Lentera di Tangan Ibu

Date:

- Advertisement -
Ilustrasi: M. Shibghoh Kuncoro P./Suaka

Oleh: Adhiim Hafiidh*

Pandanganku menembus sunyi yang panjang
Hingga kudapati sosok dalam malam yang tenang 
Langit di hadapannya terasa jauh
Namun, doanya terus mengangkasa, tumbuh, dan utuh

Ibu,
Tak satu pun namamu kau selipkan dalam doa
Tak satu pun hasratmu kau pinta pada-Nya
Yang kau selipkan hanyalah aku

Sungguh mulia dirimu, tak berharap apa pun dariku
Aku melangkah jauh tanpa banyak tanya
Menyusuri hidup, entah kemana arahnya
Tak kusadar doamu berjaga 
Menahan runtuhku dari luka yang hampir menyapa


Saat bayanganku menolak runtuh
Saat hidup membentangkan jalan yang teduh
Saat kasih menyalurkan tangan tanpa aba-aba
Aku tahu, doamulah yang menggerakannya

Kini namaku disanjung  dunia.
Dikelilingi pujian dan sorotan cahaya.
Namun, sebelum cahaya itu sampai padaku
Lenteramu telah bermunajat lebih dulu

Ibu,
Jika hidupku hari ini disebut kemenangan
Maka doamulah awal dari segala perjuangan
Bila kelak aku mampu membalas doa-doamu
Namamu yang kupanjatkan setiap waktu

*Penulis merupakan mahasiswa jurusan Psikologi 2023 dan merupakan pengurus LPM Suaka 2025

Share post:

Popular

Berita Terkait

Aku Yang Bisu

*Oleh: Qarin Qurnaeni Katanya, aku napas bumiKatanya, aku layaknya urat...

Merdeka, untuk siapa?

*Oleh: Imam Syaban Abdurrahman Delapan puluh satu tahun telah berlalu,bendera...

Sayang, Aku Perempuan

*Oleh: Qonita Razinatul Amani Sayang, aku perempuan Aku lahir bersama...

Di Antara Sembilan Kursi

Mentari pagi mulai merangkak naik, mengantarkan langkah kaki Andre...