
SUAKAONLINE.COM- Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menyatakan sebuah janji pembangunan jembatan penghubung Masjid Al Jabbar dengan Kampus II UIN SGD Bandung sebagai bentuk sinergitas antara Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat dengan UIN SGD Bandung di Aula Anwar Musaddad, Kampus I UIN SGD Bandung, Selasa (23/9/2025).
Tepat pukul 09.30 WIB, UIN SGD Bandung melangsungkan kuliah umum bertajuk “Sinergitas Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat dengan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri Dalam Membangun SDM JABAR Istimewa”. Acara ini dihadiri oleh ratusan civitas akademika UIN SGD Bandung.
Dalam sambutannya, Rektor UIN SGD Bandung, Rosihon Anwar, menjelaskan minimnya infrastruktur di kampus II sehingga menyulitkan mahasiswa yang hendak beribadah di Masjid Al Jabbar. “Di sana tidak ada jembatan yang menghubungkan sehingga mahasiswa yang mau ke Al Jabbar itu harus muter dulu ke Cimencrang, niatnya bagus bisa nambah pahala tetapi tidak efisien karena lama,” ujarnya.
Secara tersirat, ia meminta Gubernur Jawa Barat membuat infrastruktur jembatan sebagai bentuk kolaborasi pemerintah dengan pihak kampus. “Jadi seandainya ada pembangunan jembatan di sana, nanti kita akan membangunkan wisata religi di Al Jabbar dan wisata edukasi di UIN Bandung,” tambahnya.
Selain itu, ia juga menyoroti desakan dari mahasiswa agar UIN SGD Bandung menjadi pelopor green campus di Jawa Barat yang kemudian tertuang dalam visi PBAK 2025 UIN SGD Bandung yaitu “Gunung Djati Muda, Penggerak Literasi, Pelopor Ekoteologi Berbasis Rahmatan Lil ‘Alamin”. Salah satu bentuk manifestasi dari dukungan terhadap ekoteologi adalah pengolahan minyak jelantah dan limbah.
Selain sebagai bentuk pemenuhan terhadap aspirasi mahasiswa, konsep green campus UIN SGD Bandung juga sejalan dengan konsep yang digagas Menteri Agama, Nasarudin Umar, yaitu ekoteologi yang menurutnya merupakan dasar utama pendidikan Islam. “Ini selaras dengan program Kementerian Agama, karena Menteri Agama punya konsep ekoteologi,” katanya.
Merespons permintaan tersebut, Dedi menegaskan bahwa pihaknya siap membantu pembangunan akses jalan penghubung Masjid Al Jabbar dan kampus II UIN Bandung. “Saya sudah katakan pada Dinas Pekerjaan Umum (DPU) untuk segera membangun akses, tidak pakai lama. Saya tidak akan membebankan biaya pada UIN karena sama saja membebani mahasiswa,” tegasnya.
Dalam pidatonya, ia memaparkan bahwa pembangunan harus membawa harmoni antara manusia dan alam. Untuk itu ia menutup aktivitas pertambangan yang membawa kerugian bagi masyarakat. Namun, ia mengamini bahwa pembangunan infrastruktur juga tidak luput dari kebutuhan bahan baku dari hasil tambang. Ia menilai bahwa harus seimbang antara keduanya dengan pengawasan yang ketat. “Tambang-tambang yang beroperasi harus memiliki Memorandum of Understanding dengan semua stakeholder,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia mengaitkan antara teologi lingkungan dengan konsep kearifan lokal yang menjadi landasan pembangunan Jawa Barat. Menurutnya, kedua konsep tersebut sama-sama mengajarkan pembangunan yang tidak merugikan masa depan. “Karenanya Sunan Gunung Djati itu nama yang mengingatkan kita pada alam bihari (ide), kiwari (sekarang), dan poe isuk (masa depan),” katanya.
Kuliah umum ini diharapkan mampu menjadi jembatan sinergitas antara pemerintah dan kampus. Dedi tidak akan segan memberikan guyuran dana ke kampus dengan syarat kampus memberikan dampak nyata bagi masyarakat Jawa Barat. “Uang yang saya berikan ke kampus itu diambil dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD), dan APBD itu diambil dari uang rakyat. Maka UIN juga memberi feedback nyata kepada masyarakat Jawa Barat,” tutupnya.
Reporter: Muhamad Seha/Suaka
Redaktur: Mujahidah Aqilah/Suaka

