Buletin

Buletin Momentum Edisi Ta’aruf 2001

Buletin Momentum Edisi Ta’aruf 2001

Editorial

Untukmu Mahasiswa

momentum-edisi-taaruf-agustus-2001Seandainya aku tahu, ta’aruf akan begini, … hitam putih sering aku lihat. Tiap awal tahun mataku memang hitam putih. Sampaih kapan mataku akan tetap begini, dalam hati aku bertanya. Rupanya ta’aruf merupakan proses “sakral” tahunan yang tak bisa dilupakan begitu saja.

Memang mahasiswa harus mempersiapkan dirinya untuk mengarungi bahtera ilmu, dunia idealita. Mahasiswa harus siap untuk terjun dan terjerumus dalam kancah “pergerakan” kampus sebagai kiprah intelektualnya. Karena apalah arti ada dan beradanya dikampus ini, bila hanya sebuah nama yang tercoret dalam daftar administrasi.

Kalaulah ada yang lain, masihkah ta’aruf tetap ada?

Hitam putih sebagai upaya menghapuskan kesenjangan sosial, mungkin. Tapi bagiku itu hanyalah sesaat. Karena bagaimanapun penyeragaman menutup mata akan realita perbedaan (pluralisme), mengikis toleransi, empati bahkan menggerogoti kekritisan yang seharusnya menjadi “mantel” mahasiswa.

Siswa, setelah engkau “dibaptis” nanti, orang memanggilmu mahasiswa. Bercerminlah. “Benarkah Aku? Layakkah Aku? Sudahkah aku merdeka? Terbebaskah aku?” atau “masihkah aku terbelenggu?” sampai kapankah aku terpenjara dalam kesendirian, ditanah yang gersang, tandus, dan mati ini?

Janganlah engkau kemudian terpenjara dalam secarik kertas yang dikenal orang sebagai sertifikat. Sebab bila engkau terpatri didalamnya sia-sialah waktumu, selama ta’aruf ini. Kebebasan, kemerdekaan dan kemandirian adalah buah tangan yang harus kau dapatkan dari ta’aruf ini.

Kadang aku menangis, sampai kapan kampus ini sendiri.ditingal pergi priyai-priyai, manusia yang selalu resah dan gelisah menyaksikan ketimpangan dunia, dunia dirinya, dunia lain darinya. Kini aku bangun dari duka ini, dengan secercah harapan, pleita di awal siang. Gairahku seakan lahir kembali, menyambut kehadiranmu wahai tamu agung. Jangan kau nodai, izinkan aku untuk menikmati sisa “hidup”ku bersama gelak tawamu, perjuanganmu dalam menumpas kebatilan kampus ini.

Jadilah engkau sejatinya dirimu. “Inilah aku,” demikian Ali r.a, mengajarkan. Apapun adanya dirimu, engkau adalah engkau, aku tetap aku, tapi kapan kau dan aku bersatu?, berpadu dalam kesatuan, menyatu dalam perjuangan.

Untuk kawanku, bunga-bunga kampus. Selamat datang senyum manis untukmu. Angin bertiup kencang, perhelatan dalam jalinan kawanmu segera menyapa, mempesona, namun jangan terpedaya. Baju haruslah ganti, muka harus dicuci, tapi ingatlah harga diri. Kau akan layu, kalau mau, jadilah engkau bunga di belantara, janga kau jadi bunga ditaman bunga yang dihisap sembarangan kumbang, apalagi jangan sampai kau jadi bunga di pasar bunga.

Kini, harapan terbantang, hijau menghampar di depan mata. Kemana kita akan melangkah, senantiasa ia memayungi kita. apapun yang kita lakukan niscaya ia berharap untuk selamanya tetap begitu, dan senantiasa bermetamorfosa sepanjang zaman. Dialah kampus kita, IAIN tercinta. Selamat datang kawan, selamat berjuang! [Redaksi]

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas