5 mnt membaca"> Alasan Kenapa Harus Tinggalkan Sepak Bola Indonesia - Suaka Online
Aspirasi

Alasan Kenapa Harus Tinggalkan Sepak Bola Indonesia5 mnt membaca

Oleh Muhamad Emiriza*

Ilustrasi. Football-tribe.com

Talkshow Mata Najwa berjudul “PSSI Bisa Apa” seakan menegaskan kembali mafia sepakbola di Indonesia masih ada dan semakin terang-terangan. Najwa sebelumnya pernah membahas mafia sepak bola di Indonesia sampai beberapa episode sampai yang terakhir episode kemarin. Namun seakan tidak ada tindakan dari Federasi sepak bola kita, PSSI dari dulu hingga sekarang, malah hampir dikatakan parah pada masa sekarang.

Liga Indonesia seakan menjadi primadona, bagaikan danau di hamparan gurun  pasir, menjadi hiburan dari kaum elite sampai kaum yang berekonomi sulit, karenanya pundi-pundi uang mengalir di sana. Dari pemilik klub sampai pedagang kaos klub mendapatkan cuan (uang) karena Sepak Bola Indonesia ini, namun di saat perputaran uang itu semakin nyata dan besar di situlah para Bandar memanfaatkannya. Mereka yang memikirkan cuan tanpa memikirkan aturan layak disebut bajingan.

Bandar judi, Mafia atau apalah itu adalah aktor dari kejahatan dari sepak bola di Indonesia. Padahal apabila merunut ke akar rumput dari kejahatan-kejahatan sepak bola, ada banyak sekali kejahatan dimulai dari pencurian umur pada saat kompetisi usia muda, intervensi dari orang tua agar anaknya bisa bermain pada klubnya di Sekolah Sepak Bola (SSB) saat turnamen sampai yang paling puncak adalah pengaturan skor atau biasa kita bilang Match Fixing.

Khusus yang terakhir bisa terjadi di pertandingan mana pun, pertandingan usia dini, Liga Nusantara, sampai Tim Nasional pun bisa terjadi dugaan pengaturan skor, alasannya pun beragam dimulai intervensi dari pihak lain seperti Bandar Judi ataupun untuk kepentingan Tim lain, secara sederhananya sengaja mengalah. Kejahatan-kejahatan seperti ini sudah melekat di Sepak Bola kita.

Mantan pemain Tim Nasional Indonesia era 90-an Rochy Putiray mengaku pernah ditawari dan melakukan tindakan pengaturan skor. Itu berarti sudah hampir 30 tahun praktik pengaturan skor, jual beli pertandingan dan kejahatan sepak bola lain berjalan di negeri ini. Tidak ada langkah lebih lanjut dari PSSI untuk menangani kasus tersebut, pun dengan kita sebagai suporter yang tidak tahu-menahu bahwa telah terjadi praktik seperti itu.

Baca juga:  Labolatorium Fakultas Ushuluddin Gelar Webinar Bahas Regulasi Jurnal

Jadi akuilah bahwa Sepakbola Indonesia memang masih dan akan terus menjadi amatir, jangan berbicara level dunia bahkan mimpi Tim Nasional kita bermain di Piala Dunia kalau permasalahan internal seperti ini masih melekat di kita hampir selama 3 dekade. PSSI yang seharusnya tanggung jawab akan permasalahan ini seakan buta, padahal kejahatan ini sudah terjadi sudah lama dan mereka (PSSI) hanya berwacana akan menindak tegas para pelaku kejahatan sepakbola tanpa ada tindakan lebih lanjut.

Jangan Harap PSSI seperti FIGC

Pengaturan Skor atau Match Fixing ini bisa terjadi pada pertandingan mana pun, tidak hanya di Indonesia, Italia pun pernah mengalami hal kejadian seperti ini pada tahun 2006, bedanya Federazione Italiana Giuoco Calcio atau apabila di terjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi federasi Sepak Bola Italia (FIGC) bereaksi cepat dan tegas akan kejahatan sepakbola yang mereka alami.

Dalam kasus Match Fixing di Italia yang disebut Calciopoli tersebut melibatkan dua divisi teratas di sepak bola Italia, tak tanggung-tanggung tim-tim yang terlibat pun tim besar seperti Juventus, AC Milan, Fiorentina, Lazio dan Reggina. Melalui penyelidikan, FIGC akhirnya memberikan hukuman tegas kepada Juventus untuk turun kasta ke Serie B dan manajer mereka pada saat itu Luciano Moggi diberi sanksi seumur hidup dari sepak bola dan rekomendasi kepada presiden FIGC bahwa dia disanksi seumur hidup dari keanggotaan FIGC di level apapun.

Berbeda dengan FIGC, PSSI tak kunjungi memberikan sikap tegas bagi para pelaku kejahatan sepak bola. Sudah hampir 30 tahun dan kejahatan sepakbola seperti pengaturan skor masih saja PSSI menutup mata, terlalu banyak kontrol dari luar yang membuat federasi kita ini berjalan begitu-begitu saja, orang-orang di dalam federasinya pun sama, mereka cenderung orang yang kurang paham akan wawasan sepak bola Indonesia dan bisa dibilang tidak berkompeten.

Baca juga:  Labolatorium Fakultas Ushuluddin Gelar Webinar Bahas Regulasi Jurnal

Dalam acara Mata Najwa berjudul “PSSI Bisa Apa” kemarin Exofficio Commite PSSI diduga menjadi dalang pengaturan skor pada pertandingan Liga 2, lebih dari itu, mantan pemain Tim Nasional Indonesia era 90-an Rochy Putiray dalam Acara Talkshow di Kanal Youtube baru-baru ini menduga orang federasi mengatur pertandingan Tim Nasional, mereka mendapat cuan dari kekalahan Tim Nasional pada piala AFF kemarin, dan juga dugaan bandar judi dari luar negeri yang telah mengatur pertandingan-pertandingan di Liga Indonesia dan mempunyai orang kepercayaan di Indonesia yang bernama Vigit Waluyo.

Walau semua itu hanya dugaan dan bersifat spekulasi, hal tersebut telah menggambarkan sepak bola Indonesia bobrok. PSSI yang seharusnya bertanggung jawab atas kasus kejahatan sepakbola, malah ikut bermain dalam pusaran kejahatan demi sebatas cuan tanpa memikirkan kemajuan dari sepak bola Indonesia. Jadi jangan harap PSSI bisa menjadi Federasi yang profesional apabila masih diduduki orang-orang yang tidak mempunyai komitmen dan tidak berkompeten di persepakbolaan Indonesia.

Suporter Harus Bagaimana ?

Dengan terkuaknya kasus-kasus kejahatan sepak bola di Indonesia, kita sebagai suporter merasa dikhianati. Suporter mendukung klub sepak bola yang menjadi idolanya setulus jiwa dan raga, merelakan meninggalkan pekerjaan, menjual barang kesayangan, bahkan meninggalkan sanak saudara untuk sementara untuk menonton klub kebanggaan langsung ke stadion.

Pengaturan skor telah menyakiti para suporter di tanah air, mereka yang merelakan segalanya seakan sia-sia karena skor dan hasil yang telah ditentukan bahkan sebelum liga belum mulai. Suporter menjadi korban dari penjahat-penjahat cuan yang tak memikirkan cinta tulus pada tim kebanggaan. Namun suporter juga dilema akan kejadian ini, di satu sisi mereka cinta klub kebanggaan dan tetap saja mendukung dan menonton pertandingan yang hasilnya sudah diatur sedemikian rupa pun suporter juga tidak bisa berbuat banyak karena hanya bisa menyerukan keadilan tanpa ada respons dari pemangku kebijakan.

Baca juga:  Labolatorium Fakultas Ushuluddin Gelar Webinar Bahas Regulasi Jurnal

Berharap kemajuan dari Tim Nasional Indonesia namun apa daya yang terjadi hanyalah keterpurukan. Suporter sebenarnya bisa memboikot Sepak Bola Indonesia dengan meninggalkannya, meninggalkan sepak bola Indonesia takkan membuat kita mati, masih banyak sepak bola luar negeri yang jujur, yang masih kita nikmati sebagai permainan taktik dan strategi. Walau ini mengorbankan cinta kita pada suatu tim kebanggaan namun ini adalah cara terakhir untuk menghentikan kejahatan-kejahatan sepakbola Indonesia.

Karena sejatinya apabila antusias kita masih besar pada sepak bola Indonesia yang sudah terbukti borok maka Bandar atau mafia sepakbola akan semakin leluasa mengatur segalanya, mereka akan terus meraup keuntungan dari animo kita mendukung sepak bola Indonesia. Maka langkah terakhir ini sangat realistis untuk mengembalikan sepak bola Indonesia setidaknya menjadi lebih baik, PSSI pun akan ketar-ketir apabila boikot ini sampai terjadi karena mereka akan kehilangan sumber pemasukan. Klub-klub di Indonesia pun jelas akan merugi, pemain hingga pedagang kaos klub pun juga, namun sekali lagi, cara ini adalah cara terbaik dari yang terburuk untuk mengobati masalah sepak bola di Indonesia.

 

*Penulis merupakan Redaktur Tulis LPM SUAKA Periode 2018

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas