Surat untuk Suamiku

Date:

- Advertisement -
Oleh Damae Wardani*

Dears, My Beloved Honey

Bila semilir angin sore membelai mesra daun telingamu, sayang..

Itulah titipan tiupan kasih dari lubuk hati terdalam

Pejaman bola mata indahmu sembari meresapi kecupan mesra sang senja

Berharap rasakan hangatnya pelukku, meski sepintas fatamorgana

Sayang,

Sedang tersenyumkah Kau disana?

Semoga sapaku pada bintang malam, senantiasa menyemai dan mengindahkan mimpimu

Maafkan daku, Kasih..

Maafkan belai semu ini

Bukan kehendak hati tuk tak-mungkinkan berikan kecupan

Bukan pula niatan busuk tuk permainkan

Hanya saja ruang dan waktu seolah usil mengganggu

Menghalangi sekerlip bayang merajut kebersamaan

Dalam indahnya cinta nan halal

Satu yang kutahu,

Kau pria setia, suamiku

Mustahil rasanya hatimu kan mendua

Bak merpati yang mengikat janji

Dirimu yakinkan cinta kita kan abadi

Bila kini Kau terpesona cantik parasku

Berjanjilah tetap cinta walau keriput pipi jelas terlukis nanti

Andai baik hati yang Kau temui,

Semoga Kau pun siap mengubah cacat sikap yang mungkin belum Kau lihat

Kiranya cerdas yang Kau tangkap dariku,

Bersiaplah tak lelah mengajari, kala tulalit menjugde otakku berpenyakit

Jika ramah yang pernah Kau tahu,

Biasakan dirimu saat angkaraku mencabik tak terkendali

Bila nyaman yang Kau dapat dari sisi jiwa ini,

Berikrarlah tetap setia kala galau meracau justru menjamumu setiap waktu

Suamiku,

Kuyakin Kau cintai segudang kelebihan yang katamu melekat padaku

Namun, yakinkan diri ini bila segunung kekurangan pun siap kau terima apa adanya

Bila memang ada yang lebih dariku, kewajibanmu tuk mengimbangi

Bila ada yang kurang darimu, tugasku tuk melengkapi

Pun berlaku sebaliknya

Sayang,

Perahu kehidupan akan terus berlayar

Akan berlabuh, singgah, dan berhenti dimana bahtera ini

Ada ditangan nahkoda keluarga

Mari,

Kita tapaki bersama

Dalam bingkai cinta hakiki

_____

*Penulis adalah Mahasiswi Ilmu Komunikasi Jurnalistik UIN SGD Bandung

Share post:

Popular

Berita Terkait

Aku Yang Bisu

*Oleh: Qarin Qurnaeni Katanya, aku napas bumiKatanya, aku layaknya urat...

Merdeka, untuk siapa?

*Oleh: Imam Syaban Abdurrahman Delapan puluh satu tahun telah berlalu,bendera...

Sayang, Aku Perempuan

*Oleh: Qonita Razinatul Amani Sayang, aku perempuan Aku lahir bersama...

Di Antara Sembilan Kursi

Mentari pagi mulai merangkak naik, mengantarkan langkah kaki Andre...