
Oleh: Nur Muhamad Iskandar*
Mungkin tanganku akan muncul dari tanah kubur,
merangkak mencari layar ponsel,
berusaha memutar lagu yang sering ku dengar.
Suatu saat jika di kosanmu terputar lagu favoritku,
aku pasti akan muncul di sudut atas ruangan,
dengan wajah memasang senyum.
Dan hari-hari berolahraga tiba,
ketika kau pasang earphone di telinga,
lagu apapun yang sedang kau dengar,
akan muncul ingatan-ingatan
tentangku yang senantiasa
mengapresiasi atau menghujat suatu lagu.
Musik yang ku suka akan menyiksa kepalamu,
dan suaranya perlahan-lahan mengeras
menyuruh telingamu untuk meledak segera.
Musik yang tidak ku suka jadi beban di pundakmu,
dan kata-kata ejekan yang kulontarkan
untuk lagu itu semakin perih di hati,
seolah-olah pribadi dan karaktermulah
yang sedang ku cemooh.
Kau ingat-ingat lagi ketika aku bercerita
tentang musisi rock alternatif, hardcore, emo,
pop, pop punk yang sering kuceritakan.
Atau bahkan kau coba melupakannya,
karena seharusnya aku tenang di alam sana,
tak perlu lagi hidup di alam pikiranmu.
Dan di balik semua itu kau rindu.
Dan di balik semua itu,
aku tidak akan bisa melakukan itu lagi di depanmu.
Aku sudah mati,
tapi apa yang kuperdengarkan ke telingamu
terus mengikutimu, tak peduli saat itu jam berapa
napas dan nadiku hidup lagi di sana.
*Penulis merupakan alumni mahasiswa Jurusan Ilmu Al Qur’an dan Tafsir UIN Sunan Gunung Djati Bandung

