Lingkungan dan Kesehatan

Di Balik Megahnya Stasiun Tegalluar

Anak-anak kampung Babakan Sayang bermain di samping Proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB), Kampung Babakan Sayang, Desa Tegalluar, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Jumat (14/7/2023). (Foto: Yopi Muharram/Suaka)

“Anak-anak saya lagi tidur, tiba-tiba mendengarkan suara bising dari kendaraan proyek yang lalu-lalang. Kan anak (saya -red) jadi kaget. Soalnya aku kan paling deket rumahnya. Jaraknya berhadapan pisan (banget -red)”, keluh Elah (34) warga asli Kampung Babakan Sayang.

Setiap harinya warga Kampung Babakan Sayang, Desa Tegalluar, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung dihantui kebisingan proyek pembangunan Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB). Truk proyek, excavator, truk mixer, dan sejumlah kendaraan proyek lainnya sudah menjadi pemandangan warga sini sejak pembangunan KCJB.

Pagi hari yang biasanya diselimuti hawa dingin dan embun, kini berubah menjadi debu proyek. Kampung yang berhadapan langsung dengan Stasiun Tegalluar ini, dulunya merupakan kawasan resapan air yang perlahan beralih fungsi menjadi sawah dan pemukiman penduduk. Akan tetapi, perlahan ladang persawahan di kampung ini menjadi kawasan stasiun megah KCJB dengan luas 16.000 Meter Persegi.

Jalan menuju Kampung Babakan Sayang dipisahkan oleh Jalan Tol Purbaleunyi, tepatnya di Kilometer 151. Stasiun KCJB mempunyai empat pemberhentian, yaitu dari; Halim, Karawang, Padalarang, dan terakhir Tegalluar. Jembatan penghubung menjadi akses paling dekat menuju desa ini. Arahnya dekat dengan Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA).

Selain Elah, seorang warga tengah duduk memandangi pekerjaan stasiun di sebuah warung yang berhadapan langsung dengan proyek, Nurjanah (41), warga asli Kampung Babakan Sayang. Proyek ini menjadi pemandangan setiap harinya. Debu, polusi, dan kebisingan sudah ia rasakan sedari tahun 2018.

Hanya berjarak kurang dari 30 meter dari rumah Nur, sudah terlihat sibuknya pembangunan stasiun ini. Tak ayal, keluhan sering keluar dari mulutnya karena bising dan debu.

Keluhan Nur tidak berhenti dari debu polusi dan kebisingan saja. Menurut Nur, seharusnya PT Kereta Cepat Indonesia-Cina (PT KCIC) harus memberinya uang kompensasi kebisingan bagi warga dan dirinya selama pembangunan berlangsung.

Akan tetapi, hanya dua kali saja ia menerima uang tersebut pada tahap pembangunan awal dan nominalnya pun sedikit. Pembayaran pertama ia hanya diberi 400 ribu dan kedua sebesar 300 ribu.

“Cuman ada dua kali. Terus kata masyarakat teh ke sana aja (PT KCIC) demo. Kita kan deket ya rumahnya, terus berisik, belum lagi debu. Tapi mana, sampe sekarang belum ada lagi keluar uang itu,” ujar Nur dengan suara meninggi agar melebihi suara truk yang lewat, Jumat (14/7/2023).

Sepengetahuannya, jika ada pembangunan proyek di dekat rumah warga, pihak proyek akan memberikan kompensasi ke warga sekitar berupa uang kebisingan. Akan tetapi, ia dan warga lainnya cukup menderita oleh debu dan kebisingan saja selama proses pembangunan tersebut berlangsung.

Selebihnya ia tidak mengetahui aliran dana yang harusnya diterima oleh warga sekitar disalurkan kemana. “Gatau kemana (uang kebisingan itu dikasihkan -red). Wallahualam. Katanya ada sih (uang kebisingan -red), tapi dikasihin ke orang itu. Ga dikasihin ke warga,” tuturnya.

Kurangnya Pekerja Warga Sekitar

Otih (62) memarud kelapa di selasar rumahnya. Tepat depan rumah Otih pembangunan jembatan penghubung sedang dibangun. Kendaraan besar proyek menggetarkan kaca rumah Otih. Tak luput, debu yang mengotori halaman rumahnya menjadi pekerjaan tambahan Otih untuk membersihkannya.

Ia merupakan warga asli Kampung Babakan Sayang sejak tahun 1961. Orang tuanya pun sudah lama bermukim di desa ini. Kini ia hidup bersama sang anak bungsunya. Suaminya sudah lama meninggal. Dan, si bungsu bekerja di proyek pembangunan KCJB. Pekerjaan putranya tersebut merupakan hasil protes dirinya kepada pihak proyek.

“Cuman ibu mah punya anak satu lagi. Muda. mau dikerjain di sini atuh. Gitu aja ibu  mah,” ujar Otih meninggikan suara seperti Nur untuk menandingi suara kebisingan, Jumat (14/7/2023).

Ia mengeluh, bagaimana bisa warga luar bekerja di proyek KCJB, sedangkan warga asli sana tidak dipekerjakan. Pernah sekali, ia mendatangi pihak proyek seorang diri untuk protes, agar anak bungsunya dapat dipekerjakan selama berdirinya stasiun mega proyek ini.

“Tapi kepengin ibu mah selamanya. Masa orang Rancaekek kerja di sini, tapi orang warga sini enggak,” tambahnya.

Sama seperti Nur, ia sama sekali tidak mendapatkan uang kebisingan lagi selama proyek ini berlangsung. “Liat di depan ada (pembangunan -red) jalan. Terus itu gimana, kebulnya (debu -red) mah ke rumah ibu. Itu, jembatan itu, berisiknya setiap hari, 24 jam. Tapi enggak ada uang gandeng sama kebul (berisik sama debu -red),” tandasnya.

Debu dan Kebisingan Sumber Masalah Bagi Anak

Elah (34) seorang ibu dua anak sudah lama tinggal di Kampung Babakan Sayang. Sama seperti Otih dan Nur, kebisingan dan polusi menjadi momok bagi keluarganya. Apalagi jarak rumah dan proyek hanya beberapa langkah saja dari rumahnya. Anak pertamanya baru saja menginjak kelas 3 Sekolah Dasar (SD), sedangkan anak bungsunya baru berumur dua tahun.

Kendaraan proyek yang selalu lewat depan rumahnya selalu membawa polusi dan debu. Bagi Elah, itu merupakan sebuah masalah. Sebab, bisa menjadi sebuah faktor yang memengaruhi kesehatan anak-anaknya. Belum lagi cuaca panas yang dapat menambah tubuh seseorang jadi sakit. Hal tersebut pun dialami oleh anaknya yang bungsu.

“Yang bungsu sekarang kan lagi pilek. Kan depan rumah banget proyekannya,” ujarnya, Jumat (14/7/2023).

Ia juga menuturkan, kebisingan suara kendaraan proyek membuat anaknya yang lagi tidur terganggu. “Anak-anak saya lagi tidur, tiba-tiba mendengarkan suara bising dari kendaraan proyek yang lalu-lalang. Kan anak (saya -red) jadi kaget. Soalnya aku kan paling deket rumahnya. Jaraknya berhadapan pisan (banget -red)”, keluh Elah.

Selain dampak bagi kesehatan, rumah Elah juga sering kotor akibat debu yang berterbangan. Ditambah kendaraan proyek yang sering lalu lalang di depan rumahnya membuat rumahnya bergetar. “Ya selain anak-anak juga berdampak pada bangunan juga, terus kita juga ngedernya bising,” katanya.

Berbeda dengan Nur, terkait aung kebisingan, Elah hanya menerima uang sebesar 100 ribu saja, dan itu hanya sekali. “Dulu pernah sekali, cuman 100 ribu (di -red) tahun 2018. Udah we sekali aja. Udah lama banget itu,” lanjutnya.

Reporter: Yopi Muharram/Suaka

Redaktur: Mohamad Akmal Albari/Suaka

 

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Ke Atas