Ngariung Wanoja Buka Ruang bagi Perempuan Bersuara

Date:

- Advertisement -
Sejumlah orang tengah berdiskusi tentang isu perempuan dalam menjalani asam pahit kehidupan, Minggu (8/3/2026). Foto: CJ Maula Ariansyah/Magang

SUAKAONLINE.COM– Tidak semua perempuan memiliki ruang aman untuk bercerita tentang  asam pahit kehidupan yang pernah mereka alami. Bagi sebagian penyintas kekerasan, keberanian untuk membuka suara sering kali harus berhadapan dengan stigma, penghakiman, hingga anggapan bahwa pengalaman mereka hanyalah sesuatu yang dilebih-lebihkan.

Keresahan itu mengemuka dalam sebuah diskusi perempuan bertajuk “Ngariung Wanoja” yang digelar di Perpustakaan Bunga di Tembok, Jl. Pasirluyu Timur Nomor 117A Kota Bandung, Minggu (8/3/2026). Pertemuan yang bertepatan dengan momentum Hari Perempuan Internasional itu menjadi ruang untuk saling mendengar dan memahami pengalaman satu sama lain.

Diskusi ini diinisiasi oleh sejumlah kolektif yang bergerak dalam isu sosial dan gender, di antaranya Bandung Bergerak, Gender Research Study Center (GRIT), Women’s Crisis Center (WCC) Pasundan Durebang, Jaringan Kerja Antar Umat Beragama (Jakartarub), dan Inti Muda Jawa Barat. Melalui pertemuan santai yang dikemas dalam obrolan sore hari itu, para penyelenggara berharap perempuan memiliki tempat untuk menumpahkan cerita yang selama ini sering terpendam.

Salah satu penggagas diskusi dari Jakatarub, Cici, mengatakan pengalaman perempuan kerap kali tidak mendapatkan ruang yang layak untuk didengar. “Selama ini suara perempuan masih sering dibungkam, baik di rumah, di masyarakat, bahkan oleh negara,” ujar Cici saat diwawancarai Suaka usai diskusi, Minggu (8/3/2026).

Bagi Cici, kemuakan terhadap kondisi tersebut justru menjadi energi untuk terus bergerak bersama. Ia percaya bahwa solidaritas perempuan akan selalu menemukan jalannya, bahkan ketika berbagai hambatan berusaha meredam suara mereka. “Secapek apapun, pasti akan tetap ada suara,” tambahnya.

Salah satu peserta diskusi yang merupakan penyintas kekerasan, Putri (Bukan nama sebenarnya),  turut membagikan pengalamannya. Ia mengaku, pada awalnya tidak menyadari bahwa situasi yang ia alami termasuk bentuk kekerasan. Bagi dirinya saat itu, konflik yang datang dan pergi dalam hubungan terasa seperti dinamika biasa yang dianggap wajar terjadi.

Seiring waktu, rasa tidak nyaman itu berubah menjadi ketakutan yang terus mengikuti hari-harinya. Ia merasa harus selalu waspada terhadap berbagai kemungkinan yang dapat memicu pertengkaran atau tekanan emosional. Perasaan itu membuat hidupnya terasa seperti berada di medan perang, di mana setiap langkah harus dipikirkan dengan hati-hati agar tidak memicu situasi yang lebih buruk.

Dorongan untuk keluar dari situasi tersebut akhirnya membawanya mencari bantuan profesional. Ia menjalani proses konseling selama kurang lebih satu tahun di WCC Pasundan Durebang. Proses pemulihan itu tidak berlangsung mudah, karena trauma yang dialami kerap muncul kembali dalam bentuk serangan panik, rasa gemetar mendadak, bahkan hingga harus mendapatkan perawatan medis.

Selain menghadapi luka psikologis, ia juga harus berhadapan dengan stigma dari lingkungan. Ketika mencoba bercerita kepada beberapa orang, respons yang ia terima justru sering meremehkan pengalaman yang ia rasakan. “Ketika mau cerita, sering dibilang lebay atau baperan. Padahal dampaknya nyata, bukan hanya mental tapi juga fisik. Kadang yang dibutuhkan sebenarnya sederhana, cuma ingin didengar,” katanya.

Menurutnya, banyak orang terburu-buru menawarkan solusi tanpa benar-benar memahami perasaan korban. Padahal, bagi penyintas kekerasan, proses pemulihan tidak selalu bisa dipercepat dengan nasihat atau arahan yang instan. Hal yang paling dibutuhkan justru adalah ruang yang aman untuk berbicara tanpa takut dihakimi. “Kadang kita cuma ingin ada yang mendengarkan,” ujarnya.

Melalui diskusi ini, penyelenggara berharap semakin banyak perempuan yang memiliki keberanian untuk membuka suara. “Harapan kita, teman-teman yang di kegiatan hari ini bisa sedikitnya punya ruang untuk bercerita,” pungkas Cici di akhir wawancaranya. 

Reporter: CJ Maula Ariansyah/Magang
Redaktur: Muhamad Seha/Suaka

Share post:

Popular

Berita Terkait

Diskusi Impunitas Pelanggaran HAM dalam Merawat Ingatan September Hitam

SUAKAONLINE.COM – Pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan kekerasan...

Desak Evaluasi Program Prabowo-Gibran, Mahasiswa Gaungkan “Merebut Kemerdekaan”

SUAKAONLINE.COM – Serikat Mahasiswa Jawa Barat Bergerak (SMJBB) menggelar...

Sidang Kedua Tahanan Aksi May Day 2026, Saksi Tak Ketahui Pelaku Pembakaran Pos Polisi

SUAKAONLINE.COM — Sidang kedua sembilan tahanan aksi May Day...

Sidang Perdana Sepuluh Terdakwa Aksi May Day 2026 Digelar, JPU Uraikan Dakwaan dan Ancaman Pidana Tujuh Tahun

SUAKAONLINE.COM — Sidang perdana sepuluh tahanan aksi May Day...