
Oleh: Mujahidah Aqilah*
Pandanganku kabur karena hujan
Riuhnya menemani sepanjang jalan
Sambil mengingat perjalanan masih panjang
Oh, masih lamakah tempat pulang?
Di depan, kulihat pemandangan
Insan sibuk menatih kendaraan
Betis, paha, hingga pinggang
Diselimuti genangan air hujan
Aspal menjelma sungai dadakan
Selokan menyerah pada musim
Air mencari jalannya sendiri
Sebab kota lupa memberi ruang baginya
Kutoleh langit, terlihat rel kereta
Berlari cepat, memancarkan mewahnya
Tak tersentuh air, tak terseret lumpur
Oh Tuan, inikah wajah pembangunanmu?
Di bawah rel, kami belajar sabar
Menunggu surut yang tak pernah tepat waktu
Payung bocor, sepatu tenggelam
Janji-janji ikut hanyut bersama arus
Bagaimana bisa Sang Penguasa
Bercakap kepentingan atas nama rakyatnya
Saat kesenjangan terpampang nyata
Tuan, rakyat yang mana?
Kau bangun beton menghadap langit
Namun lupa tanah butuh jalan air
Kau rapikan kota di atas peta
Tapi membiarkan kami berenang di jalanan
Oh, Tuan
Apa aku bukan rakyatmu?
Kita sama-sama insan
Namun nasibku lebih pilu
Pandanganku kabur bukan lagi karena hujan
Air mata bercampur genangan
Bukan banjir yang paling menyakitkan
Melainkan kebijakan yang tak pernah membawaku pulang
*Penulis merupakan mahasiswa jurusan Hukum Pidana Islam 2023 dan merupakan pengurus LPM Suaka 2025

