" > 3 mnt membaca"> Pementasan Kapai-kapai Eltra Teater - Suaka Online
Advertorial

Pementasan Kapai-kapai Eltra Teater3 mnt membaca

Dua orang aktor sedang tampil dalam pementasan “Kapai-Kapai”, di Aula Abjan
Solaeman. Kamis, (12/12/2019). Pementasan yang diselenggarakan oleh Tetater
Eltra Jurusan Sasatra inggris ini, memceritakan Abu dan Iyem yang hidup serba
Kekurangan, yang kemudian berimajinasi dengan cermin tipu daya tersebut. (Syifa Nurul/Suaka)

SUAKAONLINE.COM – Rasa haru dan bangga bagi para aktor ketika di hari kedua pementasan pertamanya berujung dengan sukses, di Aula Abjan Solaeman, Kamis (12/12/2019). Pementasan Eltra Terater Jurusan Sastra Inggris yang berjudul “Kapai-Kapai” oleh Arifin C Noer ini dapat diartikan bahwa seolah seolah telah mendapat sesuatu padahal tidak mendapat apa apa.

Sosok Abu yang merupakan perwujudan dari kemiskinan, kebodohan, dan perbudakan ini harus hidup sesangsara dengan istrinya Iem. Di tengah itu Abu selalu didatengi sosok Ema yang memberikan harapan berupa cermin tipu daya dan bisa membuat hidup bahagia, yang menjadikannya sebagai tujuan hidup Abu. Cara mendapatkannya pun mencari ke ujung dunia dan menemukannya di toko Nabi Sulaeman.

Selama hidupnya Abu selalu menghayal tentang cermin tipu daya yang menyebabkan dirinya tidak fokus bekerja dan selalu mendapat teguran oleh atasannya. Hingga akhirnya Abu di pecat karena perusahannya hancur, kemudian Abu bekerja lagi dengan orang china dan berakhir tidak lama. Setelah mendapat dua kali pemecatan, Iyem berniat untuk membunuh anaknya yang sudah tidak makan berhari-hari karena Abu tidak mampu memenuhi kebutuhan keluarganya.

Iyem kemudian mempercayai cermin tipu daya tersebut dan mencarinya bersama Abu sampai ke pelabuhan lalu menyarankan agar mereka tetap disana dan bertahan hidup dengan meminta minta. Tapi Abu tetap teguh dengan pendiriannya untuk mencari cermim, hingga akhirnya Iyem menyerah dan memilih untuk pergi meninggalkan Abu.  Dipenghujung cerita, sampai akhir hidupnya Abu masih tetap mencari cermin tipu daya yang sebenarnya di pegang oleh Kelam. Abu menghabiskan seluruh hidupnya untuk ber imajinasi tentang cermin tipu daya tersebut tanpa bekerja keras selama di kehidupan nyata.

Sutradara pementasan sekaligus anggota kehormatan Teater Awal, Yayan Kato yang mengungkapkan bahwa dirinya diajak untuk bergabung dalam pementasan ini sejak tujuh bulan. “Kita lakukan proses ini kurang lebih tujuh bulan secara durasi panjangnya, di sisa waktu mereka kuliah, sekitar dua jam, setiap pertemuan satu minggu dua kali kita latihan terus sampai memang akhirnya waktunya sampai panjang prosesnya,” ungkapnya.

Yayan juga menjelaskan bahwa alasan ia memilih naskah tersebut karena luar biasa memiliki makna dan memang ditulis oleh seorang teaterawan Indonesia, juga dapat mengenalkannya kepada Eltra Teater. Naskah tersebut ditulis Arifin C Noer yang menceritakan tentang masyarakat marjinal pada tokoh Abu yang tertindas pada sturktur dan sistem birokrasi ruang kapitalis.

“Saya Berharap kelompok teater ini terus nanti membuat karya untuk kedepannya, sehingga bukan kelompok yang membuat satu garapan. Mudah mudahan juga bisa mandiri tanpa saya kedepannya, saya hanya memulai saja.” Tutupnya.

Pemeran Utama sekaligus Ketua Eltra Teater, Restu Dwi Gilang juga mengungkapkan rasanya menjadi pemeran utama serta kesulitannya mendalami karakter Abu yang bodoh, tidak mengenal Tuhan, polis, miskin, banyak tekanan, dan bagaimana bisa menjadi stress sebab hidup dalam keadaan yang berbeda dengan karakternya.

Reporter : Syifa Nurul Aulia

Redaktur : Lia Kamilah

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas