
SUAKAONLINE.COM – Ratusan warga Kampung Cirendeu menggelar perayaan Tutup Tahun dan Ngemban Tahun Baru Saka Sunda 1959 di Kampung Adat Cireundeu, Kota Cimahi, Jawa Barat, Sabtu (12/7/2025). Pergantian tahun ini dirayakan secara meriah diikuti oleh masyarakat dari berbagai daerah.
Sebuah perayaan yang menandai berakhirnya tahun 1958 dan dimulainya tahun 1959, sebagai bagian dari tradisi masyarakat untuk menutup tahun lama dan menyambut tahun baru dalam sistem penanggalan sunda. Tradisi ini juga merupakan bagian dari bentuk syukur masyarakat terhadap anugerah yang diterima selama satu tahun terakhir.
Seperti tahun- tahun sebelumnya, perayaan tersebut tetap mengusung tema yang sama, yaitu “Mugia Akur Rukun, Repeh, Rapih Sareng Sasama”. Tema yang bermakna harapan agar masyarakat hidup rukun, tertib, dan saling menghargai dalam keberagaman, serta pentingnya menjaga keharmonisan sosial di tengah masyarakat yang beragam.
Ketua acara, Dandy, menjelaskan bahwa ada alasan tersendiri mengapa tema tersebut tidak berganti, selain warisan turun-temurun tema tersebut juga menjadi relevan karena banyak pihak yang terlibat aktif untuk membantu jalanya acara. Keterlibatan mereka menjadi gambaran dari kerukunan umat penganut kepercayaan yang berada di kampung cireundeu dengan umat lainya.
Dandy menjelaskan bahwa “Kami tetap mengusung tema itu dari dulu dan tidak pernah ganti karna. Pertama, yang terlibat dalam perayaan ini bukan hanya masyarakat adat, tetapi juga seluruh warga Cireundeu. Di kampung ini ada dua keyakinan yang hidup berdampingan, yaitu penghayat Sunda Wiwitan dan Islam,” jelasnya, Sabtu (12/7/2025).
Rangkaian acara dimulai sepanjang hari, yang diawali dengan ritual Ngajayak, penampilan Angklung Buncis, permainan tradisional Kaulinan Barudak, pertunjukan seni tari, hingga penampilan Gondang Kreasi. Seluruh pertunjukan didominasi oleh keterlibatan generasi muda Kampung Cireundeu, mulai nak-anak dan remaja tampil aktif membawakan berbagai pertunjukan seni.
Ketua Pengelola Pariwisata Kampung Cireundeu, Kang Yana mengatakan bahwa Perayaan Tahun Baru Saka Sunda di Kampung Cireundeu ini tidak hanya menjadi momen untuk menyambut tahun, tetapi juga menjadi ajakan kolektif untuk terus menjaga, merawat, dan menghidupkan kembali budaya Sunda di tengah arus globalisasi.
“Konsep kami adalah ‘ngigelan zaman’, yaitu menyesuaikan tradisi dengan perkembangan zaman. Karna hari ini kita mengalami degradasi kebudayaan lokal, tradisinya mulai hilang maka dari itu dalam Acara adat ini Kita kemas menjadi momentum kelas pelestarian kebudayaan dalam bentuk seni Pertunjukan, anak-anak” katanya, Sabtu (12/7/2025).
Salah satu pengunjung tetap, Umi Adam, yang juga aktif dalam kesenian sunda mengaku kagum atas keterlibatan anak-anak dalam acara ini. Selain itu, ia juga berharap bahwa generasi muda tetap melestarikan seni sunda dan jangan sampai seni-seni tersebut tenggelam.
Ia mengakui bahwa “Senang sekali melihat generasi muda aktif dalam kegiatan ini. Semoga saja mereka terus melestarikan budaya Sunda. Jangan sampai seni-seni Sunda tenggelam apalagi seni sunda buhun,” ujarnya, Sabtu (12/7/2025).

