2 mnt membaca"> Mengenang Peran Mahasiswa Pra-Kemerdekaan, Sang Pemantik Rasa Nasionalisme - Suaka Online
Infografik

Mengenang Peran Mahasiswa Pra-Kemerdekaan, Sang Pemantik Rasa Nasionalisme2 mnt membaca

SUAKAONLINE.COM, Infografis – Berbicara mengenai peran mahasiswa, maka akan erat kaitannya dengan peristiwa Sumpah Pemuda yang melegenda. Ikrar yang berisi cita-cita berdirinya bangsa ini berawal dari lahirnya organisasi dari kalangan priai, yaitu Budi Utomo. Tepat pada 20 Mei 1908, sebuah organisasi yang hadir dari kesadaran dan semangat nasionalisme pada masa itu menjadi pemantik pergerakan-pergerakan mahasiswa berikutnya.

Munculya organisasi-organisasi tersebut menjadi bagian dari babak sejarah yang menghadirkan generasi pembaharu dengan kaum terpelajar sebagai aktor utamanya. Disebut dengan angkatan 08 yang dimotori oleh Budi Utomo, gerakan mahasiswa saat itu memiliki misi membangkitkan kesadaran kebangsaan dan kemanusiaan di masyarakat Indonesia melalui aspek pendidikan, sosial, dan politik.

Hal tersebut pastilah tidak mudah, karena gerakan pemuda kala itu tidak terlepas dari anasir primordialisme; kesukuan, kedaerahan dan agama. Kendati masih memiliki dasar gerakan persatuan dan suasana nasionalisme yang sangat lekat untuk mencapai kemerdekaan dan membentuk sebuah bangsa dan negara.

Pergerakan historis ini dijadikan sebuah rujukan bagi gerakan-gerakan mahasiswa di Indonesia selanjutnya. Bukan tanpa sebab, karena hal ini didasari oleh perubahan situasi politik dari pemerintah kolonial Hindia-Belanda di tahun 1901 yang menganut politik etis atau yang kita kenal dengan politik balas budi.

Sekilas, Politik etis adalah gagasan yang menyatakan bahwasannya pemerintah kolonial Hindia-Belanda memiliki tanggung jawab bagi kesejahteraan masyarakat yang dijajahnya. Mencakup tiga hal pokok yaitu pendidikan, perpindahan penduduk, serta irigasi. Ini menjadi hal yang kontraproduktif, karena Belanda mengira dengan adanya kebijakan tersebut akan menunjukan pemerintahan yang berlandaskan moral sehingga membuat tidak adanya perlawanan dari masyarakat, namun yang terjadi malah sebaliknya.

Salah satu kebijakannya adalah dengan membuka kesempatan pendidikan bagi anak-anak Hindia Belanda terutama dari kalangan atas pribumi untuk bersekolah di lembaga-lembaga yang pada awalnya hanya diperbolehkan bagi orang Belanda dan warga asing. Akhirnya, dari para mahasiswa pribumi inilah timbul kesadaran mengenai kondisi “bangsanya” yang terjajah dan mendorong berbagai pergerakan-pergerakan yang ada.

Untuk mengenang perjuangan Indonesia yang dimotori organisasi Budi Utomo dalam menyatukan keberagaman bangsa, maka diperingatilah tanggal 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Peringatan yang bertepatan dengan hari inilah yang mestinya menjadi sebuah pemantik semangat nasionalisme bagi kita khususnya sebagai “kaum terpelajar”. Sebagai pribumi yang selalu menjaga “kemerdekaan” bangsa dan peka terhadap “penjajahan” dengan permasalahan yang berbeda.

Peneliti: Putri Saiba/Suaka

Sumber : Berbagai sumber

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.