
SUAKAONLINE.COM – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Awal Bandung menggelar pementasan studi panggung XXXV bertajuk “Semar Gugat” di Aula Abjan Soelaeman, Kampus 1 UIN Bandung, Sabtu (3/6/2023). Naskah “Semar Gugat” merupakan karya Nano Riantiarno yang pertama kali ditulis pada 1995.
“Semar Gugat” mengisahkan tokoh wayang Semar yang merupakan sosok rakyat jelata namun memiliki kedudukan yang setara dengan dewa. Sang pemimpin para dewa, Batara Guru mengubah penampilan Semar menjadi buruk rupa, menurunkannya ke bumi, dan memberinya perintah untuk mengasuh dan menjadi penasihat para Pandawa.
Semar merupakan tokoh yang arif dan bijaksana, nasihatnya selalu diturut kaum Ksatria (dalam hal ini kerajaan Amarta). Namun suatu ketika, kuncung Semar dipotong di depan umum oleh Arjuna dan dijadikannya maskawin untuk Srikandi. Semar merasa terhina, karena dewa sekalipun tidak ada yang berani memegang kuncung rambutnya. Semar pun marah dan pergi ke kahyangan untuk menggugat.
Diadaptasi secara kontekstual, naskah ini diharapkan mampu menghadirkan pertunjukan yang relevan, kreatif, dan menggugah kesadaran penonton terhadap isu-isu sosial dan politik masa kini, sambil menjaga keaslian dan semangat dari naskah aslinya.
Sutradara, Alan Talor menjelaskan, ada tiga kata kunci atau premis yang diangkat dalam versi ini yakni cinta, amarah, dan hasrat. “Kita mengambil tematik kekuasaan cinta yang dikuasai oleh hasrat dan amarah. Naskah sebelumnya yang berjumlah 30 adegan kita kembangkan dengan poin-poin tersebut sehingga akhirnya menjadi 15 adegan,” tuturnya.
Selain itu, pertunjukan Semar Gugat mengadopsi bentuk surealis yang mendobrak realis. Unsur-unsur surealis, seperti imajinasi, perubahan bentuk, dan kejadian tak terduga dimasukkan ke dalam cerita. Naskah ini juga menggabungkan elemen tragedi dan komedi, dirancang untuk memberikan pengalaman emosional yang beragam kepada penonton.
Pemimpin produksi, Sahara Pides menyebutkan studi panggung XXXV merupakan kegiatan puncak dari rangkaian open recruitment Teater Awal. “Kurang lebih untuk durasi prosesnya sekitar 3-4 bulan. Pertama kita mulai dari theater on class dulu, (berisi penjelasan mengenai -red) teori dan elemen-elemen yang ada di teater. Setelah itu lanjutlah kita ke proses studi panggung, (yakni) baca-baca naskah, casting, dan akhirnya pentas,” jelasnya.
Studi panggung tahun ini merupakan pementasan pertama yang dilakukan sepenuhnya secara offline. Tahun sebelumnya dilakukan secara hybrid, atau 50% online dan 50% offline. Sedangkan dua tahun sebelumnya diselenggarakan secara online. Oleh karena itu, studi panggung XXXV menjadi tantangan yang cukup besar bagi Teater Awal Bandung.
Pementasan “Semar Gugat” diadakan selama dua hari, dengan dua sesi per harinya. Dalam satu sesi, Teater Awal menargetkan 150 penonton yang terdiri dari berbagai kelompok. “Kita menargetkan (penonton) dari SMP, SMA, mahasiswa UIN, kelompok teater di UIN, dan juga kelompok teater atau budaya yang ada di luar UIN. Jadi kita enggak terpatok ke mahasiswa UIN saja”, ungkap Sahara.
Di akhir pembahasan Sahara mengungkapkan studi panggung ini bertujuan untuk memberi pengalaman serta pelajaran untuk anggota baru Teater Awal Bandung. Bukan hanya merasakan hasil pementasan, tetapi belajar juga bagaimana rasanya proses persiapan pentas: latihan acting, menata musik, menata kostum, dan berbagai elemen teater lainnya.
Reporter: Mahayuna Gelsha S/Suaka dan Kinanthi Zahra/Suaka
Redaktur: Muhammad Fajar Nurohman/Suaka

