
Alokasi Subsidi Tidak Tepat
Pemerintah Indonesia masih mengalokasikan dana yang tinggi untuk subsidi energi. Padahal diberbagai negara subsidi energi mulai dihilangkan bahkan di negara yang mengekspor minyak bumi. Sedangkan di Indonesia yang masih mengimpor energi menggunakan subsidi yang cukup tinggi. Di Indonesia, kecuali untuk pendidikan anggaran yang dialokasikan untuk membiayai subsidi energi sangat timpang jika dibandingkan dengan anggaran untuk infastruktur, kesehatan, dan pengentasan kemiskinan.
Masih di lansir dari portal yang sama, alokasi subsidi untuk subsidi pendidikan menempati urutan pertama yakni 369 triliun rupiah yang disusul oleh subsidi energi sebesar 282 triliun rupiah. Diurutan ketiga ditempati infrastruktur sebanyak 207 triliun rupiah. Sedangkan alokasi anggaran untuk pengentakan kemiskinan 134,5 triliun rupiah, dan terakhir kesehatan hanya 71 triliun rupiah.
Kebijakan tersebut pernah dikriktik oleh Pengamat Ekonomi, Faisal Basri yang mengatakan ada dua kunci utama untuk mengurangi ketimpangan. Pertama sektor ketimpangan dan kedua menaikan pajak khusus untuk orang-orang kaya (beritastu.com)
Kritikan juga disampaikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan menyantakan sektor yang harus ditingkatkan ialah pendidikan khusus untuk kalangangan tidak mampu. Sektor lainnya adalah kesehatan dan pengembangan ekonomi kreatif.
*Tulisan ini telah dimuat di Tabloid Suaka No. 25/Tahun XXX/ Edisi Maret-April2016

