" > 7 mnt membaca"> Islamisasi Tatar Sunda Melalui Kultur dan Struktur - Suaka Online
Opini

Islamisasi Tatar Sunda Melalui Kultur dan Struktur7 mnt membaca

oleh:  Gustav Reynaldi*

 

 

Wacana atau Statement yang berbunyi “Islam itu Sunda dan Sunda itu Islam” tentunya bukan sebuah kalimat yang aneh di telinga kita sebagai masyarakat Jawa Barat (tatar Sunda) yang menganut Islam dalam sanubari, dan cinta akan sejarahbaik tentang keSundaan ataupun tentang keIslamanbangsa dan sukunnya. Adalah upaya untuk mengembalikan kesadaran sejarah kepada masyarakat hari ini yang sudah mulai melupakan siapa bangsanya, bagaimana jati diri bangsanya, dan bagaimana karakter serta dinamika jejak perjalanan hidupnya, sehingga mampu membentuk sebuah peradaban yang utuh dan bertahan hingga hari ini.

 

Ketika mengenal statement di atas maka kita pasti akan teringat kepada sosok salah seorang wali dari Sembilan wali (Wali Sanga) yang menyebarkan Islam di Pulau Jawa, nama wali itu adalah Syekh Syarif Hidayatullah bin Maulana Ishaq Syarif Abdullah yang lebih populer di telinga kita dengan gelar Sunan Gunung Djati. Ketika berbicara Sunan Gunung Djati tentunya ini sangat berkaitan erat dengan statement yang tertera di atas, karena dalam berbagai sumber mengenai Sejarah Islam Tatar Sunda di kisahkan bahwa Sunan Gunung Djati adalah penyebar Islam di Jawa Barat, padahal dalam berbagai macam sumber Sejarah disebutkan (baik dalam buku De Graff, Martin van Bruinessen, Artikel Nina Herlina Lubis, Dadan Wildan, Moeflich Hasbullah, Edi S Ekadjati, Ahmad Mansyur Suryanegara, dll) bahwa Sunan Gunung Djati adalah cucu dari Raden Pamanahrasa yang bergelar Prabu Siliwangi seorang raja dari Pakuan Pajajaran dari anaknya yang bernama Ratu Rarasantang yang menikah dengan Ulama sekaligus seorang saudagar asal Mesir yang bernama Syarif Abdullah.

 

Walaupun dalam retorika perjalanan sejarahnya berakhir dengan manis yaitu 90 % lebih masyarakat Sunda memeluk Islam, akan tetapi tentunya dalam track record nya tak semudah yang kita kira, tentunya banyak halangan, rintangan, dan cobaan yang dihadapi, karena yang beliau lakukan adalah berjuang di jalan Allah dengan metode Syiar dan Syair untuk mengantarkan manusia kepada jalan yang lurus. Seorang Ulama besar tatar Sunda yang lahir pada tanggal 12 Maulid 1448 ini waktu pertama kali beliau berdakwah menyebarkan Islam sejak usia 20 tahun hasil beliau belajar di Mekkah dan Madinah sebagai pusat kosmis umat Islam, beliau menggunakan dua metode untuk mengjewantahkan dakwah Islamiyahnya, yaitu metode kultural dan structural, yang tentunya di sempurnakan pula dengan metodologi dan berbagai macam pendekatan.

 

Metode Kultural

 

Syekh Syarif Hidayatullah adalah seorang ulama yang berbasiskan ajaran Sufi atau Tashawuf , menurut Dadan Wildan, dalam naskah Carita Caruban Purwaka Nagari (CPCN) dan Babad Cirebon edisi Brandes (BC-Br) di ceritakan bahwa Sunan Gunung Djati belajar kepada Najmuddin Al-Kubra, dan kemudian selama dua tahun belajar kepada `Athaillah Al-Iskandari Al-Syadzili di Madinah, menurut Martin van Bruinessen (1999:24) Sunan Gunung Djati tentunya telah menerima ajaran Tarekat Syadziliyyah, Syattariyah, dan Naqsyabandiyah.

 

Dari penjelasan di atas sudah jelas bahwa Sunan Gunung Djati adalah seorang ulama tassawuf, yang mana para penyebar Islam yang beraliran tassawuf selalu mengedepankan metode kultural sebagai langkah awal memulai dakwah Islam. Yang pada intinya me
lepaskan masyarakat dari hukum kasta yang di berlakukan pada periode Pra
Islam yang cenderung elitis dan menguntungkan satu kasta dengan menindas kasta yang terbawah (dalam konteks Jawa dan Sunda).

 

Kecerdasan Sunan Gunung Djati dalam berdakwah dengan metode kultural ini. Beliau mampu masuk kepada lapisan masyarakat bawah yang masih pekat terhadap kepercayaan yang dulu lalu beliau mencari apa yang dibutuhkan masyarakat, kegemaran masyarakat, kebiasaan masyarakat, dan apa problem yang terjadi di masyarakat untuk kemudian di beri solusi (tentunya berdasarkan kepada Al-Qur`an, Sunnah, dan hadits-hadits). Karena pada masa ini masyarakat Sunda banyak yang mengalami masa ketidakpuasan dalam beragama, dan tentunya itu semua menggunakan proses perenungan yang mendalam serta proses filterisasi yang sangat teliti, dan tidak semua orang dapat melakukan hal tersebut.

 

Sebagai bukti bahwa Sunan Gunung Djati bergerak di tataran kultur adalah bagaimana beliau mampu memahami simbol-simbol kosmik sosial dan budaya yang melekat erat sebagai ciri masyarakat Sunda pada masa itu, karena dalam pemahaman masyarakat beragama, pusat kosmis yang merupakan titik temu antara dunia fana dengan alam supranatural memainkan peranan sentral (Bruinessen 1999:42), peranan sentral disini tentunya yang bersifat immaterial seperti ideologi dan faham keagamaan.

 

Untuk simbol kosmis Sunan Gunung Djati menggambarkannya dengan payung sutra berwarna kuning emas dengan hiasan kepala naga pada ujungnya, simbol ini melambangkan semangat perlindungan dari raja terhadap rakyatnya. Tidak hanya itu, Sunan Gunung Djati pun memberikan simbol-simbol yang berasal dari Islam untuk di ajarkan kepada masyarakat, simbol-simbol yang berasal dari Islam ini di bagi kedalam empat tingkatan, yaitu Syariat, Tarekat, Hakekat, dan Marifat. Untuk Syariat dilambangkan dengan wayang, yang mana wayangnya sebagai bentuk perwujudan dari pada Manusia dan dalangnya adalah simbol daripada Allah SWT; Tarekat di simbolkan dengan barong, hakekat di simbolkan dengan topeng; dan marifat disimbolkan dengan Ronggeng (Siddique 1997:79-82). Seperti yang kita tahu bahwa keempat kesenian yang di mengisyaratkan sebagai empat tahapan dalam Islam tadi adalah empat jenis pertunjukan seni masyarakat Jawa (Cirebon).

 

Dalam hal lain Sunan Gunung Djati  dalam hal tradisi dan budaya tetap mewarnainya dengan khasanah Islamiyah, karena dalam tradisi lisan dan budaya masyarakat Jawa dan Sunda selalu memberikan petatah-petitih kepada sanak keluarga atau kerabatnya supaya hidup lebih baik dan menghindari hal-hal buruk, beberapa petatah-petitih Sunan Gunung Djati adalah Ingsun nitip tajug lan fakir miskin (saya menitipkan tajug / masjid dan fakir miskin), yen sembahyang kungsi pucuke panah (jika shalat harus khusu dan tawadhu seperti anak panah), manah den syukur ing Allah (hati harus bersyukur kepada Allah), aja ngaji kejayaan kang ala rautah (jangan belajar untuk kepentingan yang tidak benar atau di salah gunakan) dsb.

 

Metode Struktural

 

Sunan Gunung Djati selain beliau adalah seorang Ulama Sufi, tokoh spiritual, mubaligh, dan dai, beliau juga adalah seorang Sultan di keraton Pakungwati (kasepuhan) sekaligus pendiri kesultanan Islam di Sunda (Cirebon), karena karismanya yang begitu tinggi beliau di beri gelar the propagator of Islam in West Java (Stevens, 1978:80), selama beliau memerintah di kesultanan Cirebon beliau semakin aktif dalam menyebarkan agama Islam. Beliau di angkat menjadi tumenggung oleh uak nya Pangeran Walangsungsang atau Cakrabuana dan di beri gelar Panetep Panatagama Rasul (yang menetapkan dan menata agama yang di bawa oleh kanjeng Rasul) di Jazirah Sunda (Sunardjo, 1983:55-57).

 

Pada masa pemerintahannya dibangunlah Mesjid Agung Sang Cipta Rasa pada tahun 1480, tidak hanya satu mesjid yang di bangun, akan tetapi Sunan Gunung Djati juga mendirikan beberapa mesjid jami dan mesjid agung lainnya di beberapa wilayah di Cirebon, karena Peran strategisnya inilah yang kemudian memberikannya double burdens, dan aktivitas Sunan Gunung Djati sebagai seorang Sultan atau Tumenggung dan juga sebagai Walisanga tentunya beliau lebih memprioritaskan kepada pengembangan ilmu-ilmu agama Islam melalui jalur dakwah dan di tambah dengan pendidikan agama Islam yang berpusat di mesjid tersebut. Karena sebelum beliau di angkat sebagai Sultan pun, beliau juga adalah guru ngaji di Cirebon menggantikan Syekh Idlofi atau Syekh Datuk Kahfi dari Baghdad Iraq yang merupakan guru dari ibunya Nyi Mas Rarasantang dan uak nya Walangsungsang atau pangeran Cakrabuana. Sunan Gunung Djati juga membuat sarana insfrastruktur dan memberlakukan sistem pajak yang tidak memberatkan masyarakat Sunda pada saat itu yang baru saja lepas dari kekuasaan kerajaan pakuan pajajaran.

 

Dari penjelasan diatas kita dapat melihat bagaimana cerdas, berbudi luhur, terampil, bertanggung jawab nya seorang Sunan Gunung Djati dalam melakukan dakwah Islam, karena kegigihannya dalam menegakan agama Allah beliau sampai di beri gelar Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Djati Purba Panetep Panatagama Awliya Allah Kutubid Jaman Khalifatur Rasulullah (Selendraningrat, 1968:16). Dari sini pun kita dapat mengetahui bahwa Islam di terima dengan baik oleh masyarakat Sunda, dan Islam disebarkan secara damai. Karena pada dasarnya Sunan Gunung Djati menggunakan metode yang di terapkan oleh baginda Rasullah Saw, metode tersebut menurut Wiji Saksono (1995:104) mengutip dari Syekh `Ali Mahfudz, tuntunan Rasul bahwa dalam berdakwah harus  di bina atas empat dasar pokok, yaitu al-huluj balaghah (alasan yang jitu), al-asalibul hakimah (suasana kata yang bijaksana dan penuh hikmah), al-adabus samiyah (sopan santun yang mulia) dan as-siyasatul hakimah (siasat yang mulia), tidak hanya Sunan Gunung Djati, semua Wali pun menggunakan metode yang sama.

 

Goresan tinta emas yang digoreskan oleh para peneliti atau Sejarawan dan jejak perjalanan serta perjuangan yang dilakukan oleh Guru Besar kita sebagai umat Muslim Sunda, Sunan Gunung Djati, telah memberikan pesan dan kesan yang sangat berharga bagi kita sebagai generasi penerus beliau, karena berkat beliaulah seluruh Jazirah Sunda dari mulai Cirebon hingga Banten menjadi mayoritas Muslim dan budaya Islam yang kita nikmati hari ini adalah hasil buah tangan beliau, sehingga pada dekade abad 19 munculah statement “Islam itu Sunda dan Sunda itu Islam”. Semoga goresan tinta sejarah yang masih banyak kekurangan ini mampu membangunkan kaum muda Muslim di tatar Sunda akan kebutaannya terhadap sejarah Islam di tatar Sunda dan dapat menginspirasi kaum muda Islam Sunda untuk menjadikan Islam di tatar Sunda menjadi lebih hidup dan semakin hidup. []

 

*Penulis adalah mahasiswa Fakultas Adab dan Humniora Jurusan Sejarah Peradaban Islam UIN SGD Bandung

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas