
SUAKAONLINE.COM – Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day), Aliansi Simpul Puan menggelar aksi long march dari Jalan Asia-Afrika hingga Teras Cikapundung, Kota Bandung, pada Minggu (8/3/2026). Aksi yang merupakan agenda tahunan ini mengusung tema “Perempuan Bangkit Kembali, Hancurkan Jeruji Fasisme”, dilatarbelakangi oleh kondisi perempuan yang dinilai masih mengalami diskriminasi dan represi hingga kini.
Dinamisator lapangan aksi, Revaluna, menjelaskan bahwa tema tahun ini tak terlepas dari tindakan pemerintah yang menunjukkan ciri-ciri fasisme. Ia juga menyinggung kasus tahanan politik pada Agustus 2025 dinilainya sebagai bentuk fasisme dan berbahaya karena hanya mementingkan kepentingan individu atau kelompok tertentu. “Banyaklah ciri-ciri fasis yang sudah ditunjukkan oleh pemerintah. Sebelum menuju ke fasis betulan, kita harus melawan jeruji fasis itu,” tegasnya, Minggu (8/3/2026).
May sebagai dinamisator lapangan aksi juga menyoroti bahwa perempuan masih berada pada posisi yang paling rentan. Mulai dari menjadi buruh dengan upah rendah dan kondisi kerja yang tidak pasti, hingga dalam sektor pendidikan dan kesehatan perempuan terus menghadapi praktik komersialisasi.
Aksi tersebut menyerukan sejumlah tuntutan, diantaranya penghentian seluruh bentuk kekerasan berbasis gender, pencabutan Undang-Undang Cipta Kerja, hentikan eksploitasi buruh, arahkan penggunaan AI untuk kesejahteraan rakyat, serta penolakan terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Lebih lanjut, May menyampaikan keprihatinannya terhadap maraknya kasus pembunuhan terhadap perempuan atau femisida yang masih terjadi di berbagai wilayah Indonesia. “Di mana hal ini juga nggak lepas dari aspek gender, perempuan selalu dipandang lemah sehingga lebih mudah ditindas dan bahkan direnggut nyawanya,” ungkapnya.
Revaluna juga menambahkan bahwa persoalan di tingkat universitas tidak luput dari perhatian. Menurutnya, kasus pelecehan seksual masih kerap terjadi di lingkungan kampus. “Para korban sering mengalami trauma dan kesulitan untuk adaptasi kembali dengan lingkungan, tapi pelaku justru nggak mendapatkan sanksi yang tegas,” lirihnya.
Sejalan dengan itu, salah satu anggota komunitas Girl Up, Ayla, turut bersuara. Ia menyampaikan kekhawatirannya terhadap penggunaan AI sebagai alat baru bagi kekerasan berbasis gender online (KBGO), disebabkan maraknya pembuatan generatif foto perempuan yang tidak senonoh.
Selain itu, ia mengatakan keterlibatannya dalam aksi ini ialah untuk mendukung ruang aman bagi perempuan dan minoritas, serta mengekspresikan diri tanpa diskriminasi. Ayla juga berharap agar tuntutan perempuan didengar dan direspons, “Untuk isu-isu yang emang udah besar banget, kayak isu-isu konflik agraria, kemudian juga MBG yang mendampak ke perempuan, aku harap seenggaknya ada yang bisa direspon dan mendapat solusi,” tutupnya.
Reporter: Rifki Fadillah/Magang
Redaktur: Zahra Zakkiyah/Suaka

