2 mnt membaca"> Memahami Bencana dan Pergeseran Paradigma Penanggulangan - Suaka Online
Infografik

Memahami Bencana dan Pergeseran Paradigma Penanggulangan2 mnt membaca

SUAKAONLINE.COM, Infografis – Indonesia sebagai negara kepulauan berada pada posisi secara geografis, geologis, hidrologis dan demografis menyebabkan Indonesia rawan terjangan bencana alam. Posisi geografis Indonesia masuk dalam pertemuan tiga lempengan bumi, yaitu Eurasia, Pasifik, dan Indo-Australia menyebabkan posisi negara menjadi labil, mudah bergeser, dan tentu saja rawan bencana. Indonesia juga terletak di daerah ring of fire dimana terdapat 187 gunung api berderet dari ujung barat ke timur yang tentu saja rawan terhadap dampak Erupsi.

Di samping faktor alam yang dapat menyebabkan bencana, kompleksitas kondisi masyarakat Indonesia dari segi demografis seperti kepadatan penduduk dan segi ekonomi seperti kemiskinan yang masih tinggi telah menambah tingginya kerentanan terhadap peristiwa bencana alam. Saat ini Indonesia menempati rangking pertama dari 265 negara di dunia terhadap risiko tsunami dan rangking pertama dari 162 untuk tanah longsor, serta rangking ke-3 dari 153 negara terhadap risiko gempa bumi, dan ranking ke-6 dari 162 untuk risiko bencana banjir.

Akan tetapi dengan sederet bukti ilmiah yang ada. Masyarakat Indonesia tetap saja memahami bencana sebagai hukuman Langit. Hal ini dijelaskan oleh Lindell, M. K., Prater, C., & Perry, R. dalam bukunya yang berjudul “Fundamentals of emergency management”, masyarakat melihat bencana sebagai kehendak Tuhan dan bentuk peringatan, cobaan bahkan kutukan, sehingga manusia tidak berhak dan tidak dapat mempersiapkan diri menghadapi bencana. Hal ini dipengaruhi oleh pandangan konvensional yang menganggap bencana merupakan sifat alam dan terjadinya bencana adalah karena kecelakaan.   

Berdasarkan pada pandangan ini, masyarakat terdampak dipandang sebagai “korban” dan harus segera mendapat pertolongan, sehingga fokus dari penanggulangan bencana lebih pada bantuan dan kedaruratan yang bersifat sementara. Oleh karena itu pada umumnya tindakan yang dilakukan adalah upaya reaktif atas kondisi darurat, yang menekankan pada penanganan dan pemberian bantuan bukan penanggulangan.

Dilansir dari Bakornas PB (Badan Koordinasi Penangulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi), setelah berkembangnya ilmu pengetahuan, timbulah ideologi bahwa bencana adalah merupakan kiat geofisik, geologi dan hidrometeorologi yang bisa mempengaruhi lingkungan fisik dan membahayakan kehidupan manusia. Berdasarkan ajaran ini pola yang berkembang adalah mitigasi dimana pokok penyelesaian bencana diarahkan pada kesiapan masyarakat dalam menghadapi bahaya dan memperkuatkan tenaga fisik struktur bangunan untuk memperkecil kerusakan yang terjadi akibat adanya peristiwa alam.

Sementara itu pemikiran holistik memandangi bahwa peristiwa alam dapat menjadi ancaman bencana jika bertemu dengan liabilitas serta ketidakmampuan khalayak menghadapi risiko. Pendekatan ini merupakan perpaduan dari sudut pandang teknis dan ilmiah dengan unsur-unsur sosial, ekonomi dan politik dalam penjabaran risiko. Oleh karena itu, berdasarkan ideologi ini upaya penanggulangan bencana ditujukan kepada mengintensifkan kemampuan masyarakat dalam mengelola dan menekan risiko terjadinya bencana.

Sumber : vivanews.co.id , buku Fundamentals of emergency management, bnpb.go.id,

Peneliti : Chamid Nur Muhajir/Suaka

Desain : Nur Alfiyah/Suaka

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas