Aspirasi

Pemuda Pancasila dan Humor Warga Internet

Ilustrasi: Silmi Nur Azizah/Suaka

Oleh: Suntara Guci Pangestu

Dalam sejarah Indonesia, organisasi masyarakat Pemuda Pancasila didirikan oleh pentolan petinggi militer yakni A.H. Nasution, A. Yani, dan Gatot Subroto. Pemuda Pancasila hadir bukan tanpa maksud dan tujuan, organisasi ini dibentuk sebagai respon untuk mengimbangi gerak getir Partai Komunis Indonesia (PKI).

Pemuda Pancasila atau disingkat PP, merupakan shadow enemies Partai Komunis Indonesia. Di mana ada intervensi PKI, di sana ada Pemuda Pancasila yang sigap melakukan re-counter untuk mendinamiskan keadaan. Bahkan bisa dibilang, PP merupakan perisai masyarakat dari PKI yang dianggap tidak baik.

Selama mengarungi pelbagai tantangan zaman, Pemuda Pancasila mulai kehilangan fungsi dan perannya di era Reformasi. Berawal dari sayap politik Ikatan Persiapan Kemerdekaan Indonesia (IPKI) sebagai gerakan paramiliter, kini berakhir menjadi serdadu rasa jeruk bahan komedi di Internet.

Sekalipun Pemuda Pancasila kerap digunakan sebagai alat untuk menggenjot elektabilitas, di akar rumput beberapa kadernya sering melakukan aksi inklusiv, chauvanis, hingga tribalis. Di kondisi hari ini, hal tersebut mengantarkan citra Pemuda Pancasila pada situasi abu. Konotasi negatif pada tubuh Pemuda Pancasila ditransformasikan menjadi bahan lelucon untuk mereduksi luka yang terbesit akibat tindakan-tindakannya.

Berita-berita mengenai Pemuda Pancasila pun acap kali bernuansa minor. Mulai dari pengeroyokan anggota kepolisian, bentrokan antar ormas, kericuhan di jalan, pemukulan terhadap prajurit Kopassus, penipuan dan penggelapan, dan kasus lain mewarnai lika-liku perjalanannya di Indonesia.

Menjadi selera humor

Sebagai sebuah organisasi masyarakat, Pemuda Pancasila kerap hadir di segala lini aktivitas masyarakat Indonesia. Di lahan parkir, prasmanan, hajatan, pangkalan, hingga di setiap gedung pelayanan masyarakat bisa ditemui kader PP. Seolah PP siap hadir menemani setiap aktivitas sosial masyarakat bangsa Indonesia.

Wujudnya yang gagah dan tegap berani, sering dimanfaatkan untuk meraup keuntungan dari warga yang lemah. Pemerasan, pemalakan, dan penyumbang kericuhan seolah telah menjadi ciri khas ormas ini. Akibatnya timbul kecemasan dalam diri masyarakat.

Namun di samping ketakutan yang tercipta, Pemuda Pancasila tetap memiliki ruang di hati masyarakat. PP seolah menjadi sebuah bahan lelucon, plesetan, hingga parodi ulah kreativitas warganet. Seperti beberapa ungkapan yang sering muncul di kolom media sosial, “Diam memandang, bergerak mengambil rendang”, “Diam memberikan pelayanan, bergerak meminta uang pembinaan”, “Di saat rendang kudapatkan, di situ hajatanmu kuselamatkan”.

Keresahan warga akan hadirnya Pemuda Pancasila di lingkungan masyarakat, direspon dengan kumpulan komedi praktis dan slogan hebring yang menggelitik. Semakin bertingkah, semakin lucu. Satire dan plesetan dilempar di beranda Facebook, cuitan Twitter, hingga video kader PP dengan sounds lucu di TikTok.

Barangkali memang Pemuda Pancasila merupakan bahan yang cocok untuk komedi di Indonesia. Bahkan secara simbolik, seolah Pemuda Pancasila mampu menstimulus aktivitas kognitif seseorang untuk tertawa. Seperti dalam koridor akun tertentu yang secara spesifik menggunakan orang-orang berseragam sebagai objek komedi.

Teknik-teknik humor dengan Pemuda Pancasila sebagai bahan komedi, meliputi rangkaian bahasa (the humor is ideation), permainan logika (the humor is ideation), dan bentuk (the humor is existensial) yang dipadatkan menjadi kerangka komedi yang utuh. Citra menyeramkan mengenai Pemuda Pancasila terdistorsi oleh serangkaian komedi praktis di Internet. Lagi-lagi emosi masyarakat mampu direkayasa oleh bongkahan-bongkahan humor yang renyah.

Bisa jadi dahulu Pemuda Pancasila dijadikan tangan panjang untuk prospek politik tertentu. Sekarang kondisinya hanya dijadikan bahan guyon orang-orang di media sosial. Padahal setengah abad umur Pemuda Pancasila, memiliki harapan untuk merubah otot menjadi otak. Menatap masa depan cemerlang untuk kemajuan bangsa, segala sektor sosial-ekonomi, pendidikan, hingga agama terwadahi dengan organisasi yang solid.

Semboyan tentang “Sekali Layar Berkembang, Surut Kita Berpantang”, memiliki energi yang positif. Hanya saja dalam realisasi kerap salah sasaran. Beberapa orang memplesetkannya menjadi “Sekali Layar Berkembang, Surut Kita Berpantang Hajatan”. Perhatian masyarakat terhadap Pemuda Pancasila tersentuh dengan rangkaian-rangkaian meme. Citra negatifnya diromantisasi menjadi surplus dopamin yang membanjiri sirkuit otak. Paling tidak untuk saat ini, luka yang diberikan bisa ditertawakan. Gambaran buruk bisa disalurkan menjadi ajang kreativitas.

Di masa depan, bisa jadi Pemuda Pancasila menambahkan fokus baru. Selain lembaga-lembaga formil dalam dunia politik, sosial, dan ekonomi, juga lembaga komedi. Faktanya itu yang berbekas untuk saat ini, di kondisi hari ini. Di dunia Internet, Pemuda Pancasila adalah badut yang menyinari hati masyarakat dalam ruang komedi.

*Penulis merupakan mahasiswa jurusan Sejarah Peradaban Islam semester lima UIN SGD Bandung

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Ke Atas