bisa keluar karena masih dalam pembahasan di DPR, jadi belum disetujui.
Salah satu cara yang dilakukan untuk menangani keterlambatan penyaluran dana beasisiwa Bidik Misi pihak Rektorat UIN SGD Bandung memperbolehkan mahasiswa penerima beasiswa Bidik Misi untuk tetap melakukan pengambilan Kartu Rencana Studi (KRS) agar tetap bisa melaksanakan kuliah.
“Tidak ada penanggulangan lain, cuman SPP dan praktikum yang ditutup dulu oleh pihal universitas. Karena mereka harus kuliah kan, jadi supaya mereka bisa kuliah universitas memperbolehkan untuk mengambil KRS,” ucap Asep.
Seluruh penerima beasiswa Bidik Misi memperoleh Rp. 6 juta per semester ditiap angkatan dengan nominal dana sama, tidak ada perbedaan rinciannya Rp. 3.600.000,- kemudia mendapat dana sebesar Rp. 2.400.000 untuk SPP Rp. 900.000,– praktikum Rp. 900.000,- untuk pemondokan pesantren (asrama ) dan Rp. 600.000,- untuk biaya pembinaan pembelajaran.
Melda Meldiani (20), mahasiswa jurusan Siyasah Fakultas Syari’ah semester IV pemerima beasiswa Bidik Misi angkatan 2012, bahwasanya keterlambatan penyaluran dana tersebut membuatnya kekurangan dana untuk biaya hidup.
“Kita jadi kekurangan dana dan terkatung-katung hidup di kota, sehingga saya dan teman-teman harus melakukan kegitan lain untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup,” ucap Melda. “Ketika dana beasiswa belum cair, penerima bisa mendapat pinjaman dana dari rektorat namun nyatanya tidak terealisasi.”
Terkait usaha yang dilakukan oleh Melda mengenai pencairan dana ia dan grup “saung riung” yang merupakan wadah perkumpulan penerima Bidik Misi berharap agar kejelasan informasi beasiswa tidak terlambat cair.

