" > 2 mnt membaca"> Pameran Seni, Cara Seniman Bangun Komunikasi dengan Publik - Suaka Online
Lintas Kampus

Pameran Seni, Cara Seniman Bangun Komunikasi dengan Publik2 mnt membaca

Seniman Nundang Rundagi sedang mengamati pameran visual yang dipajang di Mataram Coffee, Cicalengka, Sabtu, (22/12/2018). Pameran yang diadakan oleh sekelompok anak muda yang menamakan dirinya Familiar ini adalah slah satu cara mereka untuk mengenalkan seni kepada masyarakat. (Fadhilah Rama/SUAKA).

 

SUAKAONLINE.COM – Mengusung tema ‘Public’ yang dalam bahasa Indonesia  berarti orang banyak atau umum, Komunitas Familiar adakan pameran karya seni visual di Mataram Coffee, Cicalengka, Sabtu (22/12/2018). Familiar merupakan komunitas yang berisikan pemuda ataupun illustrator asal Cicalengka, yang mana komunitas ini berfokus pada kegiatan seni utamanya berupa karya visual.

Mengawali tahun pertama komunitas ini terbentuk, pameran tersebut menjadi agenda perdana mereka yang menampilkan karya seni berupa lukisan dari enam illustrator. Kehadiran illustrator tersebut juga untuk memaparkan filosofi dalam karya yang telah mereka buat. Selain itu, turut hadir pula seniman lokal salah satunya Apih yang juga menjadi pembicara dalam acara tersebut.

Dalam siaran pers yang diterbitkan panitia pelaksana, Ketua Pelaksana, Rizki Fauziah, menjelaskan bahwa tujuan diadaknnya pameran tersebut ialah sebagai sarana untuk berkomunikasi dengan publik atau khalayak ramai melalui perspektif seni.

“Kami pun berusaha mencoba untuk menampilkan bagaimana rupa melihat publik, artinya ini adalah usaha kami untuk saling berkomunikasi dengan publik dan tentang cara kami melihat, mengasihi, dan menghargai,” ujarnya, Jumat (21/12/2018).

Salah satu illustrator, Rifal dalam sesi bincang-bincangnya menjelaskan filososfi dalam karya yang ia buat. Melalui karyanya, ia mencoba  membuka sejarah tentang keberadaan sebuah bangunan gereja yang dulunya pernah ada di Cicalengka. Lukisan yang dibuatnya dalam lima segmen itu memperlihatkan fakta bahwa gereja tersebut hanya sebuah sejarah yang kini sudah tidak ada lagi.

“Lukisan saya itu ada gambar gereja, kenapa gereja karena sejarahnya dulu di Cicalengka ini ada gereja yang sekarang sudah beralih menjadi pasar Cicalengka. Salib gereja itu juga digambarkan hanya berupa bayangan saja menunjukkan bahwa kondisi gereja itu sekarang ini sudah tidak ada lagi,” ungkapnya, Sabtu (22/12/2018).

Mengusung tema hitam putih, dalam karyanya itu Rifal juga menyisipkan filosofi dengan nilai-nilai religiositas. Lukisannya yang berupa lima segmen, berdasar penjelasannya bahwa nominal lima tersebut merujuk pada jumlah shalat dalam sehari.

Di luar konteks itu, pesan lainnya pun yang coba disampaikannya ialah keberadaan gereja pada zaman dulu di Cicalengka sebagai bukti bahwa wilayah itu dulunya sudah terbilang maju. Melalui filosofi itu, Rifal ingin mengajak banyak orang untuk kembali memajukkan daerahnya.

Apih atau yang akrab dipanggil ayah oleh anak-anak muda pegiat seni di Cicalengka, Saat wawancara bersama Suaka, ia bertutur tentang apresiasinya terhadap acara tersebut. Tak lupa ia juga mengungkapkan harapannya kepada seniman muda  untuk mampu berkarya lebih dan terus berproses.

“Melihat teman-teman yang mengadakan acara ini tentunya saya sangat mengapresiasi dan support sekali karena sudah mau mengadakan acara seperti ini. Saya harap teman-teman jangan berhenti berkarya dan terus berproses, dan nanti diharapkan bisa bikin acara yang lebih besar lagi.” tutupnya.

 

Reporter: Abdul Azis Said

Redaktur: Elsa Yulandri

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas