" > 4 mnt membaca"> Cerpen: Man, Aku Harus Pulang!! - Suaka Online
Cerpen

Cerpen: Man, Aku Harus Pulang!!4 mnt membaca

Senang bisa melihatmu lagi. Setelah sekian lama kita tak bertatap atau sekedar bertukar cerita. Kini, kutemukan engkau di bawah pohon jamblang yang usianya lebih lampau dari perkenalan kita yang rasanya baru sekejap mata. Jerumun yang tiba-tiba ada—karena kita tak pernah menyimaknya dari kuncup hingga menjulang menyentuh langit-lapang. Bahkan tak tahu siapa gerangan yang menanam. Sudahlah, kita haturkan saja selaksa terima kasih kepadanya—yang menanam—lewat angin, musim dan kisah kita.

Sayang, pohon jamblang kita daunnya tak serimbun dulu, masygul ditinggal rawi-rawi yang agul—kau dan aku. Kerontang ditinggal pulang. Renta, rindu dendang cerita kita. Kini tempat kita bernaung dari antup matahari, lapak yang lindap menyurai paru-paru yang pengap suah uzur tak kuasa menahan daun yang gugur.

Entah sejak kapan kita sepakat menjadikan pohon ini sebagai tempat untuk menghabiskan siang berduaan. Pastinya, kau dan aku nyaman saat berada di bawah naungannya. Keputusan aklamasi tanpa negosiasi.

Di sini aku selalu setia mendengarkan saat kau bercerita. Bercerita tentang ikan yang telah kau bumbui lalu hidup kembali di penggorengan, tentang boneka doraemon yang kau dapati dari seorang yang tak kau kenal di pinggir jalan bahkan tentang mimpimu menjadi seorang penulis. Semua yang kau sukai.

O, aku rindu kamu yang dulu.

Aku masih ingat. Pertengahan Juni empat tahun lalu. Seperti biasa, sepulang dari sekolah kau dan aku sering menuai beberapa buah jamblang yang sudah matang. Kulitnya legam, lonjong seukuran bulan di kejauhan. bila dinding gusi dan pangkal lidah bersekutu melucuti kulitnya, manis nian bikin ketagihan.

Masih ingatkah engkau?

 

***

 

“Ar, aku ingin lebih lama berada dekatmu saat terpejam maupun terjaga, karena nyaman yang kurasa. Terasa begitu dilindungi,” kau mengigau saat tertidur pulas di pangkuanku.

“iya,” setujuku.

Di bawah pohon jamblang, selalu, tak henti aku mengelus alismu dengan ujung jempolku. Semakin kusasap semakin kau lelap, lindap dalam angin, hanyut diderai udara terbuka.

“Ar, aku ingin memulai hari dengan melihat wajahmu dan menutup hari dengan melihat senyummu,” ucapmu lirih tapi kedua kelopak matamu semakin intim, rapat terpejam.

“selalu, sayang!” jawabku getir. Berharap kau dapat mendengarnya.

Engkau benar-benar tertidur pulas memeluk kakiku yang berselonjor di atas rerumputan. Engkau kesepian. Tak ingin sendirian. Sedang aku terus terjaga. Berharap kau tetap tertidur dan  mengigau. Katakan sesuatu untukku. Katakan perasaanmu padaku. Ceritakan suasana hari-harimu tanpa aku. Apa kau selalu merindukan tentangku. Walau dalam tidurmu.

Di bawah pohon jamblang, aku sesepi tidurmu yang kosong.

Hari semakin terang, angin semakin kencang, dedaun jamblang meriuh bergoyang. Merangkup tutur nafasmu yang teratur, begitupun angkasa terlihat lengang biru-gemilang.

Tapi tidak dengan perasaanku.

Aku sesak melihatmu yang sekarang. Tubuhmu dulu padat kini cengkar dicucut derita yang kau sendiri tak menyadarinya. Betapa perjalanan yang telah kau lalui menyisakan lingkaran hitam di kantung matamu yang lelah. Tapi jangan ragu. Andai kau mengetahuinya, kau tetap cendayam baka di mataku.

Semenjak aku pergi meninggalkan kampung meneruskan kuliah di Jakarta, banyak terdengar kabar tentangmu dari orang sekampung yang kebetulan bertemu di perantauan. Kau begini lah, kau begitu lah. Katanya kau banyak berubah.

Ternyata benar saja.

Hanya suaramu yang tak beralih. Mersik serupa bisik angin yang bersenggol di dedaunan. Merdu, susul-menyusul seiring bunyi ranting berjatuhan. Pun Kerudung yang slalu membebat di kepala, membukut mahkota yang kau sembunyikan. Tak pernah lepas. Betapa sebagian pesonamu masih ada. Hanya itu yang tersisa.

Langit mulai balig disepuh mambang kuning nan cemerlang. Aku masih bersender ditopang pohon jamblang. Tentu masih mengelus-elus alismu, sayang. Mereka-reka bunga tidurmu, berharap ada bingkai bunga rumput yang pernah kau berikan kepadaku. Semoga saat kau bangun memanggilku dengan sebutan sayang. Arif sayang. Ya, seperti dulu. Saat kau dan aku masih sekolah di tempat yang sama. Tempat pertama kita berjumpa memungkang pandang, menaruh rasa hingga akhirnya saling jatuh cinta.

Bangunlah sayang, hari sudah hampir lesap menuju gelap. Sebelum ibu mencarimu, ayah pasti cemas dan khawatir. Jangan tunggu warga kampung memanggil-manggil lewat pengeras suara di surau-surau. Ayolah, kita bergegas sekarang biar tak lunta menuju jalan pulang.

Masih di bawah pohon jamblang. Aku terus menunggu. Tak kuasa membangunkanmu.

Riang-riang mulai berdendang mengusik pertapaanmu seolah mengerti—menyuruh kau cepat pulang.

Aku mulai merasakan sesuatu. Angin dingin melerai pelukan tanganmu yang sedari tadi mendekap kakiku erat. Perlahan surut. kemudian terlepas. Tubuhmu pelan menggeliat serupa orang yang baru sadar dari koma.

Was-was aku menyaksikan engkau yang kesekian kalinya. Kejadian yang akan terjadi dan berulang-ulang.

Aku hanya bisa memandangmu, diam seribu bahasa. Kaki kaku. Tubuh lesu. Mulut dan lidahku kelu. Angin sengap. Jangkrik kikuk. Daun layu. Ranting asing. Pohon jamblang cekang. Semesta tak bergeming.

Tiba-tiba kau bangun. Duduk lalu menunduk seolah sedang mengumpulkan tenaga untuk membuka mata.

Jelang beberapa saat, seiring gema pujian yang lamat-lamat merambat dari zawiat, kepalamu mulai menegak. Tengadah menghadap pohon yang setia memberi teduh sepanjang tidurmu.

Kau tersenyum kemudian tertegun. Aku tetap membatu.

Di antara kita hanya ada pertanyaan juga penasaran. penasaranku, kalimat macam apa yang hendak kau ucapkan kali ini. Sedang keningmu berkerut menyimpan pertanyaan, siapa manusia gondrong yang berada tepat di hadapanmu.

Engkau masih mengulum senyum yang aku pasang sedari tadi. Menelannya, dicerna dalam kepala, lalu memuntahkan semuanya menjadi beberapa prasangka. Masih menerka-nerka sebentuk wajah dalam remang petang. Aku.

“kacamataku dimana?” tanyamu sambil celingukan mencari-cari.

Aku lupa dengan kacamatamu yang kusimpan di saku celana saat kau tertidur. Jelas saja, tanpa kacamata pandanganmu kabur tak bisa melihatku dengan seksama. Hatiku lega. semakin kulebarkan senyuman.

Kurogoh saku celana untuk mengambil kacamatamu lalu menyodorkannya.

“ini”

Kemudian engkau mengenakannya. Lalu berdiri tanpa menatapku sedikitpun.

“man, aku harus pulang” ajakmu seraya pergi begitu saja.

Hari benar-benar gelap dan aku tak yakin apakah engkau masih ingat jalan menuju pulang.

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas