Advertorial

Gelar Diskusi Jilid Tiga, Tanya Sejarah Bahas Kekerasan Seksual

Dok. Tanya Sejarah

SUAKAONLINE.COM –  Komunitas Tanya Sejarah menggelar diskusi Majelis Cibiru (Cinta Nabi dan Rasul) jilid tiga dengan mengusung topik pembahasan “Pandangan Sirah dan Sosiologi terhadap Fenomena Kejahatan Seksual” via Zoom Meeting pada Selasa (25/01/2022). Acara tersebut ini dihadiri oleh 89 peserta dan dengan dua pemateri yaitu Dosen Sosilologi UIN SGD Bandung, Dede Syarif dan Mahasiswa Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia, Muhammad Irham.

Ketua pelaksana diskusi Majelis Cibiru, Niko Prayoga menjelaskan acara ini bertujuan untuk membumikan perspektif sirah nabawiyah yang selalu relevan dengan keadaan sekarang. “Tujuan dari adanya diskusi tersebut untuk mengkaji pandangan sosiologi dan sirah nabawiyah terhadap fenomena kejahatan seksual, serta menghadirkan point solusi atas fenomena kejahatan seksual yang terjadi,” jelas Niko saat diwawancara melalui WhatsApp, Rabu (26/1/2022).

Diskusi Majelis Cibiru jilid tiga ini dimulai dengan pembukaan, pembacaan Al-Quran kemudian dilanjut dengan pemaparan materi. Dede Syarif selaku pemateri pertama mengangkat isu tentang kekerasan sosial dilihat dari sudut pandang sosiologis. Sedangkan Muhammad Irham lebih memfokuskan materi tentang kekerasan seksual yang terjadi di masa Nabi Muhammad SAW.

Materi yang disampaikan oleh kedua pemateri kali ini disesuaikan dengan tema yang ada. Selain itu, materi yang dibawakan juga dibuat sesingkat mungkin. Karena tujuan acara ini adalah diskusi yang membuka pandangan seluruh peserta mengenai isu kekerasan seksual dari sudut pandang sosiologi maupun sejarah.

Dede Syarif menjelaskan alasan mengenai mengapa sering terjadi kekerasan seksual di lingkungan orang berpendidikan. “Secara logika dalam persepsi masyarakat, lingkungan pendidikan adalah suatu tempat yang suci sehingga secara asumsi masyarakat akan tidak percaya bila ada suatu berita yang buruk di lembaga pendidikan. Oleh karenanya para pelaku berlindung dibalik asumsi masyarakat tersebut sehingga kita harus memperbaiki asumsi kita tentang lembaga pendidikan,” papar Dede.

Muncul pertanyaan dari salah satu peserta tentang cara generasi milenial bisa mengimplementasikan nilai-nilai kenabian dalam menghadapi kekerasan seksual yang terjadi. Hal tersebut dijawab oleh Muhammad Irham. Ia menjelaskan dengan cara mengambil nilai-nilai kenabian tersebut lalu menyebarluaskannya seiring perubahan zaman.

“Kita meneladani Rasulullah SAW lalu menyampaikannya dengan cara milenial. Sehingga dapat membumikan nilai-nilai dalam sirah nabawiyah dengan memanfaatkan segala yang kita miliki. Serta perlu ada evaluasi setelah melemparkan nilai-nilai tersebut kepada publik. Apakah mereka menerima ataukah tidak? Apakah caranya sudah betul ataukah tidak?,” pungkasnya.

Reporter         : Dheny Puspitasari

Redaktur        : Fuad Mutashim

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas