Pergantian Jas Almamater: Juang Mahasiswa Angkatan 2024

Date:

- Advertisement -
Sejumlah mahasiswa menandatangani daftar hadir sebagai bukti pengambilan jas almamater di Ruang Kemahasiswaan, Lantai 4 Gedung Al-Jamiah, Kampus I UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Rabu (30/7/2025). (Foto: Muhamad Seha/Magang)

SUAKAONLINE.COM – UIN SGD Bandung mengabulkan tuntutan penggantian jas almamater mahasiswa angkatan  2024 yang semula dianggap “ala kadarnya” di Ruang Kemahasiswaan Lt. 4 Gedung Al-Jamiah, Kampus I UIN SGD Bandung, Rabu (30/7/2025). Penggantian jas almamater ini dilatar belakangi mosi ketidakpuasan terhadap kualitas jas almamater yang dimotori oleh komunitas ‘El Ponco’.

Polemik jas almamater yang mencuat dari bulan Januari hingga sekarang kini mencapai titik klimaks. Tuntutan mahasiswa yang dilayangkan pada aksi 25 Februari 2025 kini membuahkan hasil berkat kegigihan mahasiswa angkatan 2024 dalam memperjuangkan hak-haknya sebagai mahasiswa.

Perwakilan komunitas, Faiz Muzaki, menyatakan bahwa tantangan dari tahap diskusi hingga audiensi kerap terjadi dalam memperjuangkan tuntutan ini, kerap kali mereka harus mendorong mahasiswa lainnya untuk berpartisipasi dalam perjuangan. “Mereka mengira ini cuma gerakan segelintir orang. Tapi kini, ribuan mahasiswa angkatan 2024 bisa menikmati jas almamater yang lebih tebal, kancing tak mudah copot, dan jahitan lebih rapi,” ujar Faiz saat diwawancarai Suaka, Rabu (30/7/2025).

Lebih lanjut Faiz menambahkan bahwa tantangan juga datang dari pemangku kepentingan di kampus. Ia menilai bahwa sekadar berdialog dengan pemangku kepentingan kampus pun sulit sehingga isu ini berlangsung cukup lama. “Awalnya susah banget akses birokrat, tapi karena kami konsisten konsolidasi dan audiensi, akhirnya suara kami terdengar juga,” tegasnya.

Perbaikan dan Pengambilan Jas Almamater

Selama kurang lebih tujuh bulan lamanya, kini pihak kampus mengabulkan tuntutan mahasiswa angkatan 2024. Kepala Subtim Bagian (Kasubag) Kemahasiswaan, Muhammad Helmi Kahfi, menjelaskan bahwa tekanan mahasiswa berperan besar dalam realisasi perbaikan jas almamater.

Ia juga menjelaskan bahwa pengambilan jas almamater dilakukan terpusat di Gedung Al-jamiah. Pihaknya membuka mekanisme pengambilan secara bebas waktu demi memfasilitasi mahasiswa yang sedang berada di luar kota. “Yang penting, data penukaran kami catat dan mahasiswa akan diminta membawa KTM sebagai bukti. Sistem ini lebih fleksibel,” tegasnya.

Menyoal jas yang ditukar, Helmi menjelaskan jas yang masih layak akan digunakan kembali.  Pihaknya sering didatangi mahasiswa yang meminta penggantian jas lantaran sudah rusak (karena sudah lama dipakai) sehingga jas ini dapat dimanfaatkan kembali. “Kalau hanya rusak di bagian kecil seperti kancing, bisa kami gunakan untuk mengganti yang rusak dan tidak terbatas pada angkatan 24 saja,” ujarnya.

Selain itu, Helmi menambahkan bahwa jas almamater yang ditukarkan oleh mahasiswa angkatan 2024 tidak akan dibagikan kepada angkatan berikutnya. Ia menegaskan bahwa jika muncul pernyataan seperti itu tidaklah benar karena uang untuk pembuatan jas almamater per tahun sudah dianggarkan. “Itu tidak bisa, pos anggarannya beda,” tutupnya.

Mahasiswa Menanggapi Kualitas Almamater

Salah satu  mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum, Silvyia Amanda Rizki, mengungkapkan bahwa kualitas jas almamater yang baru saja diambilnya lebih bagus dari yang sebelumnya. Ia menilai bahwa kerja keras yang dimotori oleh komunitas elponco ini membuahkan hasil dan ia merasa terwakili aspirasinya. “Saya merasa terbantu dengan perjuangan teman-teman 24 selama ini,” ungkapnya.

Senada dengan yang diungkapkan Silvyia, mahasiswa dari Fakultas Tarbiyah, Syiva Awalia pun mengatakan hal yang sama. Ia merasa terbantu dan bersyukur pihak kampus mau bertanggung jawab. “Alhamdulillah ada tanggung jawab dari pihak dalamnya juga karena kita awalnya tidak mendapat yang sesuai  jasnya, padahal itu hak kita,” tuturnya.

Faiz mengatakan bahwa dengan dikabulkannya tuntutan penggantian jas almamater maka berakhirlah polemik jas almamater ini. Ia menilai bahwa jas almamater terbaru yang dibagikan sudah sesuai tuntutan. “Alhamdulillah jas yang sekarang sudah masuk kategori layak. Kami merasa perjuangan ini akhirnya hampir tuntas,” jelasnya.

Lebih lanjut, Faiz menambahkan bahwa perjuangan ia bersama teman-temannya tidak ingin berhenti di isu almamater semata. Ia menganggap ini sebagai bukti bahwa mahasiswa 2024 telah berani bersuara dan kampus harus terus dikawal. “Semoga untuk mahasiswa angkatan selanjutnya tidak mengalami hal serupa,” tegas Faiz menutup wawancara.

 

Reporter: Muhamad Seha/Magang

Redaktur: Mujahidah Aqilah/Suaka

Share post:

Popular

Berita Terkait

UIN Bandung Lepas 1.500 Wisudawan pada Wisuda ke-109, FSH Kembali Raih Adhi Jati Utama

SUAKAONLINE.COM – UIN SGD Bandung menggelar Wisuda ke-109 dengan...

Diskusi Impunitas Pelanggaran HAM dalam Merawat Ingatan September Hitam

SUAKAONLINE.COM – Pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan kekerasan...

Terhalang UKT, Mahasiswa Baru Menanti Keringanan di Ambang Pengunduran Diri

SUAKAONLINE.COM - Di tengah banyaknya mahasiswa baru yang sudah...

Mahasiswa Baru PBAK 2026 Berceceran, Kurangnya Pengawasan dan Fasilitas Kampus

SUAKAONLINE.COM - Sebanyak 7.503 mahasiswa baru mengikuti Pengenalan Budaya...