" > 2 mnt membaca"> Ingin Modis, Tetap Harus Syar’i - Suaka Online
Kampusiana

Ingin Modis, Tetap Harus Syar’i2 mnt membaca

[Suakaonline]-Hoody, pashmina tribal, pashmina chiffon, adalah beberapa model terbaru kerudung hijab yang banyak digandrungi kaum hawa saat ini. Istilah yang sudah tak asing lagi, kita sering menyebutnya kaum hijabers.

 

“Selain pada dasarnya saya pake kerudung, biar gak terkesan monoton aja. Pake kerudungnya gak gitu-gitu saja. Ada variasinya dan mengikuti tren perkembangan zaman,” tutur Euis Siti Hajar, mahasiswi Jurusan Manajemen Keuangan Syari’ah, Selasa (06/11).

 

Sejak pertama kali kemunculan tren hijab booming di Indonesia, selain untuk tujuan ekonomi, ada juga yang tetap mempertahankan syar’i meski dimodifikasi sedemikian rupa. Dengan menggunakan berbagai macam aksesoris, pemakainya tampak lebih gaya dan modis. Sayangnya hal tersebut bukan semata-mata untuk menjalankan kewajiban sebagai muslimah.

 

Hal tersebut diungkapkan oleh Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN SGD Bandung Tri Wahyu Agustina, Selasa (06/11).

 

Tri pun menuturkan, Jika seorang muslimah niat berhijab –terlepas dari benar atau tidak– niatnya tentu akan berimplikasi sesuai niat pada pemakainya. Lantas, bagaimana seharusnya muslimah dalam berhijab, agar mendapat implikasi mulia di hadapan Sang Pencipta.

 

“Tentang menutup aurat atau berjilbab, sebagaimana kita ketahui, itu sudah termaktub dalam Al-Quran Surat Al-Azhab ayat 59, dan An-Nur ayat 31, ungkap Tri.

 

Perkara niat, hal inilah yang juga menjadi poin penting, demi kebaikan muslimah itu sendiri. Menurutnya, ada dua hal yang harus diterapkan para muslimah. Pertama, diniatkan karena Allah. Kedua, caranya harus benar.

 

“Jadi kalo niatnya sekadar ikut-ikutan atau mengikuti mode saja, itu harus diluruskan lagi niatnya. Sayang sekali jadinya. Ingin mendapat pujaan manusia, atau ridho Allah,” tambahnya.

 

Sebagai pengajar yang juga bergiat di organisasi Hizbut Tahrir, Tri menyampaikan pesannya kepada para muslimah. “Tolong kembalikan ke niat semula. Kewajiban menutup aurat itu wajib bagi para muslimah yang sudah akil balig. Meskipun ingin modis, tetep harus syar’i. Batasan aurat jelas, tidak tembus pandang, dan tidak menampakkan punuk unta,” papar Tri.

 

Hal yang tak kalah penting yaitu, ketika menutup aurat harus sinergis dengan sikap dan perilaku. Karena bagaimanapun, itu merupakan cerminan dan membawa peran muslimah yang lain.

 

“Yang paling penting dalam proses berjilbab adalah sejauh mana kesungguhan kita untuk bisa tampil lebih baik lagi. Karena itu pasti jadi legalitas, yang mana kita akan berlama-lama dalam proses itu. Upaya peningkatan diri harus selalu ditingkatkan. Tidak berhenti hanya sampai situ saja. Harus selalu dioptimalkan, tetap disempurnakan, tetap mengkaji ilmu, dan melakukan perbaikan-perbaikan,” pungkas Tri mengakhiri.

 

 

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas