" > 3 mnt membaca"> SIAP Jabar: Tantangan dan Strategi Hadapi Bonus Demografi - Suaka Online
Advertorial

SIAP Jabar: Tantangan dan Strategi Hadapi Bonus Demografi3 mnt membaca

Sejumlah mahasiswa Jurusan Administrasi Publik dari berbagai kampus di Jawa Barat berfoto bersama dengan Kepala Jurusan Administrasi Publik dan jajaran Dekan FISIP UIN SGD Bandung di sela-sela seminar nasional Silaturahmi Administrasi Jawa Barat (SIAP Jabar), di Aula Abdjan Soelaeman, Rabu (11/3/2020). (Aldi Khaerul Fikri/Suaka)

SUAKAONLINE.COM – Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Administrasi Publik UIN SGD Bandung mengadakan seminar nasional bertajuk Silaturahmi Administrasi Publik Jawa Barat (SIAP Jabar) yang bertemakan “Internalisasi Revolusi Mental dalam Penyelenggaraan Pemerintah untuk Menghadapi Bonus Demografi di Jawa Barat” di Aula Abdjan Soelaeman, Rabu (11/3/2020). Seminar ini bertujuan untuk melakukan pendalam keilmuan, meningkatkan intelektualitas dan mempererat silaturahmi bagi Mahasiswa Administrasi Publik Se-Jawa Barat.

Menurut Ketua Pelaksana seminar SIAP Jabar, Farhan Rahmawan Halim, seminar ini diikuti oleh 13 delegasi jurusan Adminsitrasi Publik dengan kampus yang berbeda di lingkup Provinsi Jawa Barat. “Tahun lalu hanya ada enam delegasi, dan alhamdulillah tahun sekarang ada 13 delegasi dari berbagai kampus se-Jawa Barat. Paling jauh mungkin dari Depok ada Universitas Indonesia, terus dari Sukabumi, Cirebon dan lain sebagainya,” ungkapnya.

Ada tiga rangkaian acara dalam waktu tiga hari dari SIAP Jabar ini, salah satunya adalah Seminar Nasional yang diisi oleh tiga pembicara, yaitu: Akademisi dan Pengamat Kebijakan Publik, Yogi Suprayogi, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Jawa Barat, M. Taufiq Budi Santoso, dan Pengamatan Kebijakan Milenials Rifky Issac Prasadana.

Yogi Suprayogi memaparkan materi tentang reformasi birokrasi 4.0. Menurutnya banyak Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang masih berfikir manual di era revolusi industri 4.0 ini. “Jadi masih banyak PNS yang berfikir manual, nah ini menjadi tantangan ke depan bagi mahasiswa setelah lulus jadi sarjana administrasi publik di era of competence,” tutur Yogi.

Ia melanjutkan di periode kedua bahwa ada rencana dari Presiden Joko Widodo pada tahun 2020, PNS akan digantikan robot, khususnya bagi PNS esselon tiga dan empat. “PNS akan diganti dengan robot, tantangannya ke depan adalah calon-calon PNS dimasa depan harus mempunyai keahlian programing,” imbuhnya.

Tak hanya itu, Rifky Issac Pradana, berpendapat tentang pentingnya critical thingking yang harus disiapkan generasi-Z ketika selesai mengenyam bangku kuliah. “Yang sangat penting ketika setelah lulus dari kampus adalah critical thinking, karena kita ada di era post truth, dimana kebohongan dan kebenaran sulit dibedakan. Dimana platform-platform semakin berkembang dan arus informasi tidak bisa dibendung,” ujar Rifky.

Rifky menambahkan, untuk menyongsong generasi emas dimasa mendatang hal yang harus dilakukan adalah melalui pendidikan sains dan teknologi. Ia menambahkan bahwa generasi saat ini harus berfikir kritis dalam mencerna informasi konspirasi dan mitos lalu saling berkolaborasi dan menghilangkan ego almamater, ego politik dan ego ideologi.

Dalam Seminar Nasional ini, Kepala Bappeda Provinsi Jawa Barat, M. Taufiq Budi Santoso menjadi pemateri terakhir. Ia memaparkan strategi untuk memajukan Indeks Pembangunan Pemuda (IPP) di daerah Jawa Barat. Strategi yang harus dilakukan adalah dengan membentuk tim khusus yang terdiri dari akademisi, pemerintah, dan swasta untuk bersama-sama bertanggung jawab dan merumuskan rencana bersama.

Reporter: Aldy Khaerul Fikri/ Suaka

Redaktur: Awla Rajul/Suaka

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas