
SUAKAONLINE.COM – Teater Awal Bandung menyelenggarakan lomba membaca puisi bertajuk “Piala Rektor #7” di Kampus 1 UIN SGD Bandung, Selasa (16/9/2025). Kegiatan ini menjadi awal dari runtunan acara milad Teater Awal Bandung ke-38 dengan 40 peserta lomba puisi dari mahasiswa UIN SGD Bandung.
Bukan sekadar memperingati hari jadi, acara ini juga menjadi salah satu ajang pelestarian budaya teater, budaya berseni peran, serta budaya kesusastraan terlebih di lingkungan UIN SGD Bandung. “Karena kita bisa lihat juga ya di UIN sendiri untuk acara seni seperti puisi sangat jarang diadakan,” ujar Ketua Umum Teater Awal Bandung, Naufal, Selasa (16/9/2025).
Demi merealisasikan pelestarian budaya itu, tak hanya lomba membaca puisi, namun beragam pertunjukkan teater disuguhkan untuk penonton yang hadir, seperti teater bertajuk Garapan Utuh – Janger Merah, Monolog – Feng Ying, dan Longser – Tiodedad. Acara ini berlangsung selama empat hari berturut-turut, dimulai dari tanggal 16-19 September.
Ketiga pementasan masing-masing memiliki pesan moral yang disampaikan lewat balutan seni teater. “Janger Merah” mengangkat peristiwa 1965 dari perspektif korban, “Feng Ying” bercerita tentang kekerasan rasial yang terjadi di masa lalu, serta “Tiodedad” menghadirkan seni teater yang ringan dan jenaka dalam rangka melestarikan seni tradisi longser khas Sunda.
Naufal mengungkapkan salah satu tantangan saat menghadapi proses penyelenggaraan acara ialah minimnya apresiator dan sering kali mendapat struggle dalam penyetingan panggung dan lapangan. “Gedung Abjan juga ya tau sendirilah, butuh panggung pementasan yang proper dan nyaman untuk acara,” ungkapnya.
Acara ini menuai tanggapan dari salah satu peserta lomba, Sulistiani Ahmad yang mengaku senang dan bangga bisa mengikuti acara ini terlebih dia juga ingin belajar untuk mengembangkan potensinya di lingkungan baru sebagai mahasiswa baru. “Percaya diri itu yang utama, urusan juara atau enggaknya itu masalah hasil,” ujarnya.
Bagi ia, membaca puisi bukan hanya bagian dari seni menulis dan membacakan sebuah karya sastra, namun juga seni dalam mengekspresikan keresahan dalam diri dengan balutan seni puisi. “Dari keresahan pribadi, kaya curhat aja gitu, tapi dijadikan puisi, bukan diary,” tanggapnya.
Jelang setengah abad, Naufal berharap agar Teater Awal Bandung senantiasa berkomitmen melestarikan kesusastraan, seni peran, dan seni panggung meski di tengah arus modernisasi yang membuat minat pada seni semakin menipis. “Sebenernya kita tuh sama ya dengan film, cuma beda medium aja. Tapi ya pengenlah kita juga bisa eksis kaya film-film besar,” tutupnya.
Reporter: Amel Sri Agistiani/Suaka
Redaktur: Mujahidah Aqilah/Suaka

