Pergeseran Nilai Komunikasi

Date:

- Advertisement -

Oleh Bayu Herlambang*

Sepasang fenomena yang dewasa ini menjadi sorot dalam perkembangan zaman tengah berubah menjadi gaya hidup yang digandrungi abad ini. Teknologi dan komunikasi. Keduanya berkolaborasi dengan sangat dinamis dan banyak membuat perubahan yang signifikan bagi banyak orang di dunia. Sifat, pola pikir, bahkan hingga tingkah laku. Tidak dapat dipungkiri komunikasi merupakan salah satu unsur penting yang mendukung bagaimana manusia dapat melangsungkan kehidupan sehari-hari di lingkungan sosialnya. Tanpa komunikasi rasanya nihil manusia dapat bertahan dan  menunaikan eksistensinya.

Komunikasi saat ini berevolusi dengan dukungan teknologi yang terus berkembang dan maju. Segala efisiensi berkomunikasi dapat dijangkau dengan teknologi komunikasi. Tengok saja bagaimana handphone berkembang dan memudahkan gaya berkomunikasi dengan beragam fitur canggihnya, lalu internet yang kini menggeser posisi tuhan bagi banyak urban society yang mobilitasnya begitu membutuhkan fasilitas networking yang kuat. Banyak komunikasi natural yang bergeser dengan hadirnya media virtual yang menjembatani komunikasi saat ini. Banyak yang cenderung tidak peduli dengan bagaimana seharusnya ia melakukan komunikasi secara langsung dan baik karena mengandalkan media komunikasi yang dinilai lebih praktis dan ekonomis.

Padahal esensi komunikasi yang baik adalah bagaimana sebuah pesan tersampaikan dan menimbulkan  feedback secara langsung. Hal ini perlahan mengendap menjadi mental yang ingin serba instant dan mengesampingkan nilai-nilai komunikasi yang baik. Tidak jarang pula malah berubah menjadi sebuah perilaku asosial yang akut. Mereka yang sulit lepas dari teknologi komunikasi lebih menyenangi berkomunikasi dengan dunia virtualnya dibandingkan dengan dunia nyata. Terlebih jejaring sosial kini dapat diakses dengan sangat mudah di genggaman tangan. Komunikasi kini bisa dilakukan Kapan saja dimana saja dan dengan siapa saja.

Porsi komunikasi yang mereka punya untuk berinteraksi secara langsung lebih kecil dibandingkan dengan interaksisi virtual yang dijatahi lebih. Bahkan mereka lebih betah berlama-lama bercengkrama dengan virtualitas dibandingkan dengan  realitas. Sifat acuh tak acuh tumbuh subur beriringan dengan sikap semacam ini. Pergeseran nilai ini diteliti mengarah pada konvergensi komunikasi. Banyak contoh kegiatan komunikasi lain yang dijembatani dan mengandalkan teknologi seperti perkuliahan dengan menggunakan webcam, akad pernikahan dengan menggunakan webcam ataupun komunikasi akad jual beli melalui surat elekronik dan banyak lagi.

Hal ini semakin mempersempit kesempatan interaksi yang efektif. Berkurangnya nilai komunikasi ini pun membawa dampak yang negatif dan beresiko. Namun bukan berarti hal ini hanya berat pada nilai buruknya saja. Kita pun tidak menafikan banyaknya manfaat yang didapat dari hadirnya teknologi komunikasi saat ini. Dua mata pisau yang saling memunggungi ini harus dapat kita sikapi dengan bijaksana. Dimana keseimbangan untuk mengolahnya menjadi lebih baik merupakan kemutlakan begitu pula untuk menghindari unsur negatif dari bergesernya nilai komunikasi yang baik.

Personal yang cerdas semestinya mampu untuk menempatkan dimana pembagian komunikasi ini berada. Ketika suatu hal dapat berjalan dengan begitu baik dengan menggunakan komunikasi dan interaksi langsung maka ia pun adil membaginya. Dan ketika komunikasi langsung sulit dijangkau maka ia menggunakan sarana teknologi komunikasi ini sebagai mediatornya. Jangan sampai mengesampingkan nilai komunikasi sosial yang ada hanya karena alasan klise. Misalnya hanya untuk mengambil suatu barang yang ada di ruangan setelah kita meminta tolong dengan mengirimkan pesan singkat (sms) pada orang di dekat kita. Padahal semuanya bisa kita lakukan dengan komunikasi secara langsung. Ini jelas sangat mengesampingkan nilai kmounikasi yang baik.

Hal ini rentan terjadi dikehidupan sehari-hari kita namun banyak yang menganggapnya sepele dan kurang begitu diperhatikan. Jika sikap seperti ini terus menerus tertanam niscaya pergeseran komunikasi yang baik semakin terkikis. Tidak mustahil jika kelak kita memang tidak membutuhkan komunikasi secara langsung. Semuanya hanya dilakukan via teknologi yang semakin canggih. Individualitas dari masyarakat sosial akan semakin marak. Hingga pada akhirnya komunikasi secara langsung bukan dianggap sebagai salah satu kebutuhan lagi melainkan padanan semata.

Disisi lain internet pun ternyata menyumbangkan dampak buruk dari bergesernya nilai komunikasi ini. Game online yang digilai oleh kebanyakan generasi muda ini menggeser nilai komunikasi sosial. Yang seharusnya anak-anak dibawah umur asyik bermain denga teman sebayanya, memainkan mainan yang nyata namun kini kebnayakan dari mereka memilih pergi bermain game online dan berteman dengan teman virtual yang belum pernah mereka kenal secara langsung.

Maraknya beragam kasus kriminalitas yang berawal dari  situs jejaring sosial pun menandai begitu mirisnya fenomena komunikasi disekitar kita. Ini akan terus terjadi sampai suatu saat kebanyakan dari masyarakat menyadari betapa berharganya berkomunikasi secara langsung dan menghargai proses tersebut sebagai salah satu unsur yang membuat satu sama lain menjadi lebih baik.

*Penulis adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi Jurnalistik UIN SGD Bandung, aktif di Lembaga Pers Mahasiswa SUAKA

Share post:

Popular

Berita Terkait

Ketika Kritik Dibalas Umpatan, Menyoal Etika Komunikasi Presiden Prabowo

Oleh: Adhiim Hafiidh* SUAKAONLINE.COM – Lisan seorang kepala negara bukan...

Surat Pembaca: Ketika Atlet Dibutuhkan untuk Bertanding, Siapa yang Bertanggung Jawab Saat Mereka Cedera?

Oleh: Meyta Azhar Mariska* Prestasi olahraga sering menjadi kebanggaan sebuah...

Takut Bicara di Negeri Sendiri

“Dalam ketidakadilan, diam adalah bentuk persetujuan terhadap penindasan.” Sebuah...

Warisan Perilaku Pejabat Kampus pada Pejabat Mahasiswa

Oleh: Rafi Taufiqurrahman* SUAKAONLINE.COM- Sekelompok orang berdiri gagah di jalanan,...