
Oleh: Adhiim Hafiidh*
Pandanganku menembus sunyi yang panjang
Hingga kudapati sosok dalam malam yang tenang
Langit di hadapannya terasa jauh
Namun, doanya terus mengangkasa, tumbuh, dan utuh
Ibu,
Tak satu pun namamu kau selipkan dalam doa
Tak satu pun hasratmu kau pinta pada-Nya
Yang kau selipkan hanyalah aku
Sungguh mulia dirimu, tak berharap apa pun dariku
Aku melangkah jauh tanpa banyak tanya
Menyusuri hidup, entah kemana arahnya
Tak kusadar doamu berjaga
Menahan runtuhku dari luka yang hampir menyapa
Saat bayanganku menolak runtuh
Saat hidup membentangkan jalan yang teduh
Saat kasih menyalurkan tangan tanpa aba-aba
Aku tahu, doamulah yang menggerakannya
Kini namaku disanjung dunia.
Dikelilingi pujian dan sorotan cahaya.
Namun, sebelum cahaya itu sampai padaku
Lenteramu telah bermunajat lebih dulu
Ibu,
Jika hidupku hari ini disebut kemenangan
Maka doamulah awal dari segala perjuangan
Bila kelak aku mampu membalas doa-doamu
Namamu yang kupanjatkan setiap waktu
*Penulis merupakan mahasiswa jurusan Psikologi 2023 dan merupakan pengurus LPM Suaka 2025

