[Suakaonline]- Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras) menggelar pameran foto dan diskusi bertajuk : Berjuang untuk Hak Asasi Manusia, kamis (24/10). Bertempat di Gedung Indonesia Menggugat.
Diskusi yang diisi oleh Haris Azhar Koordinator Kontras serta Bernard Maukar salah seorang aktivis HAM tersebut membahas bagaimana orang – orang yang memperjuangkan hak – hak mereka yang menjadi bulan – bulanan para penguasa. Padahal hak yang diperjuangkan merupakan hak yang patut terpenuhi dan dimiliki setiap warga Negara Republik Indonesia.
“Hak asasi bukanlah hak yang berada diatas kertas saja, tetapi lebih dari itu. Memperjuangkan hak – hak yang lain secara bersama – sama karena hak tidak dapat berdiri sendiri, ia patut diperjuangkan,” Ungkap Haris Azhar koordinator Kontras di Gedung Indonesia Menggugat Kamis (24/10).
Seperti yang dialami oleh Bernard Maukar. Seorang pendeta yang memperjuangkan haknya untuk beribadat. “Saya memperjuangkan hak atas kebebasan beragama, beribadah dan berkeyakinan untuk jema’at,” ujar pendeta Gereja Pentakosta Indonesia (GPDI) Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.
Ia terus memperjuangkan hak para jamaatnya untuk beribadah dan mendirikan tempat beribadah yang sudah jelas dijamin dalam konstitusi.
Men-cap mayoritas minoritas pada kelompok tertentu membuktikan bahwa salah kaprah dalam menilai hak yang sama sebagai manusia. Jika setiap orang dapat terpenuhi hak – hak nya dan menjadi selaras antara kelompok atau golongan tertentu. Tentu masih ada rasa optimis menuju masa depan hak asasi manusia yang lebih baik.
Sementara itu dalam acara tersebut, Kontras memamerkan foto-foto para aktivis hak asasi manusia dari berbagai wilayah di Indonesia. Bahkan lintas profesi. Seperti Muzakir di Aceh, Ngadinah seorang buruh perempuan dan Widji Thukul seorang penyair yang hilang akibat syair – syair nya yang menohok pemerintah.

