" > 2 mnt membaca"> Selami Perspektif LGBT Lewat Karya Andri Cung - Suaka Online
Lintas Kampus

Selami Perspektif LGBT Lewat Karya Andri Cung2 mnt membaca

Fil

Andri Chung bersama pemain film The Sun, The Moon and The Hurricane sedang melakukan diskusi film di lantai 2 Gedung Fakultas Filsafat, Universitas Parahyangan (Unpar), Sabtu (14/11/2015) . (Restia A Joneva/ Suaka)

SUAKAONLINE.COM, Bandung– Film-film layar lebar Indonesia yang mengangkat kaum Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender (LGBT) biasanya hanya menampilkan permukaannya saja. Misalnya LGBT yang senang pesta, hedonisme, atau menjadi bahan tertawaan dan lucu-lucuan pemeran utama.

Hal tersebut diungkapkan oleh Sutradara film alternatif, Andri Cung ketika diskusi setelah pemutaran Film The Sun The Moon and The Hurricane garapan Andri, di lantai dua Gedung Fakultas Filsafat, Universitas Parahyangan (Unpar), Sabtu (14/11/2015). Menurut Andri permasalahan kaum LGBT layaknya orang-orang pada umumnya, hanya dengan orintasi seksual yang berbeda.

“Film ini berawal dari kebosanan saya melihat karakter yang ditampilkan di film Indonesia , kemudian dilanjut dengan oborolan saya dan teman-teman, terus saya buka catatan di masa SMA. Hal yang jelas, saya memperlihatkan sisi yang berbeda yaitu tentang kaum LGBT itu sendiri lewat tokoh Kris misalnya, ia mengalami pergolakkan batin dengan apa yang dilakukannya dan diinginkannya,” ujar Andri.

Penjelasan lain juga disampaikan oleh salah satu pemain, Gesata Stella yang berperan sebagai Susan. Gesata mengatakan bermain dalam film tersebut membuat ia candu untuk kembali bekerjasama dengan Andri . Dalam film, Andri menuntut Gesata untuk berada di posisi Susan seutuhnya, bukan menjadi dirinya sendiri. Hal itulah yang kemudian membuat Gesata merasa tertantang untuk menjadi tokoh istri yang bersuamikan seorang gay.

“Di sana saya dituntut untuk memakai sepatunya Susan, bukan lagi saya. Menurut saya, Andri bisa memberikan cerita yang menggambarkan cinta dalam bentuk universal. Meskipun saya merasa menjadi perempuan naif, tapi itu tantangan buat saya, dan saya jadi candu,” jelasnya sembari tersenyum.

Andri sadar film garapannya tidak mungkin diangkat ke layar lebar, karena akan dianggap mengarahkan penonton untuk menyelami kaum LGBT. Padahal menurutnya ia sama seperti sutradara lainnya yang menampilkan kehidupan melalui layar kaca. Namun Andri sadar akan resiko yang akan dihadapi jika memaksakan untuk memutar di layar lebar.

Reporter           : Restia Aidila Joneva

Redaktur          : Isthiqonita

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas