Radiasi Cuan Di Otak Akademisi

Date:

- Advertisement -
Ilustrasi: Desty Rahmawati/Suaka

 Oleh: Nur Iskandar*

Matahari yang tajam menyentuh-nyentuh kerah kemeja, Angin yang ada sepoi-sepoi saja menerpa. Mungkin dulu kita tak pernah tahu apa sebenarnya yang dihembuskan Angin. Setiap hembusan Angin yang kita rasa, sebenarnya berupa kalimat-kalimat percakapan yang sedang Angin sampaikan kepada langit, awan, burung-burung, tiang listrik, kabel-kabel, atau kepada apa saja, bahkan pada akar, batang, dan daun pepohonan. Hanya saja kebanyakan manusia tidak bisa mendengarnya.

Hari ini, Angin menghampiri Daun dengan penuh semangat, saking semangatnya Daun berkali-kali terhempas. Angin tahu betul, bahwa Daun adalah sahabat terbaiknya. Angin dan Daun sudah saling mengerti dan membantu satu sama lain. Namun, persahabatan Angin dan Daun kadang tergoncang karena berbeda pemikiran. Angin memandang suatu hal sebagai X, dan Daun memandang hal tersebut sebagai Y.

Daun sudah lama mengintai dan memperhatikan seorang mahasiswi. Mahasiswi tersebut cantik serta berambut pendek, selalu duduk di tempat duduk beralaskan keramik yang letaknya tepat di samping Fakultas Psikologi. Mahasiswi itu tak tahu tatkala hari-harinya ia habiskan berkutat dengan layar laptop, ada sesuatu yang sedang memperhatikannya. Apalagi yang memperhatikannya adalah sehelai Daun. Tak terpikirkan!

Nah, mahasiswi tersebut sedang menjadi perbincangan hangat antara Daun dan Angin. Penglihatan Daun sangat jeli sekali dan ingatannya pun kuat. Ia menceritakan pada Angin tentang dokumen apa saja yang kerap melekat di tangan mahasiswi tersebut, sampai ia ceritakan juga bahasan apa yang sedang diketik di laptop Sang Mahasiswi. Hingga Daun kunjung pada satu kesimpulan, bahwa Sang Mahasiswi adalah sosok panutan, rajin dan tabah ketika mengerjakan tugas.

Namun, Daun melambungkan tanya dan tanya. Mengapa oh mengapa tak ada laki-laki yang terpesona padanya atau yang mau mendampingi mahasiswi tersebut sejenak saja di sampingnya? Colak-colek nakal juga tak pernah ia terima. Atau mahasiswa yang sebatas mengajak bercanda tawa, tak ada juga! Jawabannya ada dua, yakni mungkin karena ia dihindari para mahasiswa atau mungkin disegani.

Tiba-tiba mahasiswi yang sedang diperbincangkan datang. Langkahnya begitu lembut. Kakinya tak pernah melangkah ragu karena tak ada satupun mahasiswa yang bisa membuat dirinya kikuk. Ia pribadi yang lugas, namun diselimuti tanda tanya.

Daun beralih pandang lalu berucap, “Nahh, ia datang!”

“Lihat apa yang ia bawa?” tanya Angin, “Kau lihat?”

“Tas di punggung yang pasti berisi laptop.”

“Bukan.”

“Dua buku di tangan kirinya.”

“Bukan!”

“Handphone.”

“Bukan. Bukan!”

“Lantas apa yang ia bawa selain itu, matamu buta yahh?”

“Ia membawa kebodohan.”

“Bangsat, tuduhan tanpa dasar!”

“Kau yang kurang terbuka.”

Sampailah Sang Mahasiswi ke tempat duduk beralaskan keramik itu. Duduk. Ia kemudian meneguk air mineral yang sengaja ia bawa di dalam tas. Di jam-jam segini sama seperti biasanya matahari enggan meredupkan cahayanya. Ia elus keringat yang ada dengan tangan kanan. Merasa kasihan, Daun menyuruh Angin untuk membawa serta sepoi-sepoi ke hadapan mahasiswi itu.

Karena Daun adalah teman terbaiknya, maka Angin menuruti hal itu. Ia hembuskan saja sepoi-sepoi perlahan melalui kalung di leher, gerai rambut, kaki, dan tubuh mahasiswi itu. Sehingga hari pun berubah sejuk. Ada sekitar sepuluh hembusan, berarti ada sepuluh kalimat juga yang disampaikan Angin.

Yakni, “Hei gadis, lebih baik kau pergi dari sini. Kampus hanya untuk orang-orang yang mendambakan cahaya ilmu, bukan untuk orang-orang yang menebar kebodohan. Mungkin di mata orang-orang kau terlihat sebagai sosok yang tekun. Tapi, sampul yang kau pakai itu busuk. Kau tega membiarkan mereka terlunta-lunta dalam ketidakpahaman? Apakah sebegitu mudahnya kau kalah dengan uang? Parasmu memang cantik, tapi tingkahmu dalam dunia akademik tidak cantik. Sayang sekali kau memilih menekuni hal picik! Ketahuilah, di atas sana ada temanku yang selalu memperhatikan dirimu. Tolong tunjukan pada dia, bahwa kau bukan mahasiswi mulia.”

Angin tahu mahasiswi itu tak akan pernah bisa mendengar suaranya. Daun pun menyangka begitu. Tapi, anehnya dia bergeming menjawab.

“Berisik!” ucap singkat Sang Mahasiswi.

Saking kagetnya, Angin pun berhenti berhembus sejenak. Daun pun ikut heran karena baru kali ini ada manusia yang bisa mendengar suara mereka. Mereka bergumam, “Manusia macam apa ini?” Angin dan Daun saling melirik dan menunggu-nunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan mahasiswi itu.

 

…

Tiba-tiba ada satu panggilan masuk, “Wa’alaikumussalam. Yahh, ada apa? … Iya, bentar lagi selesai kokk. … Hari Senin? … Malam ini juga selesai. … Pasti rapih, aman! … Kirim saja daftar-daftar referensi wajibnya! … Yahh bisa, bisa diakses. Ditunggu yahh! Assalamu’alaikum.”

Selang beberapa detik, Angin memberanikan diri untuk berdialog kembali dengan Daun, “Kini kau paham kan apa yang tengah ia kerjakan?”

“Itu pasti teman-teman baiknya yang mengingatkan, bahwa tugas kuliah harus diselesaikan selambat-lambatnya hari Senin.”

“Kau salah paham!”

“Kau yang salah paham, memang benar begitu. Banyak orang-orang yang peduli padanya sehingga tak rela ia kesusahan mengerjakan tugas.”

“Biar aku jelaskan baik-baik supaya kau paham.”

“Tak perlu dijelaskan lagi lahh, ini sudah begitu jelas. Tingkah lakunya, orang-orang yang mengenalnya menunjukkan dia orang baik. Bukan sosok pembawa kebodohan seperti yang kau bilang. Wong dia hari-hari sibuk belajar kokk!”

“Biar aku jelaskan …”

“Jelaskan-jelaskan apaan!”

“Kau diam dulu, kapan aku bisa jelaskan jika mulutmu tak bisa diam.”

“Silahkan, paling-paling kau buat konspirasi lagi dan selalu saja menyalahkan apa yang aku pegang teguh.”

“Kau bisa diam dulu tidak?”

“Berisik!” Sang Mahasiswi membungkam percakapan Daun dan Angin karena merasa bising sekali.

Karena dua kali dimarahi Sang Mahasiswi, Angin dan Daun memelankan suaranya. Dialog mereka hanya terdengar sayup-sayup. Mereka saling mendekat dan berbisik.

“Aku senang sekali ada manusia yang bisa mendengar suara kita. Tapi, nampaknya ia sedang sibuk sekali dan tak mau diganggu,” bisik pelan Daun.

Agaknya ucapan Daun tidak terdengar jelas sehingga Angin menyuruh kembali Daun mengulangi kata-katanya.

“Ia sibuk sekali dan tak mau diganggu,” ulang Daun.

“Yahh tentu, ia sibuk sekali karena butuh uang.”

“Dari tadi aku heran, kenapa kau sebut-sebut tentang uang. Padahal, dia murni mengerjakan tugas, dia murni melaksanakan kewajibannya sebagai mahasiswa.”

“Nah hal itu yang tidak kau tau, bila kau tau aku yakin kau akan kecewa.”

Angin mendekat kepada Daun dan berbicara sejelas mungkin. Terkadang di sela-sela penjelasan, Angin memohon kepada Daun untuk tidak memotong perkataannya sebelum selesai agar semuanya tersampaikan.

“…”

Daun merasa tidak terima atas penjelasan-penjelasan yang dilontarkan teman baiknya itu, dan rasa-rasanya ia ingin meledak saja.

“Aku tidak terima omonganmu itu, omonganmu terdengar menyakitkan,” sanggah Daun, “kalau kau merasa teman baikku, kau harus membantuku untuk benar-benar membuktikannya.”

“Aku sudah menjabarkan semuanya, kan?”

“Sekarang, kau kirim hembusan yang agak kencang dan copotkan aku dari dahan. Bawa aku terjatuh menghampirinya. Biar aku ngobrol dengan dia secara langsung!”

“Gila! Dengan kau lepas dari dahan, hidupmu tak ‘kan lama, kawan!”

“Lakukan atau aku akan membencimu selamanya!”

“Aku lakukan itu, aku sama saja membunuhmu, bodoh!”

“Aku merasa aku akan lebih tersiksa bila kau biarkan seperti ini. Lebih baik kaulakukan saja, aku terima kokk segala kenyataan yang ada nantinya.”

“Bisa-bisanya kau mau melakukan itu hanya untuk manusia.”

“Mau bagaimana lagi, aku tersihir parasnya, kakinya, lengannya, lehernya, semuanya yang wangi dengan semerbak mawar.”

“Baiklah aku lakukan ini demi kau bahagia dan semoga saja aku dapatkan lagi kawan yang sama baiknya.”

Setelah asyik bersiteru, Angin mengalah dan menuruti permintaan Daun. Rasa-rasanya Angin ingin menutup matanya saja saat melakukan ini karena ia selalu sedih bila ada daun yang gugur. Angin membayangkan tanah yang dingin, tanah yang kotor, tanah yang tak bisa membuat Daun tidur nyenyak. Mau bagaimana lagi, ia telah berjanji untuk melakukannya. Daun pun gugur terayun ke kanan dan ke kiri.

Angin mengatur hembusannya supaya Daun jatuh tepat di hadapan Sang Mahasiswi. Sang Mahasiswi menengadah ke atas mengikuti setiap alur Daun terjatuh dan tiba di atas keyboard laptopnya. Daun tersenyum, tapi Sang Mahasiswi tak bisa melihat senyuman itu.

Tangan mahasiswi itu hampir saja menyingkirkan Daun, tapi Daun lantang berbicara, “Jangan dulu, bolehkah aku berbicara singkat saja? Soalnya hidupku tidak ‘kan lama lagi, moga engkau bisa membuatku bahagia di hari-hari terakhirku.”

“Boleh,” jawab mahasiswi itu.

“Kau tidak melakukan hal buruk itu, kan? Kau bukan joki tugas seperti yang dijelaskan temanku, kan? Kau tidak mengambil suatu kewajiban yang seharusnya dikerjakan oleh setiap mahasiswa, kan? Kau tidak ikut serta dalam mengembangbiakkan kebodohan, kan? Kau sosok terpelajar dan tidak membiarkan orang lain bodoh, kan? Kau bukan joki tugas dan tidak disewa untuk menyelesaikan tugas orang lain, kan?” seketika Daun menghujamkan pertanyaan-pertanyaan yang bernada sama.

“Tidak.”

“Aku yakin kau tidak akan melakukan itu. Jikalau kau melakukan itu pasti ada alasannya. Kau mungkin mencari uang lewat jalur itu karena terdesak juga. Mungkin lingkungan teman-temanmu adalah orang-orang yang boros dan suka jalan-jalan. Lagian di daerah Bandung ini banyak sekali tempat wisata. Pasti sebulan sekali kau diajak ke tempat-tempat seperti, Lembang dan Kawah Putih Ciwidey. Diajak berkemah di kebun teh Pangalengan, berkemah di jajaran pohon pinus Gunung Manglayang, atau melakukan aktivitas arum jeram di sebuah aliran sungai. Kau pasti harus memutar otak untuk mendapatkan banyak uang supaya bisa menghadapi dahaga teman-temanmu yang haus akan jalan-jalan. Tapi aku yakin kau tidak melakukan itu, kan?”

“Ti … Tidak,” terdengar suara mahasiswi itu agak tersendat.

“Syukurlah kalau kau bukan joki tugas! Ehh, aku punya permintaan terakhir!”

“Apa? Aku harus cepet-cepet pergi.”

“Tolong jangan buang aku, bolehkah aku kaujadikan pembatas buku di buku yang sedang kau bawa itu? Aku ingin terkubur di antara huruf-huruf dan ilmu.”

“Boleh.”

Akhirnya, daun terhimpit di antara dua halaman buku, tapi dia tidak tahu buku ini tak ‘kan selamanya dibawa oleh mahasiswa itu karena buku ini hanya bacaan sesaat untuk menyelesaikan sebuah tugas saja. Semoga saja Daun bisa tulus mengucapkan selamat tinggal dan berdamai dengan aroma rak perpustakaan. Sang Mahasiswi pun terhuyung pergi karena ada notifikasi di handphone-nya, bahwa paket sepatu mahal yang ia beli akan segera tiba. Ia membeli sepatu mahal bermerk karena ingin terlihat sebagai mahasiswi yang paling elegan dan mewah di antara mahasiswi lain.

…

 Sementara itu di hari yang sama dan di tempat yang berbeda.

“Eno, ketum bilang hari Minggu dan Senin akan ada rapat panitia acara jurusan, kau wajib hadir sebagai ketua seksi acara. Tapi gimana, kau kan masih punya dua tugas mata kuliah yang belum selesai.” ucap teman Eno.

Eno tidak ambil pusing akan hal itu, lagian dia sudah membayar Nia untuk menyelesaikan tugas-tugasnya, “Bentar aku mau telepon dulu Nia.”

“Ouh, kau pake Nia! Aman kalau gitu.”

“Assalamu’alaikum, hallo Nia! … Tugas aman yahh, sekarang lagi dikerjain, kan? … Jangan lupa terakhir hari senin lohh! … Kira-kira kapan selesai? Soalnya aku mau fokus rapat nanti, bakal jarang liat HP. … Oke kalau begitu, tapi penulisannya rapih, kan? … Jangan lupa juga sertakan referensi-referensinya. … Harus ada lima referensi jurnal yang berbahasa inggris, aku dahh kirim semua link-nya. Bisa diakses, kan? … Oke siap, wa’alaikumussalam.”

*penulis merupakan mahasiswa Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, menggunakan nama pena.

Share post:

Popular

Berita Terkait

Aku Yang Bisu

*Oleh: Qarin Qurnaeni Katanya, aku napas bumiKatanya, aku layaknya urat...

Merdeka, untuk siapa?

*Oleh: Imam Syaban Abdurrahman Delapan puluh satu tahun telah berlalu,bendera...

Sayang, Aku Perempuan

*Oleh: Qonita Razinatul Amani Sayang, aku perempuan Aku lahir bersama...

Di Antara Sembilan Kursi

Mentari pagi mulai merangkak naik, mengantarkan langkah kaki Andre...