" > 4 mnt membaca"> Sengketa Tamansari : Optimisme Warga dan Dampak Buruk Proses Pembangunan - Suaka Online
Hukum dan Kriminal

Sengketa Tamansari : Optimisme Warga dan Dampak Buruk Proses Pembangunan4 mnt membaca

Salah satu anak dari RW 11 Tamansari bersama Aliansi Rakyat Anti Penggusuran (ARAP) melalukan aksi di depan gedung Pengadilan Tinggi Urusan Negara, Selasa (27/2/2018). Dalam orasinya masa berharap keadilan ditegakan dalam persidangan. Rencananya, sidang dilanjutkan Selasa pekan depan dengan agenda acara penambahan alat bukti dan kesaksian dari perwakilan warga. (Rizal Sunandar/Magang)

SUAKAONLINE.COM- Persidangan Gugatan Warga RW 11 Kelurahan Tamansari Bandung terhadap SK DPKP3 tentang Kompensasi Bangunan, Mekanisme Relokasi dan Pelaksanaan Pembangunan menginjak persidangan ke-7. Persidangan dilaksanakan di Pengadilan Tinggi Urusan Negara (PTUN), Selasa (27/2/2018). Agenda acara kali ini adalah pembuktian dari kedua belah pihak. Berbeda dengan minggu lalu, kali ini sidang dilaksanakan tepat sesuai jadwal, yakni pukul 13.00 WIB.

Sebelum persidangan dimulai, Aliansi Masyarakat Anti Penggusuran (ARAP) bersama warga RW 11 Tamansari melakukan aksi di depan PTUN. Tujuan dilakukannya aksi tersebut untuk menyampaikan aspirasinya atas kesewenang-wenangan Pemkot Bandung melalui SK DPKP3. Dalam orasinya, salah seorang warga, Eva, menyampaikan bahwa indeks kebahagiaan warga Bandung yang mencapai angka diatas rata-rata tidak sesuai dengan apa yang mereka alami. “Katanya indeks kebahagiaan warga Kota Bandung 80 persen, nyatanya itu omong kosong belaka. Kami warga RW 11 Tamansari sama sekali tidak bahagia dengan adanya penggusuran ini,“ tegas Eva dengan suara lantang di tengah padatnya lalu lintas saat itu.

Eva juga mengungkapkan , Kota Bandung yang dinobatkan sebagai kota yang menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia adalah sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan dengan apa yang dialami oleh warga RW 11 Tamansari.

Jalannya Sidang

Tepat pukul 13.00 WIB persidangan dimulai, hakim memanggil kedua belah pihak untuk menyerahkan berkas. 20 menit berselang, hakim mengetuk palu sidang untuk mengakhiri persidangan dengan memutuskan sidang dilanjut selasa pekan depan dengan agenda acara penambahan alat bukti dan kesaksian dari warga asli RW 11 Tamansari dibuktikan dengan Kartu Tanda Pengenal (KTP).

Baca juga:  Hari Raya Galungan, Maknai Kebaikan Melawan Keburukan

Sebelum mengetuk palu, Hakim mengungkapkan berkas dari penggugat harus diperbaiki. Saat ditemui selepas sidang, kuasa hukum penggugat, Ardiansyah menjelaskan jalannya sidang serta menyebutkan perbaikan yang diminta Hakim. “Tadi agendanya tambahan penghadiran bukti yang dipending, tadi P10 PBB tahun 1988, 1990, 2016 hakim hanya minta dipisah (sedangkan) kami dibundel,” ujarnya.

Ketika dimintai keterangan, kuasa hukum tergugat enggan memberikan keterangan. Menyinggung pihak tergugat, Ardiansyah menyebutkan bahwa pihak tergugat pun menyerahkan bukti yang cukup lengkap. “Dia menghadirkan alat bukti yang lengkap artinya sesuai yang diajukan tidak ada yang dipending minggu depan agendanya menghadirkan saksi tiga orang warga,” pungkasnya.

Optimisme memenangkan sidang

Koordinator ARAP, Ilo mengungkapkan pihaknya bersama Warga RW 11 Tamansari optimis untuk memenangkan persidangan ini. Karena dengan kronologi dan alat bukti yang ada, ia berharap hakim memutuskan dengan hati nurani dan menjadi juru adil. “Dilihat dari kronologi persoalan, jika hakim memakai hati nurani karena sebenarnya tanah tamansari itu sudah sejak dulu dari bapaknya pak Sambas. Belum bapaknya, bapaknya pak sambas itu menjadi Rukun Kampung sebanyak 7 kali. Pemerintah mengklaim tanah itu milik pemkot sejak tahun 1921 dan 30,” harapnya.

Terlebih jika berdasarkan kepada aturan yang ada, Ilo mengungkapkan banyak aturan yang dilabrak oleh Pemkot Bandung. Salah satu aturan yang tidak ada itu adalah pembebasan lahan dengan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) sebesar 75 persen. “75 persen ini konon katanya ketika kawan-kawan aliansi cross check ke DPRD dengan SK DPKP3 ini 75 persen ini gak ada. Karena program kotaku ini adalah program nasional. Dalam pos anggarannya ini tidak ada 75 persen karena tidak ada dasar kekuatan yang dibentuk dari notulensi yang secara alas hukum,” tambahnya.

Baca juga:  Hari Raya Galungan, Maknai Kebaikan Melawan Keburukan

Senada dengan Ilo, Eva mengungkapkan rasa optimismenya untuk memenangkan persidangan yang akan menginjak ke-8 ini. “Iya lah saya yakin (akan menang) dipersidangan nanti. Karena semua bukti kita telah berikan sebanyak mungkin,” harap Eva seraya tersenyum.

Warga terbelah menjadi tiga kubu

Polemik antara warga RW 11 Tamansari ternyata bukan hanya berhadapan dengan pihak Pemkot Bandung. Sengketa ini berdampak pada kristalisasi yang terjadi diantara warga. Ilo menjelaskan, Kristalisasi yang terjadi menjadi tiga, pertama yang setuju 20 persen dari NJOP, kedua pihak yang setuju 75 persen dari NJOP dan yang ketiga pihak yang sama sekali tidak setuju untuk dibebaskan tanahnya.

“Keadaan sekarang makin ribet. Mereka berusaha memecah belah warga menjadi tiga kelompok. Pertama, yang 20 persen sesuai NJOP, kedua 75 Persen, ketiga yang menolak secara penuh,” jelas pria yang berambut gimbal ini.

Menurut salah satu warga RW 11 Tamansari, keadaan sosial pun menjadi berubah. Terlihat adanya jarak pihak yang pro dengan pihak yang kontra. “ ibu yang sudah dibebaskan lahannya dulu mah lamun pendak teh seuri, ayeunamah tara seuri (dulu kalau ketemu suka tersenyum, sekarang kalau ketemu tidak pernah senyum)” ujar warga yang tidak mau memberitahu namanya.

Lingkungan Tamansari menjadi Semrawut

Alat berat yang diturunkan terus dibiarkan terparkir di wilayah RW 11, ditambah bangunan-bangunan yang berserakan menutup jalan yang biasa dilewati warga. Hal tersebut menyebabkan warga harus memutar arah. Disana juga banyak tikus berkeliaran dan tak jarang ada ular. Pada malam hari, wilayah RW 11 Tamansari menjadi gelap karena bangunan-bangunan yang dibongkar listriknya telah dicabut. Lampu hanya menyala di 43 dari 90 bangunan.

Baca juga:  Hari Raya Galungan, Maknai Kebaikan Melawan Keburukan

Berdasarkan pengakuan salah satu warga, Sutarno, menyebutkan setelah adanya alat berat lingkungan menjadi kacau. “Keadaan sekarang jadi berantakan, banyak binatang seperti ular, tikus karena kan makin berantakan, “papar pria yang sudah mendiami Tamansari sejak tahun 1960 ini.

 

Reporter : Rizal Sunandar

Redaktur : Nizar Al Fadillah 

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas