" > 2 mnt membaca"> Boris Bokir dan Kenangan Budaya Batak - Suaka Online
Lintas Kampus

Boris Bokir dan Kenangan Budaya Batak2 mnt membaca

Boris Bokir

Cuplikan adegan Boris Bokir dalam film Toba Dreams “Sebuah Janji Cinta”. (Dok. Net).

SUAKAONLINE.COM, Bandung– Danau Toba mempunyai tempat tersendiri di hati Boris Thompson Manullang atau yang lebih akrab disapa Boris Bokir. Lelaki kelahiran Medan itu menjadi salah satu pemain film Toba Dreams ‘Sebuah Janji Cinta’.

Dalam film besutan Benni Setiawan yang diadaptasi dari novel karangan T.B. Silalahi dengan judul serupa itu, Boris berbeparan sebagai Togar, pemuda asli etnis Batak yang bermukim di sekitaran danau terbesar di Pulau Sumatera itu.

“Sebelumnya banyak film yang mengangkat tema tentang pahlawan. Ini hadir memberikan warna baru dengan mengangkat etnik Batak,” ucapnya kepada Suaka Senin (27/4/2015) malam usai menghadiri screening film Toba Dreams ‘Sebuah janji Cinta’ di Bioskop 21 Braga City Walk, Bandung.

Latar belakangnya sebagai komika, membuat film sedikit beraroma humor. Dalam beberapa adegan yang menampilkan dirinya, gelak tawa penonton pun pecah. “Untuk persiapan tidak ada, karena saya kan basic nya stand up dengan membawa karakter Batak. Jadi udah biasa,” tambah komika yang selalu membawa handuk putih di pundaknya saat tampil dalam acara stand up comedy itu.

Boris bersama beberapa pemain lainnya menghadiri screening film yang rencannya akan dilempar ke seluruh bioskop Indonesia mulai 30 April nanti itu. Menurut Boris, hal yang tidak bisa dilupakan dalam budaya Batak yaitu norma dan etos hidup orang Batak seperti memiliki keturunan dan bertuhan.

Boris pun menceritakan kearifan lokal lainnya yang dianut oleh etnis Batak. “Yang tidak bisa dilupakan dari etnis Batak itu adalah marga. Jadi kalau kita bertemu mereka di Perancis, dengan mengenal marganya kita jadi saudara, walaupun kita tidak kenal,” ujarnya disertai tawa.

Film tersebut juga menyinggung permasalahan yang terjadi di Danau Toba seperti masalah sampah. Menurut lelaki yang pernah kuliah di Universitas Parahyangan itu menuturkan bahwa sense of belonging warga sekitar terhadap kesadaran lingkungan Danau Toba masih kurang. “Perlu diingatkan lagi,” pungkas Boris dengan tegas.

Reporter : Muhamad Faisal Al’ansori

Redaktur : Robby Darmawan

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas