Penjara, Rumah Siapa?

Date:

- Advertisement -
Ilustrasi: Sofa Nur Alfiah/Suaka

Langit biru mulai dihiasi cahaya jingga, pertanda rembulan tak lama lagi akan menggantikan mentari. Para pekerja mulai berkemas dan pulang, jalanan penuh dan sesak. Kebanyakan orang mengakhiri aktivitasnya sore ini, namun tidak dengan ratusan Mahasiswa yang masih berdiri tegap di depan gedung DPR. Mencari keadilan.

“Reset Indonesia!”

“Warga jaga warga”

Begitu kira-kira tulisan yang mereka acungkan tinggi-tinggi, diselingi orasi. Diantara ratusan mahasiswa itu, Aryo dan keempat temannya ikut bersuara. Maju di garda terdepan. Semuanya berjalan khidmat, sampai para polisi datang. Membuat keributan diantara para demonstran. 

Mahasiswa berlarian, sekuat tenaga menjauh dari para pria dengan seragam coklat. Menggunakan apa saja untuk menutup wajah mereka. Menabrak apa saja di depan mereka. Termasuk Aryo, yang berpencar dengan 4 temannya. Nasib, Aryo dan 9 mahasiswa lain tertangkap, matanya ditutup lakban, kemudian diseret layaknya hewan menuju kantor polisi. Disinilah mereka sekarang, ruangan asing dan lembab. Dituduh sebagai pelaku demo anarkis, dan melakukan demo atas dasar suruhan pihak asing.

“Siapa yang bayar kamu?” Pria dengan seragam coklat bertanya sambil mengayunkan kepal tangan.

“Saya belum dibayar pak, kelak kalau demo ini berhasil, saya dibayar dengan kesejahteraan rakyat,” jawab Aryo, mahasiswa semester akhir yang seharusnya sekarang sedang bergelut dengan tugas akhir, justru berakhir di ruangan menyebalkan ini.

Plak! Satu tamparan keras mendarat di pipi kanan Aryo. Tampak pipinya memerah. “Demo tuh tidak perlu anarkis. Kenapa sampai harus bakar fasilitas? Mahasiswa ini bodoh sekali!” Pria berseragam coklat itu menendang bahu Aryo, satu kali, dua kali, sampai ia merasa puas.

Aryo meringis, bahunya berdenyut nyeri. Dengan suara tersengal dia menjawab, “Bapak tahu? Setiap kamis ada demo yang sangat khidmat, tanpa molotov, tanpa kerusuhan, apa hasilnya? Puluhan tahun pak, puluhan tahun tidak didengar,” ucap Aryo dengan suara bergetar.

“Saya juga sudah bilang ratusan kali, molotov yang saya lempar padam dan tidak mengenai siapapun, kami tidak membakar fasilitas apa-“

Plak! Tamparan memotong ucapan Aryo. Telapak tangan dengan jari-jari kasar itu mendarat sempurna tepat di bibir Aryo. Mahasiswa itu memejamkan mata, mulutnya terasa panas dan beberapa detik kemudian dia merasakan asin di lidahnya. Entah darah atau keringat. Mungkin keduanya.

“Tugas mahasiswa itu belajar, jangan sok jago turun ke jalan. Kamu pikir sudah jadi pahlawan?” Pria itu berteriak tepat di depan wajah Aryo.

“Tugas bapak juga memberikan keamanan, bapak sudah memenuhi tugas bapak?” Timpal Aryo diiringi tawa kecil. Tentu saja menyulut api kemarahan pria dengan perut buncit itu. Maka detik berikutnya, sebuah botol dibenturkan dengan keras tepat di perut Aryo.

Aryo menahan teriakannya, perutnya terasa perih bahkan mual. Jika memang akan muntah, dia berniat mengarahkan mulutnya pada wajah pria di hadapannya.

“Heh bodoh, siapa yang bayar kamu, hah? Dibayar pakai apa? Nasi bungkus? Warteg bahari? Hahaha, masih lebih mahal rokok saya,” ucap pria itu.

“Saya bukan bapak, baru bergerak jika dibayar,” jawab Aryo lugas. Perutnya masih berdenyut nyeri, namun dia sedikit pun tidak takut dengan orang yang tengah dihadapinya.

Detik berikutnya, pria itu keluar ruangan. Aryo menarik napas dalam-dalam, mungkin akhirnya sesi pukul-pukulan sudah berakhir. Aryo bersandar pada dinding, menutup matanya, menebak-nebak berapa banyak luka di tubuhnya saat ini.

Bug! Sebuah benda keras mengenai kepala Aryo, kepalanya terasa sangat pusing. Aryo berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Ternyata, pria itu kembali dan baru saja memukul kepala Aryo dengan sebuah hekter. Aryo merasa sekelilingnya buram, telinganya seperti ditutup oleh kedua tangan. Sesaat kemudian semuanya gelap, Aryo jatuh pingsan.

Di sisi kanan dan kiri Aryo terlihat 9 mahasiswa lain yang juga diperlakukan sama seperti dirinya. Sekitar 30 menit interogasi, atau lebih tepatnya 30 menit para mahasiswa itu disuguhi pukulan, tamparan, dan tendangan. 

Ketika Aryo mendapatkan kembali kesadarannya, ia melihat para pria berseragam coklat menyeret seseorang yang sangat dikenalnya.

“Nathan?” pekik Aryo, melihat temannya diseret polisi untuk bergabung bersamanya.

“Tommy dan Martin juga bakal menyusul, polisi sudah dapat alamat mereka,” jawab Nathan berbisik, meskipun beberapa detik lalu para pemukul tadi baru saja meninggalkan ruangan. Entah sedang menyiapkan apa.

“Kamu kenapa bisa sampai ke sini?” Aryo ikut memelankan suaranya.

“Mereka masuk ke perumahan, bilang ke warga mau cari orang yang terlibat narkoba. Padahal mau tangkap orang-orang yang ikut demo,” jawab Nathan.

“Semua orang yang kemungkinan mahasiswa ditanya, yang jawab ikut demo pasti ditangkap,” lanjutnya.

“Oh iya, kalau Rapi?” Mengingat satu temannya itu juga tidak nampak di tempat ini, semoga tidak ditangkap.

Nathan menggeleng, sejak mereka berlarian sore tadi, belum terdengar kabar tentang Rapi.

“Mau tahu yang paling konyol?” Nathan terkekeh kecil.

“Apa?” Aryo sedikit menggeser duduknya.

“Saat aku baru sampai, surat penangkapannya baru dibuat,” bisik Nathan, diiringi tawa kecil. Aryo juga terkekeh pelan. Konyol.

***

Dua hari kemudian, seperti dugaan Nathan, dua temannya Tommy dan Martin juga ditangkap. Seminggu kemudian, Rapi juga ditangkap. Kini mereka berlima kembali berkumpul. Bukan di kampus, bukan di kantin. Tapi di ruangan sempit, dingin, dan bau tak sedap. Mungkin karena sudah lama mereka tidak menyentuh air, atau mungkin karena keringat yang muncul dan kering sendiri.

Mereka berlima duduk dengan lesu, selama ini ditetapkan sebagai tersangka dan selama ini juga pukulan menyapa kulit mereka setiap hari. Belum lagi kata-kata tak manusiawi yang kerap kali dilontarkan. Semua jadi makanan sehari-hari. Berbagai tekanan membuat mereka tak banyak bicara, mungkin karena bibir mereka juga terluka.

“Tebak? Yang berhasil keluar dari sini, hanya nama kita atau berikut jasadnya?” Tiba-tiba Tommy memecah hening, mereka baru saja menyelesaikan kegiatan “rutin” yang meninggalkan bekas memar di luar dan trauma di dalam.

Keempat temannya tersenyum miris, lebih tepatnya hati-hati karena bibir mereka masih terasa perih.

“Kita pasti pulang Tom, bisa jadi pekan depan, bulan depan, bahkan tahun depan. Tapi kita pasti pulang,” jawab Aryo sedikit berbisik.

Terhitung sudah empat pekan mereka tinggal di rumah tahanan, namun masih belum keluar putusan yang jelas.

“Kangen kampus, kangen pangyam, kangen kumpul di kosan Aryo kalau kelas diganti jadi online.” Itu suara Nathan, hampir tidak terdengar saking pelannya.

Keempat temannya tertawa, bukan karena ucapan Nathan lucu, tapi menertawakan nasib mereka. Hari-hari normal di kampus tiba-tiba digantikan ruangan menyebalkan ini.

“Aku bahkan sudah lupa judul skripsiku, umpatan mereka memenuhi setiap sel otak, brengsek!” Umpat Rapi sambil mengusap memar di kakinya.

“Aku juga sudah lupa hutang-hutang di kantin, setiap pukulan mengurangi memori,” sahut Martin.

Hening lagi, semua tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Apakah tuntutan mereka sudah didengar? Apakah di luar sana sudah aman? Apakah para tikus rakus penyebab demo ini sudah ditendang dari sarangnya? Apakah nyawa yang melayang sudah diadili pelakunya?

Sedikit sekali informasi yang bisa didapatkan dari dalam ini, penjengukan juga sangat terbatas. Sekalipun diizinkan menjenguk, semuanya diawasi dengan ketat. Menyebalkan.

Keheningan berakhir saat seorang petugas menghampiri dan mengabari ada yang ingin menjenguk Aryo.

Aryo segera berdiri dan mengikuti langkah petugas itu, sudut bibirnya sedikit terangkat. Kakaknya berjanji untuk berkunjung lagi di pertemuan terakhir mereka, Aryo sudah sangat merindukannya.

“Gimana kabar bapak sama Ibu?” tanya Aryo segera saat berhadapan dengan kakaknya.

“Baik, sekarang mereka sering tidur di kamar kamu, ibu bahkan bisa seharian bersih-bersih di situ. Katanya, biar kamu bisa langsung istirahat saat pulang,” jawab kakak Aryo.

“Bapak sering mancing sendirian, katanya mancing paling seru cuma sama Aryo. Jadi bapak pakai topi kamu kalau mancing, katanya itu jimat biar dapat ikan besar,” lanjutnya.

Mata Aryo memanas, dan sesaat kemudian buliran bening mengalir di pipinya yang mulai tirus. Aryo sangat merindukan rumahnya, kamarnya, bau balsem bapak, dan wangi soto masakan ibu.

“Kalau tikus-tikus apa kabar?” Aryo beralih ke pertanyaan lain.

“Payah, cuma dinonaktifkan, bisa jadi kalau berita demo sudah reda dia kembali ke sarangnya.” Jawaban yang sangat tidak memuaskan.

“Pejabat bodoh!” Umpat Aryo.

“Oh iya, tadi pengacara berkabar soal permintaan salinan file skripsi. Katanya, tidak ada file skripsi di laptop itu. Aku sudah minta biar kamu cek sendiri, tapi dilarang,” ucap kakak Aryo.

“Aparat bodoh!” Umpat Aryo, sekali lagi.

***

Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Hal yang belum juga diganti adalah tikus-tikus rakus di gedung yang menjadi titik demo beberapa waktu lalu.

Sedikit demi sedikit demo itu terlupakan. Trending sosial media sudah digantikan isu perselingkuhan, poster-poster berisi tuntutan sudah mulai berjatuhan. Namun PR yang rakyat berikan melalui tuntutan belum juga diselesaikan.

Ketika semua orang sudah kembali dengan pekerjaannya masing-masing, itu tidak berlaku untuk Aryo dan keempat temannya. Sejak pertama kali ditangkap bulan Agustus, mereka masih saja mendekam di rutan. Seakan peristiwa demo itu tidak akan pernah selesai bagi mereka.

“Besok sidang vonis, jangan nyerah dulu. Kita bisa pulang.” Aryo menatap wajah temannya satu per satu. Berbulan-bulan di tempat ini merusak mental, jika sebulan pertama mereka masih bisa bicara soal pangyam mana yang akan pertama kali mereka datangi setelah keluar dari rutan? Maka saat ini, mereka bahkan sudah tidak yakin apakah mereka bisa benar-benar dibebaskan.

“Kalau memang harus masuk lapas, aku berharap semoga setidaknya tuntutan kita tempo hari sudah dipenuhi,” sahut Martin.

“Atau setidaknya, orang-orang biadab itu ditendang dari tempatnya,” tambah Nathan.

“Apapun hasil sidang vonis, sejak awal kita sudah benar.” Kalimat Aryo menutup percakapan malam itu.

***

Pagi hari pukul sepuluh. Aryo dan keempat temannya mengenakan kemeja putih, peci hitam, dan celana hitam. Pagi ini, akan diputuskan apakah mereka akan melanjutkan hidup di lapas atau di rumah.

Ketika sampai di pengadilan, hati Aryo cukup menghangat. Terlihat banyak orang dengan pakaian hitam, masing-masing mengangkat tulisan di atas tangan mereka.

“Stop kriminalisasi tahanan massa aksi!”

“Tidak ada kebebasan, sebelum semuanya bebas!”

Begitu kira-kira isi kertas yang diangkat tinggi-tinggi oleh para pengunjung dengan baju serba hitam.

Satu jam berlalu, dan hukuman telah ditetapkan. 2 tahun untuk Aryo dan 1 tahun 4 bulan untuk empat temannya.

Semangat Aryo tadi pagi seperti lilin tertiup angin, padam seketika. Hanya menyisakan asap kekecewaan. Bayangan tentang soto masakan ibu, bau balsem bapak, dan kampusnya yang dia sendiri tidak yakin apakah bisa melanjutkan belajar di sana. Semuanya berputar di kepala Aryo.

Beberapa pekan kemudian, terdengar kabar bahwa tikus yang sempat dinonaktifkan telah kembali ke sarangnya.

Penulis: : Qarin Qurnaeni/Magang

Share post:

Popular

Berita Terkait

Aku Yang Bisu

*Oleh: Qarin Qurnaeni Katanya, aku napas bumiKatanya, aku layaknya urat...

Merdeka, untuk siapa?

*Oleh: Imam Syaban Abdurrahman Delapan puluh satu tahun telah berlalu,bendera...

Sayang, Aku Perempuan

*Oleh: Qonita Razinatul Amani Sayang, aku perempuan Aku lahir bersama...

Di Antara Sembilan Kursi

Mentari pagi mulai merangkak naik, mengantarkan langkah kaki Andre...