Lintas Kampus

Geliat Industri Musik di Era Jakarta Sentris

(Foto: Dimas Rachmatsyah/Kontributor)

Oleh: Rangga Nugraha

SUAKAONLINE.COM – Musik bagi sebagian besar masyarakat mungkin hanya dipandang sebagai rangkaian kata yang diberi irama. Sudah sejak lama, perhatian mereka terhadap musik hanya berhenti dari apa yang mereka dengar di telinga. Terkait segala macam kerumitan di baliknya, mereka tidak peduli. Selagi senandungnya dirasa sedap, musik itu akan terus mengudara. 

Musik pada dasarnya memang sebuah karya seni dan bentuk ekspresi manusia dalam bentuk aural yang unik. Masalah kualitas, produksi, distribusi, promosi hingga orang-orang yang terlibat di dalamnya sejatinya hanyalah komponen pembentuk musik dalam perspektif industri saja. Lebih dari itu, jika ditelisik lebih mendalam, banyak sekali hal rumit terkait dengan musik. Salah satu isu problematik yang perlu ditelisik adalah isu terkait sulitnya musisi luar Jakarta menembus industri musik nasional. Bahkan ada anggapan jika ingin bermusik sukses ke Jakartal lah.

Untuk mencari informasi terkait hal tersebut, Suaka berbincang dengan praktisi musik yang juga dosen musik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Farhan Reza Paz. Menurut Farhan permasalahannya terletak pada idealisme konservatif yang masih kental. Diperlukan sikap adaptif agar terciptanya kemajuan.

Ia berpendapat adaptif terhadap perubahan dan personal branding memang kunci untuk bertahan pada era saat ini. Di sisi lain, menurutnya beberapa musisi memang kurang terekspos karena strategi personal branding yang masih prematur. Masalah itulah yang sebenarnya sering dihadapi musisi luar pulau Jawa.

“Saya tebak secara aklamasi saja, karena banyak faktor. Apakah mereka mau terbang ke Jakarta untuk bangun personal branding-nya atau ke suatu pencarian bakat? Mereka musisi luar Jawa ini sudah memiliki kemurnian sebagai musisi yang bisa stay dan quality control. Idealismenya selalu tinggi, tapi tidak dikonsistenkan secara gradual,” tuturnya, Jumat (1/7).

Kualitas dan strategi harus seimbang

Untuk menggali informasi lebih dalam, Suaka mewawancarai ex-vokalis band AUMAN asal Palembang, Rian Pelor. Menurut Rian dengan segala kerumitan yang ada bisa disadari bahwa musisi di luar kota sedikit kesulitan dalam menembus industri musik nasional. Rian berpandangan bahwa musisi luar Jawa terlalu sering menggerutu saja tapi tanpa pergerakan yang masive. 

Menurutnya, musisi luar jawa terus menerus menyalahkan Jakarta dan pulau Jawa tanpa berkaca, jika mereka pun harus menambah pengetahuannya dalam bidang promosi. “Nah kemudian kalau kita yang misalnya di Palembang mikir ‘wah di Jakarta kayak gini, kayak gini’ ya kita jadi mental imperior dong,” ungkap Pelor, Sabtu (16/7/2022).

Pelor melanjutkan dengan kemajuan teknologi juga sangat bisa membantu promosi saat ini. Sehingga musisi luar Jakarta tidak usah risau dalam mendistribusikan hingga menghasilkan karyanya agar bisa menyaingi musisi di Jakarta. “Sekarang itu dengan adanya teknologi memungkinkan orang untuk menghasilkan output rekaman yang sama dengan yang di Jakarta,” lanjutnya.

Sejak dulu, ingar bingar pulau Jawa dan Jakarta sebagai ibu kota terasa hingga penjuru negeri. Dari mulai pemerintahan, perekonomian, media, hingga perindustrian berpusat di sana. Industri musik pun dominan berkembang pesat di kota-kota utama di pulau Jawa. Hal ini lah yang menjadi awal mula stigma sentralisasi menggema di luar pulau Jawa.   

Berbicara mengenai Jakarta sentris, pengamat musik sekaligus pemilik Warung Musik di Bandung, Tresna Galih, menyadari betul perbedaan yang dialami musisi di kota-kota utama dan musisi di luar pulau Jawa. Ia pun bertutur bahwa secara gamblang hal seperti itu secara geografis memang tidak bisa dihilangkan.

Kendati demikian, sentralisasi menurutnya tidak bisa didiamkan begitu saja. Menurut Tresna, solusi paling efektif yang bisa dilakukan oleh musisi di luar pulau Jawa adalah dengan membuat skena musik di daerahnya masing-masing. “Di Bandung letupannya ada, karena mereka punya option dan itu yang menjadi salah satu indikator kalau industrinya berjalan,” jelas Tresna saat dihubungi melalui Zoom, Jumat, (8/7). Dengan demikian, musisi lokal lebih memiliki banyak pilihan di kotanya sendiri. Sehingga nantinya mereka memiliki inkubator yang menciptakan role model nya sendiri. 

Open mind, zaman sudah berubah

Adanya premis sentralisasi sudah terjadi sejak lama. Kota-kota utama di Jawa memang memiliki industri dan fasilitas yang lebih mumpuni dibanding luar Jawa. Namun jika kita melihat kondisi saat ini, sentralisasi sejatinya hampir bisa disamarkan. Musisi di luar pulau Jawa tidak perlu beralasan perbedaan fasilitas dengan musisi yang ada di pulau Jawa. 

“Kalau kita melihat band Jakarta, band Bandung lebih cepat majunya, mereka juga kerja keras. Aku melihat kayak Seringai itu main dari klub kecil di depan temen-temen, main di panggung Soundrenaline main siang ga ada yang nonton. Nah kita juga ga bisa menafikan proses,” tutur Pelor.

Meskipun demikian, bukan berarti musisi di luar pulau Jawa harus meniru persis apa yang musisi kota besar lakukan. Musisi luar Jawa perlu menemukan cara yang sesuai dengan kultur kebudayaan daerahnya masing-masing. Karena pada dasarnya setiap daerah memiliki kehidupan ekonomi, sosial, budaya yang berbeda.

Dengan demikian, mereka perlu memikirkan strategi yang cocok digunakan di daerahnya masing-masing. Cara menciptakan karya yang baik, mempublikasikan karya dengan baik, distribusi dan promosi karya dengan baik jadi segudang pekerjaan rumah para musisi luar Jawa.

Menembus industri musik nasional memang bukanlah hal yang mudah. Karya seorang musisi perlu disebarluaskan sejauh mungkin. Karena dengan demikian, potensi sebuah karya untuk mendapat banyak apresiasi akan semakin besar. Sedangkan mayoritas masalah yang dihadapi oleh para musisi luar pulau Jawa mungkin kekurangan dukungan label di ekosistem kotanya. 

Berbicara masalah label dan sentralisasi, orang di balik label asal Bandung Disaster Records, Ody berpandangan dengan adanya digitalisasi seharusnya musisi luar jawa bisa menjangkau pasar lebih luas.

“Menurut saya, letak geografis seorang musisi  sebenarnya tidak berpengaruh terhadap penerbitan dan proses distribusi. Dua hal tersebut dominan dilakukan oleh label, bukan oleh artisnya,” ungkapnya, Selasa (19/7). Agar bisa menembus pasar nasional, Ia mengungkapkan perlunya menjalin komunikasi dan hubungan yang baik dengan pelaku-pelaku musik lain. 

Musisi luar jawa harus mulai memperluas koneksi mereka di dunia musik. Dalam dunia musik memang ada beberapa hal yang tidak bisa dilakukan sendiri. Tidak bisa dipungkiri bahwa koneksi seorang musisi dengan pihak-pihak di dalam industri sangat berpengaruh besar. 

Permasalahan yang dialami musisi luar Jawa bukanlah jalan buntu. Teman-teman musisi di luar kota utama belum benar-benar kalah sebelum berhenti berkarya. Skena musik di setiap daerah tetap harus berjalan dengan segala opsi perlu dicoba. Akan lahir banyak hal baik dari upaya-upaya sekecil apapun, selama hal tersebut konsisten dilakukan.  

Redaktur: Yopi Muharam

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Ke Atas