Oleh Godi Rangga*
Akuntansi, sebuah pelajaran yang kerap kali diajarkan sejak sekolah menengah dan sekolah sejenis, tentunya dengan kurikulum yang berbeda, bahkan sekolah berbasis kejuruan menerapkan akuntansi sebagai mata pelajaran yang akan selalu jadi makanan sehari-hari.
Sedari SMU yang saya mempelajari tentang akuntansi mulai memberikan ketertarikan yang lumayan besar, terlebih lagi jurusan saya sosial.
Kala itu jurnal demi jurnal saya kerjakan dengan kepatuhan tanpa memperhatikan dari apa yang saya kerjakan, tak terasa akuntansi memberikan pandangan yang statis, ditambah lagi sistem yang digunakan itu accrual basis, yaitu penghitungan risiko yang tetap, sehingga uang yang masih ada di orang lain itu tetap dihitung sebagai aktiva yang siap digunakan.
Akhir lima puluhan di Indonesia akuntansi dikenal dengan istilah tata buku, yang merupakan warisan dari penjajahan Belanda, yang kemudian pada awal enam puluhan datanglah akuntansi yang diadopsi dari Amerika Serikat, sehingga mulai dibedakanlah antara tata buku dan akuntansi, namun ketika dilihat prosedur pencatatannya hampir tak berbeda jauh, sehingga anggapan bahwa tata buku dan akuntansi berbeda itu sangatlah tidak benar.
Arti akuntansi ialah “proses pencatatan, penggolongan, peringkasan, pelaporan, dan penganalisisan data keuangan suatu organisasi” dan itu diterima mentah-mentah tanpa adanya kritik yang mendasar kenapa diperlukannya akuntansi.
Dalam akuntansi yang diajarkan pada khalayak ramai itu accrual basis, sedangkan sistem cash basis tidak diajarkan lebih lanjut, sehingga dalam mengartikan akuntansi sangat erat dengan penghitungan bunga, risiko, dan modal. Sehingga dalam pengaktualisasiannya siapa yang tahu akuntansi ia akan tahu bagaimana untuk menghasilkan bunga, risiko yang kecil, dan modal yang makin besar.
Setelah saya amati akuntansi mengajarkan kapitalisme, paham yang membuat lupa sisi kemanusiaan, karena akuntansi dewasa ini mengajarkan pembagian kerja yang pasti, si anu pegang apa, dan si anu jadi apa, secara manajerial itu sangat mendukung namun secara personal pekerjanya akan membuat buntunya kreativitas, karena secara sadar ia menjadi mesin yang hidup dan bereproduksi. Dan selanjutnya siapa yang menjalankan sistem akan mendapatkan keuntungan yang sangat besar, jadi bukankah itu ajaran kapitalisme.
Akuntansi secara sadar memberikan pandangan yang mekanistis, tanpa melihat adanya sisi ketuhanan yang maha mengatur, contoh kecilnya, ketika seseorang harus berhutang karena kelaparan maka akan ditulis sebagai piutang dalam akuntansi, dan ketika seseorang tersebut tak mampu membayar, akhirnya hutang tersebut dikategorikan aktiva tak terselamatkan. Ada sisi pertolongan dalam akuntansi meskipun tertulis hutang, bagi si penghutang, dan piutang bagi pemberi piutang, namun sampai mati tanpa tahu bagaimana keadaannya penghutang akan tetap dikategorikan sebagai piutang, dan selanjutnya ketika laba berlebih, maka akan dikurangi piutang dan dikategorikan sebagai laba tak terselamatkan.
Terkesan sangat biasa terjadi, namun bagaimana sisi ketuhanan berjalan dalam sistem yang mekanistis tanpa bisa memberikan toleransi risiko tak terduga, tanpa adanya pertimbangan kemampuan seseorang, bahkan lebih lanjutnya manusia dikategorikan sebagi modal, sehingga kadang untuk beberapa laporan keuangan, kerap kali manusia dikategorikan modal dan upah adalah bebannya.
akuntansi secara sadar memberikan pandangan yang statis, sehingga kadang untuk mempelajari akuntansi harus menjadi mesin terlebih dahulu, menjadi mesin penghasil uang majikan, dan mesin yang terus bekerja untuk majikan. Tanpa melihat bahwa manusia itu sama dalam pandangan tuhannya, tanpa melihat bahwa manusia mempunyai kemampuan yang berbeda, tanpa melihat manusia sebagai usaha mempertahankan hidup, mereduksi kemanusiaan dengan pola pencatatan mekanik dan sistem akuntansi menjadi tuhannya.[dari berbagai sumber]
*Penulis aktif di LPM SUAKA UIN SGD BDG

