2 mnt membaca"> Era Digital Berdampingan DenganComputer Vision Syndrome (CVS) - Suaka Online
Infografik

Era Digital Berdampingan DenganComputer Vision Syndrome (CVS)2 mnt membaca

SUAKAONLINE.COM, Infografis – Seiring dengan era digitalisasi, kemajuan teknologi dan akses internet yang memadai memungkinkan seseorang menghabiskan waktu lebih lama menatap perangkat elektronik dengan tampilan layar atau Visual Display Terminal (VDT). Maraknya penggunaan alat eletronik seperti komputer, laptop, ponsel pintar, tablet dan lainnya dengan jangka waktu yang panjang memungkinkan pengguna terkena computer vision syndrome (CVS).

Computer vision syndrome (CVS) atau disebut juga visual fatigue dan digital eye strain adalah istilah untuk sekumpulan gejala yang berhubungan dengan gangguan mata akibat penggunaan perangkat elektronik berbasis komputer. CVS serupa dengan carpal tunal syndrome yang terjadi akibat melakukan gerakan yang sama dengan berulang sehingga terdapat luka atau stres akibat gerakan tersebut. CVS memberikan dampak buruk bagi kesehatan mata karena gerakan otot mata yang bekerja keras di depan layar komputer.

Mata terus bergerak dari satu titik ke titik berikutnya saat menatap layar, kemudian huruf-huruf pada layar komputer pada umumnya tidak setajam pada media cetak. Hal ini menyebabkan secara tidak sadar memaksa mata untuk fokus pada layar. Kerlip dan silau dari layar juga menambah beban mata untuk bekerja.

Peningkatan penderita CVS akibat kelelahan mata dan iritasi meningkat setiap tahunnya. Melansir dari hellosehat.com hal ini disebabkan pengguna komputer meningkat baik orang dewasa atau anak-anak. Penelitian menunjukkan bahwa gangguan mata merupakan hal biasa bagi pengguna komputer. Orang yang bekerja menggunakan komputer, sekitar 50-90 % setidaknya memiliki masalah penglihatan.

CVS dapat disebabkan karena kurangnya refleks berkedip saat menggunakan komputer. Sebuah studi menunjukkan bahwa masih rendahnya mengedipkan mata bagi para pekerja yang berhadapan dengan komputer. Pada pengguna VDT seperti komputer refleks berkedipnya berkurang 66 % yaitu 3 sampai 6 kali permenit. Padahal dalam keadaan normal mata manusia berkedip 15 sampai 20 kali permenit.

Baca juga:  Ragam Pembatasan Sosial: dari PSBB hingga PPKM Level 3

Sebenarnya CVS bukan suatu sindrom yang mengancam nyawa, dan gejala klinis sindrom ini memungkinkan tidak dirasa parah bagi sebagian orang. Hal ini menyebabkan ketidakpedulian sehingga tidak ada pemeriksaan untuk penanganan yang lebih tepat. Sehingga dampak CVS jika tidak diatasi akan menghambat aktivitas sehari-hari seperti penurunan produktivitas kerja, peningkatan kesalahan dalam bekerja dan lainnya.

Sumber : alodokter.com, hellosehat.com dan berbagai jurnal ilmiah

Peneliti : Yulianingsih/Magang

Desain : Nur Alfiyah/Suaka

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas