" > 6 mnt membaca"> Egoisme Beragama di Tengah Pandemi Corona - Suaka Online
Kolom

Egoisme Beragama di Tengah Pandemi Corona6 mnt membaca

Ilustrasi: Hamzah Ansharulloh/Suaka

Oleh: Fuad Mutashim*

Saat ini, seluruh dunia tengah diguncang oleh kepanikan juga kekhawatiran. Hal tersebut muncul dikarenakan suatu virus, virus yang kecil namun mampu membunuh hingga puluhan ribu orang, yaitu virus Corona atau Covid-19. Munculnya virus ini mengakibatkan duka yang mendalam bagi seluruh umat manusia. World Health Organization (WHO) telah menetapkan wabah virus Corona ini sebagai pandemi, karena telah menyebar hampir ke seluruh dunia. Indonesia adalah salah satunya.

Berbagai macam reaksi muncul dalam menyikapi Covid-19 ini, terutama di kalangan umat Islam, seperti muncul celotehan, “Kami tidak takut pada Corona. Kami hanya takut pada Allah”. Atau, “Bukannya mati itu sudah ketentuan Allah. Kita semua pasti mati. Kenapa harus takut mati karena Corona?” Plus, ada pula yang bercetus “Jangan tinggalkan Masjid meskipun ada Corona.” Masalahnya, orang-orang yang memiliki prinsip demikian tetap menjalankan kehidupan sehari-hari, tanpa memperdulikan anjuran otoritas setempat terkait penanganan pandemi Corona. Padahal pemerintah Indonesia telah mengeluarkan aturan physical distancing dan baru-baru ini menetapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) agar memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Merespon hal tersebut, banyak orang gelisah dan mempertanyakan, “apakah jangan-jangan sikap beragama masyarakat kita masih terbilang konservatif?” Memang setiap orang dan golongan memiliki cara masing-masing dalam memahami agama. Namun, ketika melihat hal yang demikian, membuat penulis beranggapan bahwa mereka adalah orang-orang yang masih dalam tahap pubertas beragama. Hingga mereka masih memiliki semangat dan fanatisme yang tinggi.  Lalu, sebenarnya bagaimana sikap Islam sendiri dalam menghadapi wabah virus Corona?

Perbedaan Sudut Pandang

Dalam konteks menyikapi wabah virus Corona ini, ada beberapa golongan keagamaan yang ikut andil dalam menyikapi hal ini, salah satunya adalah golongan fatalisme dan golongan free will. Kedua golongan ini percaya kepada Tuhan, namun berbeda dalam mengambil sikap soal permasalahan hidup. Oleh karenanya, fatalisme dan free will berbeda pandangan ketika menjawab dan menangani Covid-19 ini.

Baca juga:  Mahasiswa UIN Bandung Raih Juara I Infografis Nasional 2020

Fatalisme lebih percaya kepada nasib (takdir) yang telah ditentukan oleh Tuhan. Dalam Teologi Islam aliran ini disebut Jabariyah. Karena bagi fatalisme berserah diri kepada Tuhan adalah tindakan paling tepat dan mulia dalam menghadapi setiap masalah manusia. Tuhan menjadi tempat sandaran dan pengaduan yang dibutuhkan ketika manusia memiliki sejumlah persoalan duniawi. Menurut pandangan fatalisme, dalam menyikapi wabah virus corona cukup hanya berserah diri kepada Allah dengan melakukan amal-amalan, doa, wirid, dan bacaan-bacaan agama saja.

Sedangkan free will memiliki landasan bahwa manusia memiliki kemauan dan kehendak bebas dalam menentukan nasibnya. Dalam Teologi Islam aliran ini disebut Qadariyah. Pandangan ini memfungsikan akal manusia untuk menyelesaikan urusan duniawi. Mereka lebih percaya pada realitas dan alam nyata ketika menghadapi masalah-masalah metafisika.

 Kemunculan virus corona harus disikapi dengan bijak dan professional melalui penggunaan akal dan penelitian. Golongan ini menghendaki satu keadaan dengan mencari sebab, gejala, hingga dampak dan penanganan serta pengentasan masalah secara ilmiah tanpa sepenuhnya bergantung kepada Tuhan. Reaksi ini sebagai fungsi penyelesaian, pengurangan, hingga tindakan preventif dalam menyikapi pandemi Corona.

Golongan free will juga memperlihatkan kekuatan dan usaha dari manusia. Dengan menyusun langkah-langkah konkret secara maksimal untuk menghindari dan menanggulangi virus ini. Mulai dari penutupan jalur trasnportasi Internasional, melakukan physical distancing, penggunaan masker, pola hidup yang baik dan bersih, menunda acara-acara kolektif, mengakhiri perkuliahan secara langsung di kampus hingga penerapan sistem lockdown.

Kedua paradigma ini sangat berbeda pandangan dalam menyikapi dan menangani wabah Covid-19. Golongan fatalisme lebih mengarah kepada teosentris (berpusat pada Tuhan), sementara golongan free will mengandalkan kekuatan dan kemampuan manusia, atau sering disebut dengan antroposentris. Terlepas dari tindakan (usaha) yang paling efektif, kembali pada keyakinan individu masing-masing dalam menyikapi corona.

Baca juga:  Mengupas Tuntutan dan Gerakan Forum Dema-F Bandung

Ngeyelnya Umat Muslim Indonesia

Sejak diumumkan oleh Presiden Jokowi pada Senin (2/3/2020), bahwa ada dua orang Indonesia yang positif terjangkit virus corona, segera pemerintah Indonesia menekankan agar warganya membatasi ruang gerak sosial sebagai langkah antisipasi penyebaran covid-19 secara luas. Akan tetapi beberapa hari berselang setelah ada himbauan tersebut ada beberapa organisasi keislaman yang mengambil sikap “abnormal”. Disaat orang lain cari aman dan berlindung agar dijauhkan, mereka dengan nekat tetap melaksanakan kegiatan yang melibatkan massa besar, seakan mereka percaya bahwa virus corona tidak akan menyerang mereka.

Seperti yang dilakukan oleh Jamaah Ijtima Dunia di Gowa, Sulawesi Selatan yang tetap melaksakan kegiatannya di tengah pandemi corona. Dengan dalih mereka tak takut corona, hanya takut kepada Allah semata. Mereka percaya bahwa hidup dan mati ada ditangan Allah. Di daerah lain pun ada seorang kakek yang keukeuh tetap ingin melaksanakan shalat jumat padahal otoritas pemerintah setempat telah menetapkan untuk mengganti shalat jumat dengan shalat dzuhur untuk mencegah penyebaran wabah covid-19. Namun, memang pemahaman teologi Jabariyah masih banyak dianut oleh pemeluk agama di Indonesia.

Tersebarnya Covid-19 hingga ke Indonesia membuat masalah baru bagi negara ini, yaitu persoalan ritual keagamaan. Tingkat religiusitas yang tinggi di kalangan masyarakat bukanlah hanya sekedar angka juga isapan jempol belaka. Agama memiliki peran yang sangat tinggi dalam kehidupan mereka. Terkait himbauan Pemerintah mengenai pembatasan ruang gerak sosial akan sangat berpengaruh terhadap para pemeluk agama.

Pembatasan ritual ibadah oleh pemerintah yang bertujuan untuk melindungi kesehatan warganya masih belum bisa diterima oleh kebanyakan pemeluk agama. Mereka yang menolak tidak bisa dipisahkan karena pemahaman teologis belaka, terutama di era digital ini. Berbagai alasan bisa kita jumpai dengan mengambil dalil agama secara serampangan untuk meluluskan argumen dari kelompok yang menolak.

Baca juga:  Nyai yang Menyusui Kelelawar

Pemahaman takdir ala Jabariyah dan Qadariyah memang terselip di berbagai ajaran akidah pemeluk agama di Indonesia. Pemahaman tersebutlah yang akhirnya berujung penolakan terhadap Fatwa MUI. Fatwa MUI kerap kali dicurigai oleh mereka sebagai tindakan pemerintah untuk menjauhkan mereka untuk melakukan ritual ibadah. Padahal sebelum MUI mengeluarkan keputusan, mereka telah melakukan konsolidasi dengan beberapa pihak terkait guna memberikan arahan untuk berbagai kelompok agama dalam pelaksanaan ritual keagamaan selama kondisi krisis demi keselamatan mereka.

Kepatuhan Kepada Pemerintah

Majelis Ulama Indonesia (MUI), telah mengeluarkan fatwa untuk mencegah penyebaran virus Corona ini dengan menganjurkan agar tetap shalat di rumah dan mengganti shalat jumat dengan shalat dzuhur. Akan tetapi, karena sikap egois dari beberapa kelompok, tetap ada saja yang menolak anjuran tersebut dengan memaksa datang ke masjid dan menyuruh agar DKM masjid tetap membuka. Dan tak sedikit orang yang menganggap hal demikian adalah sesat dan tak sesuai ajaran islam.

Sungguh ironis. Disaat pemerintah mencoba untuk menimimalisir jatuhnya korban disebabkan virus Corona, masih saja ada masyarakat yang ngeyel­ terhadap peraturan yang sudah ditetapkan. Sudah jelas memang, masih banyak umat Islam Indonesia yang menganut ajaran fatalisme, dengan anggapan hanya dengan berserah diri kepada Allah dan melakukan amalan tertentu bisa membuat mereka terhindar dari wabah penyakit virus Corona. Padahal kenyataannya tidak seperti itu. Ada ikhtiar sebelum tawakkal.

Dalam konteks kehidupan kita saat ini. Sangat penting bagi kita untuk senantiasa sabar serta bertawakkal kepada Allah menghadapi musibah virus Corona. Akan tetapi, tawakkal kita harus dibarengi dengan usaha sungguh-sungguh untuk mencegah penularan virus Corona agar tak menjadi musibah bagi orang-orang yang kita cintai.

Tak lupa, kita harus patuh kepada keputusanpemerintah atau pemimpin.Kepatuhan kepada pemimpin merupakan kewajiban yang disyariatkan, hanya segaris di bawah kepatuhan kepada Rasulullah Saw. Kepatuhan kepada pemerintah hanya boleh ditinggalkan jika mereka memerintahkan pada suatu yang menunjukan kepada kesesatan dan bertentangan dengan syariat. Hingga saat ini tak ada satupun kebijakan dari pemerintah yang mengarahkan kita agar berbuat salah. Maka dari itu, hendaklah kita senantiasa harus melaksanakan kebijakan pemerintah seperti menghindari spot kerumunan untuk mencegah risiko rawan terinfeksi virus Corona.

*Penulis merupaan mahasiswa jurusan Komunikasi Penyiaran Islam semester empat dan Anggota Magang LPM Suaka 2020

1 Comment

1 Comment

  1. duta

    7 Mei 2020 at 22:48

    ini bagus banget kak artikelnya, mengungkap yang sebenarnya terjadi di masyarakat kita. terima kasih sudah berbagi pengetahuan ini, semoga artikel kakak memberi pemahaman kepada mereka yang membutuhkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2016 Suaka Online │ LPM SUAKA UIN SGD Bandung

Ke Atas