" > Hubungan “Wabah Penyakit”, Industrialisasi dan Omnimbus Law - Suaka Online
Aspirasi

Hubungan “Wabah Penyakit”, Industrialisasi dan Omnimbus Law

Ilustrasi oleh Rini Zulianti/Suaka

Oleh: Muhammad Syifaurrahman

Virus Corona (COVID-19) dikenal di masyarakat umum sebagai menakutkan, sehingga membuat panik seluruh jagat raya. Per hari ini, isu corona masih hangat dibahas di berbagai belahan dunia. Bahkan ketika tulisan ini ditulis, masyarakat Indonesia mengalami kepanikan yang sangat parah, apalagi setelah diumumkan beberapa warga Indonesia terjangkit virus corona membuat harga masker moroket tinggi. Dalam tulisan ini, penulis ingin mencoba untuk menguraikan isu Wabah Penyakit virus corona atau dalam bahasa inggris disebut Outbreak Disease Corona-Virus hubungannya dengan Industrialisasi dan Rancangan Undang-Undang (RUU) Omnimbus Law.    

Hubungan wabah penyakit dan industrialisasi

Sebelum mengenal Virus Corona, mari bernostalgia dengan beberapa wabah virus sebelum Corona di negara China, ada wabah virus Flu Burung, Sars dan Flu Babi  yang sebelummnya hal ini tidak berawal dari negara China. Bahkan sejak dulu negara Tiongkok dikenal sebagi negara yang memiliki ilmu pengobatan tradisional, justru ketika memasuki abad ke-21 wabah penyakit merajalela di negara China. Jika dikaitkan dengan industrialisasi, China yang dulunya negara agrarian berubah menjadi negara industri sejak tahun 1970 dan pada tahun 2019 40% persen Gross Domestic Product (GDP) atau pendapatan bruto domestiknya dari industri.  

Pindah ke belahan dunia lainnya, pada tahun 2017 di Afrika, khususnya Afrika Barat diguncang oleh wabah penyaki Ebola. Menurut halodoc.com Ebola adalah penyakit akibat infeksi virus mematikan, yang bisa menyebabkan demam, diare serta pendarahan di dalam tubuh penderitanya. Hanya 10% penderita Ebola yang selamat dari infeksi virus ini, tetapi penyakit ini jarang terjadi. Wabah Ebola dinamai dari nama sungai di Negara Repuplik Demokratik Kongo yang sering dipakai oleh masyarakat Afrika Barat sejak dulu. Belakangan virus ini muncul di negara-negara Afrika Barat yang massif akan industrinya, yang bahkan dulunya tidak ditemukan wabah penyakit berbahaya.

Kemudian, kita kembali lebih jauh ke revolusi industri di Amerika pada abad 19. Pada abad ini Amerika mengalami wabah penyakit yang sangat merugikan peradaban manusia, wabah tersebut adalah wabah Tuberkulosis (TB) disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang paling sering menyerang paru-paru. TB menyebar dari orang ke orang melalui udara. Ketika orang dengan TB paru batuk, bersin atau meludah, mereka mendorong kuman TB ke udara. Seseorang perlu menghirup hanya beberapa kuman ini agar terinfeksi. Penyakit ini berbarengan dengan revolusi industri 2.0 di Amerika. Revolusi ini ditandai dengan terciptanya tenaga listrik sebagai sumber utama dan Combustion Chamber (Ruang Pembakaran). Untuk menghasilkan listrik biasa menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang banyak menghasilkan Zat Berbahaya terhadap udara.

Lalu, hubungan industri dan wabah penyakit dimana?

Untuk menjawab pertanyaan itu kita harus tahu apa itu virus corona. Virus Corona menurut World Health Organization (WHO) Coronaviruses (CoV) adalah keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit mulai dari flu biasa hingga penyakit yang lebih parah. Virus Corona adalah zoonosis, artinya ditularkan antara hewan dan manusia.

Dan apa itu wabah?

Masih mengambil dari WHO, wabah penyakit biasanya disebabkan oleh infeksi, ditularkan melalui kontak orang-ke-orang, kontak hewan-ke-orang, atau dari lingkungan atau media lain. Wabah juga dapat terjadi setelah terpapar bahan kimia atau bahan radioaktif. Misalnya, penyakit Minamata disebabkan oleh paparan merkuri.

Faktor infeksi tidak menjadi sebab-musabab wabah ini terjadi, jika keseimbangan daya tahan imun manusia tetap terjaga dan yang memperkuatnya adalah faktor lingkungan yang sudah rusak dan tidak aman bagi kehidupan. Misalnya ketidaksedian air bersih serta aman bagi manusia, saluran pembuangan kotoran yang tidak memadai, kebersihan lingkungan yang buruk, kondisi makanan yang tidak layak di komsumsi, tingkat polusi udara yang tinggi serta banyak kerusakan ekosistem lainnnya.

Indusri menjadi faktor penyebab utama rusaknya ekosistem lingkungan hidup, menurut majalah European Commission pada tahun 2006 yang dikeluarkan oleh Uni Eropa, dampak industri mempunyai peran utama dalam menurunya lingkungan Hidup. Walapun sudah ditemukan industri ramah lingkunagn, tetapi kegiatan industri dan meningkatnya permintaan masih memberi tekanan pada lingkungan dan basis sumber daya alam.

Di negara-negara berkembang seperti Indonesia, industri memiliki efek ganda terhadap buruknya lingkungan, seperti deforestasi dan degradasi tanah, sebagian besar tetap tidak terpecahkan. Pada saat yang sama, masalah baru terkait dengan industrialisasi muncul, seperti meningkatnya emisi gas rumah kaca, polusi udara dan air, meningkatnya volume limbah, desertifikasi dan polusi bahan kimia.

Dari penjelasan diatas, hubungan industri dengan wabah sangat berhubungan erat. Faktanya, industri sangat merusak ekosistem air, udara dan tanah. Hingga tidak aneh wabah-wabah ganas seperti flu burung, flu unta, corona ataupun TB menyerang saluran pernafasan yang sangat berhubungan dengan udara, dan saluran pembuangan yang berhubungan dengan air seperti penyakit ebola yang mebuat penderita mengalami permasalahan diare yang akut.

Lalu bagaimana hubungannya dengan Indonesia?

Sampai saat ini, Indonesia menjadi negara yang sulit dimasuki oleh wabah penyakit. Hal ini dikarenakan ekosistem alam Indonesia masih terjaga. Contohnya virus corona, sebenarnya juga ada di kelelawar-kelewar di berbagai daerah Indonesia, seperti di Bukittinggi, Bogor, Panjalu (Ciamis), Gorontalo, Manado, dan Soppeng (Sulawesi Selatan). Namun virus itu tidak merusak tubuh manusia, bahkan kelelawar tersebut seing dipakai sebagai obat ashma. Hal ini menunjukkan yang sepatutnya kita takuti bukan virus corona-yang sebenarnnya telah ada sejak dulu, tetapi yang harus kita takuti dan lawan adalah orang yang merusak ekosistem alam sendiri.

Dan sialnya, pemerintah Indonesia sedang menggodok RUU Omnimbus Law, yang akan mengundang banyak investor asing supaya masuk ke Indonesia. Bahkan, RUU ini sudah dikenalkan oleh Presiden Jokowi di Australia. Alasan jokowi membuat RUU Omnibus law ini untuk menarik investor masuk ke Indonesia karena kalah dari Vietnam dan Malaysia.

Dalam tujuan pokok pembuatannya, RUU Cipta Kerja adalah upaya penciptaan kerja melalui usaha kemudahan, perlindungan dan pemberdayaan usaha mikro, kecil dan menengah, peningkatan ekosistem investasi dan kemudahan berusaha dan investasi Pemerintah Pusat dan percepatan proyek strategis nasional. Hal ini sangat memungkin masuknya berbagai indusri ke Indonesia.

Sebagai penutup, penulis menyimpulkan bahwa virus corona dan wabah lainya di dunia sangat berhubungan dengan industrialisasi. Apesnya, pemerintah Indonesia memberikan karpet merah industrialisasi untuk datang dan merusak alam Indonesia. Oleh karena itu kita harus siap untuk menjadi negara penyebar wabah dunia, yang mungkin nama wabahnya wabah cimanuk atau wabah flu burung cekak yang sering terjadi di kampung dan tidak terinfeksi manusia. Bisa saja nanti muncul di berita bahwa pasar hewan ekstrim di Tomohon, Sulawesi sebagai penyebar wabah virus seperti pasar hewan Huanan.

*Penulis adalah mahasiswa jurusan Sastra Inggris semester 6 sekaligus pegiat Sanyawana Sastra Inggris dan koordinator Riset, Data dan Informasi di LPM Suaka.

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas